Jumat, 05 Mei 2017

IPNU Ala Kiai Wahid Hasyim


Janggal rasanya membaca judul di atas. IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) baru didirikan pada 24 Februari 1954 oleh Tolchah Mansoer dan kawan-kawan. Sedangkan Kiai Wahid Hasyim sendiri telah berpulang keharibaan Sang Pencipta hampir setahun sebelumnya, 19 April 1953.
Akan tetapi, secara esensial, IPNU yang menjadi wadah organisasi dan pergerakan kaum terpelajar yang tidak hanya dimonopoli anak sekolahan, tapi juga mengakomodir kaum santri, telah jauh diteladankan oleh putra pertama Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari tersebut.
Pada 1934, Kiai Wahid baru saja pulang dari Mekkah. Ia menuntaskan pengembaraannya menuntut ilmu di tempat Islam pertama kali diturunkan tersebut. Sebagai anak muda (20 tahun) dan memiliki basis keilmuan yang luas, membuat semangatnya meletup-letup untuk melakukan perubahan di tengah kungkungan kolonialisme.
Di tengah gemuruh semangat dan gerak zaman, Abdul Wahid muda melakukan serangkaian upaya untuk berkontribusi mengubah nasib bangsa. Selain mendirikan Madrasah Nidzimiyah, Wahid pun mendirikan Ikatan Pelajar-Pelajar Islam (IKPI) pada tahun 1936. Tidak hanya pelajar madrasah dan sekolah yang tertarik untuk ikut, tapi para santri pun turut bergabung dalam organisasi kepelajaran tersebut.
Dalam waktu yang tak lampau lama, IKPI telah beranggotakan 300 orang lebih. IKPI, demikian keinginan Kiai Wahid, menjadi wadah kaum muda Islam untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapannya serta kemampuan organisatorisnya. Dimana, kala itu, amat langka sekali, organisasi kepelajaran yang berbasis Islam. Terlebih bagi kalangan Islam Pesantren.
Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, Kiai Wahid bersama IKPI merintis bibliotek alias taman baca. Untuk ukuran saat itu, bibliotek yang didirikan IKPI ini luar biasa. Tidak kurang ada 500 buku yang menjadi koleksi taman baca tersebut. Tidak sebatas bacaan keagamaan, namun berbagai referensi lainnya juga disediakan. Literaturnya pun terdiri dari beragam bahasa, dari Melayu, Jawa, Madura dan Sunda. Ada juga yang berbahasa Arab, Belanda dan juga Inggris.
Saban hari, banyak anggota IKPI yang berebut membaca koleksi bibliotek tersebut. Mereka seolah ingin menjadi yang pertama dalam membaca literatur yang tersedia. Visi Kiai Wahid dalam memperkuat basis pengetahuan para pelajar Islam ini dengan memperluas akses bacaan tidak hanya berhenti di bibliotek. Mereka juga dibiasakan berlangganan dengan berbagai surat kabar dan majalah. Mulai dari harian Matahari, Suara Umum, Sin Tit Po, dan Pejuang. Ada pula yang mingguan seperti halnya Pedoman Masyarakat, Panji Islam, Panji Pustaka, Pustaka Timur, Adil dan Pesat. Selain itu ada yang tengah bulanan macam Berita NU, Dunia Pengalaman, Lukisan Pujangga, Cendrawasih, Islam Bergerak, Pujangga Baharu, Al-Fatah, Kemudi, Seruan Pemuda dan banyak lagi lainnya.
Dari berbagai surat kabar yang menjadi langganan IKPI, menandakan keterbukaan Kiai Wahid dalam menerima pemikiran. Ia tak ingin para pelajar Islam (Pesantren) hanya memiliki pengetahuan terbatas dan terkungkung dalam fanatisme buta. Perbandingan pemikiran yang dikenalkan melalui beragam bacaan yang lintas ideologi itu, menunjukkan visi Kiai Wahid, bahwa anak muda terpelajar harus memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Tak hanya pengetahuan sepihak yang pada akhirnya berbuntut fanatisme dan radikalisme.
Selain itu, upaya Kiai Wahid membawa IKPI dalam khazanah literasi yang warna-warni itu, tersirat keinginan untuk mensejajarkan pesantren dengan institusi pendidikan sekuler yang diinisiasi Belanda kala itu. Biasanya, hanya kalangan pelajar alumni HIS, MULO dan sejenisnya saja yang berlangganan surat kabar yang berbahasa Asing. Tapi dengan IKPI, kalangan madrasah dan pesantren pun melakukan hal yang sama.
Tentu saja, gagasan Kiai Wahid dengan IKPI-nya tersebut tergolong progresif di masanya. Dari sinilah kelak banyak alumnus Pesantren Tebuireng yang mungkin saja alumni IKPI, di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh di daerahnya masing-masing yang berkontribusi besar bagi NU maupun Indonesia.
Dari upaya Kiai Wahid Hasyim dengan IKPI-nya tersebut, benar-benar memberikan teladan bagi kita, pelajar-pelajar muda NU yang tergabung di IPNU (dan juga IPPNU). Setidaknya ada dua hal penting yang patut kita renungkan.  Pertama, progresifitas, dimana anak muda selalu identik dengan semangat, inovasi dan keberanian untuk mencoba. Dengan karakteristik yang demikian, tak jarang melahirkan aksi-aksi progresif yang dirintis oleh anak muda. Banyak pesantren kala itu yang menutup diri dari perkembangan zaman dan informasi non-keagamaan, tapi hal itu didobrak oleh Kiai Wahid dengan Madrasah Nidzamiyah dan IKPI-nya. Bukankah hal ini bentuk dari progresifitas tersebut?
Kedua, berpikiran terbuka. Semangat membaca yang ditularkan oleh Kiai Wahid di IKPI tersebut sebenarnya adalah ejawantah dari keterbukaan pemikirannya. Ia tak ingin pelajar yang tergabung dalam IKPI tersandera dalam dogma. Terpenjara dalam tafsir tunggal dan monopoli pengetahuan. Oleh Kiai Wahid, cakrawala pemikiran benar-benar dibuka seluas-luasnya. Dengan demikian, mereka bisa memilih sekaligus menunjukkan yang benar itu benar, yang salah itu salah.
Hal tersebut, seperti diakui sendiri oleh Kiai Wahid dalam artikel “Mengapa SayaMemilih NU?”. Sebagai putra pendiri Nahdlatul Ulama, Kiai Wahid tidak ingin terjebakdalam ber-NU yang sekedar kultural, apalagi hanya karena keturunan. Tapi, ia inginber-NU secara rasional, mantap dan meyakinkan. Dari pencariannya selama empat tahun,Kiai Wahid akhirnya memilih NU. Dan, ia menjadi NU yang kaffah. Hal ini tak lainefek dari keterbukaan pemikiran yang menjadi prinsipnya.
So, tak ada kata lain bagi kita yang mengaku mengidolakan Kiai Wahid, selain dengan mantap mengucapkan “tabiq”, seperti halnya kita memekik “Belajar, Berjuang, Bertaqwa!”

ipnu.or.id

Kamis, 04 Mei 2017

KH Ma'ruf Amin (Rais Am PBNU) , Sosok Ahli Fiqih Terampil


Langkah kakinya pendek-pendek. Tatapan matanya sering ke arah depan. Jarang menunduk dan menengadah. Selalu tampak tersenyum. Egaliter dan dialogis. Tak menonjolkan diri sebagai tokoh penting di organisasi massa Islam terbesar negeri ini. Itulah KH Ma'ruf Amin.

Kiai Ma'ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma'ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.

Namun, dalam konteks NU, tak seperti para Rais Aam PBNU sebelum-sebelumnya yang semuanya tinggal di daerah, Kiai Ma'ruf tinggal di jantung ibu kota negara, Jakarta. Karena itu, ia mudah diakses oleh media. Ia bisa diwawancara kapan saja. Terlebih beliau ngantor hampir tiap hari; Senin-Selasa di Kantor MUI, Rabu-Kamis di kantor PBNU.

Penting diketahui, Kiai Ma'ruf ini bukan tipe kiai yang suka berdiri di belakang sebagai penjaga gawang. Jika diperlukan, beliau tak ragu maju ke depan, memimpin "serangan". Ini karena beliau mengerti arah mata angin. Hampir separuh usianya memang dihabiskan di dunia politik. Pernah menjadi anggota lembaga legislatif, dari tingkat bawah hingga pusat.

Aktivitasnya di ranah politik praktis ini yang menyebabkan sebagian orang lupa bahwa Kiai Ma’ruf adalah seorang ahli fikih yang terampil. Para pelajar Islam belakangan tampaknya jarang mendengar noktah-noktah pemikiran keislamannya yang brilian. Padahal, hemat penulis, jika mau ditelusuri jejak akademiknya, Kiai Ma'ruf ini memiliki peran cukup signifikan dalam meletakkan fondasi pembaharuan pemikiran Islam terutama dalam NU.

Dulu ketika NU diserang sebagai organisasi tempat berhimpunnya para muqallid, Kiai Ma'ruf bersama para koleganya seperti Kiai Sahal, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Imron Hamzah, dan Kiai Wahid Zaini membuat sejumlah terobosan penting. Salah satunya adalah dibukanya pintu istinbath dan ilhaq dalam tubuh NU. Ini sudah dikukuhkan dalam keputusan Munas NU di Lampung, 21-25 Januari 1992.

Saat itu resistensi dari sejumlah kiai bermunculan. Menurut para kiai yang kontra, kerja istinbath dan ilhaq itu adalah kerja akademik para mujtahid seperti para imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad ibn Hanbal) atau sekurangnya para ulama madzhab setingkat Imam Nawawi dan Imam Rofi'i. Dan menurut mereka, di NU hingga sekarang tak ada kiai yang memenuhi kualifikasi sebagai mujtahid. Karena itu, tawaran istinbath dan ilhaq itu tak relevan bagi NU.

Penolakan itu terus menggema, dari dulu bahkan hingga sekarang. Tapi tak ada langkah mundur dari Kiai Ma'ruf dkk. Sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian. Hingga pidatonya dalam harlah NU ke 91 kemarin, Kiai Ma'ruf masih menegaskan posisi akademik yang sama, yaitu penampikannya pada tekstualisme dan kejumudan dalam berpikir.

Mengutip Imam al-Qarafi, Kiai Ma'ruf menegaskan bahwa stagnan pada bunyi-harafiah teks Islam tidak memadai untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan hari ini. Al-Qarafi berkata, al-jumud 'alal manqulat dhalalun fi al din. Lebih bermasalah lagi, demikian Kiai Ma’ruf, adalah tekstualisme dalam memahami teks-teks keagamaan seperti dalam Kitab Kuning.

Sejak awal 90-an hingga sekarang, Kiai Ma’ruf istiqomah berkampanye tentang pentingnya memahami kitab kuning secara kontekstual, yaitu usaha untuk memahami teks kitab kuning lengkap dengan memahami konteks ketika teks itu disusun oleh pengarangnya.

Tak hanya itu. Seperti umumnya para pembaharu Islam lain, Kiai Ma'ruf pun mengusung ide kemaslahatan. Sebuah adagium yang potensial menghambat pendaratan kemaslahatan dan menahan laju dinamisasi pemikiran Islam secara umum coba dimodifikasi oleh Kiai Ma'ruf. Adagium itu di antaranya berbunyi, al-muhafadhah 'alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Kaidah ini sesungguhnya menuntut adanya keseimbangan antara merawat tradisi dan upaya inovasi. Namun, dalam implementasinya, bobot merawat tradisi lebih besar sehingga porsi untuk melakukan inovasi pemikiran kurang memadai.

Dari segi substansi, kaidah itu tentu tak bermasalah. Bahkan sangat baik. Namun, menurut Kiai Ma’ruf, kaidah itu perlu dilengkapi. Kiai Ma'ruf menawarkan modifikasi kaidah itu demikian, al-muhafadhah 'alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah.

Poinnya, menurut Kiai Ma’ruf, kemaslahatan itu harus selalu ditinjau ulang. Sebab, “boleh jadi sesuatu dipandang maslahat hari ini, dua tiga tahun lagi sudah tidak maslahat lagi”, tandas Kiai Ma’ruf. Karena itu, penelusuran pada ditemukannya puncak kemaslahatan adalah kerja akademik yang perlu terus menerus dilakukan.

Tapi, sebagaimana para pemikir Islam lain, Kiai Ma’ruf tak membuka aktivitas istinbath pada ranah ibadah. Urusan ibadah, beliau pasrah. Sementara di ranah mu’amalah termasuk siyasah, Kiai Ma’ruf terus melakukan eksplorasi dan inovasi-inovasi pemikiran. Semoga sehat selalu, Kiai.

KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

Rabu, 03 Mei 2017

Perlunya Metodelogi Pemeliharaan Ranting


Solusi permasalahn kaderisasi pada tingkatan ranting sangat mendesak untuk segera diselesaikan. Ranting sebagai ujung tombak organisasi memperlukan penanganan serius karena perjungan sesungguhnya hanya tersaji pada kepengurusan tingkat ranting, bagaimana merekrut kader, berhadapan langsung dengan masa, lingkungan yang tidak ramah terhadap organisasi sampai problema tidak adanya kader yang mau jadi ketua ranting. Hal ini sering terjadi karena dinilai kurangnya daya tawar yang cukup bagus , ketua juga identik dengan sebuah kutukan. Artinya seorang ketua ranting hanya orang-orang yang “teraniyaya” yang terpaksa menjadi ketua karena tidak mampu mengelak saat “ditembak” menjadi ketua, dan memang begitu realitas keseharian di ranting rating di Kabupaten Pekalongan.
Untuk itu diperlukan solusi cerdas dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, karena memang disadari menyusutnya kader terjadi paling drastris angka depresinya pada tingkatan ranting. Inilah yang disebut sebagai perjuangan sesungguhnya.
Problematika yang acapkali mengitari IPNU ditingkatan ranting yang sering di jumpai:
Pertama; iklim tidak kondusif dalam berorganisasi. Umumnya kader pada tingkatan ranting adalah pemula, sehingga rata-rata usia kader adala masa-masa sekolah. Di sinilah permasalah muncul, pada satu sisi mereka di untungkan karena lebih bisa bekerja tanpa terbebani kebutuhan hidup. Pada sisi lain mereka terbatas pada finansial, sehingga sering menemui kendala pada iuran rutin. Sampai untuk pertemuan rutin saja  kadang terkendala trasportasi.
                Kedua; faktor kultur yang kurang mendukung. Beberapa ranting di wilayah Kabupaten Pekalongan tidak di untungkan dengan kodisi sosio-geografis dan tata masyarakat di wilayah mereka. Budaya tradisional dan kekeluargaan kurang memberi tempat yang pas bagi terbentuknya tertib organisasi yang baik. Sehingga pada kondisi IPNU di ranting –ranting hanya terkesan seadanya, perangkat organisasi yang kurang teratur, administrasi bagaimana nanti,  dan menejemen lillahi taála
                Ketiga; Transfer pengkaderan dan kempepinan yang gagal. Untuk beberapa hal, akan lebih mudah menagani organisasi dengan mengandalkan orang orang dekat dan kita percaya. Beberapa ranting dan anak cabang menerapkan hal yang sama, karena beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya berhubungan, maka beberapa ranting dan anak cabang  lebih suka menangani program kerja dengan “tim” mereka sendiri daripada bekerjasama dengan dengan “orang lain” yang kadang tidak terbiasa dengan pola kerja. Alih alih membantu malah lebih membebani sehingga membahayakan kepengurusan.
                Empat; kebijakan kembali ke sekolah. Pasca keputusan kongres Surabaya 2003, seluruh elemen kader mulai tingkatan atas sampai bawah nyaris semuanya larut dalam euforia perubahan setelah palu sidang di ketok untuk mengganti akronim “P”dari putra ke pelajar sehingga membuat gelombang “kepelajaran” menentang hampir seluruh ideologi dan cara berpikir kader,  bagaimana mengembalikan IPNU menjadi organisasi pelajar, menjadikan kader sebagai insan terpelajar dan mengupayakan IPNU sebagai second school.
                Di butuhkan metodologi maupun petunjuk teknis atau apalah namanya yang merupakan teknis cara menghidupkan ranting dan memperbanyak kader. Selama ini hal hal seperti itu memang luput dari perhatian pimpinan pusat. Padahal ini sedemikian seriusnya sampai mengancam eksistensi KeIPNUan. Berbagai alasan dikemukakan berkaitan tidak adanya metodologi tersebut. Yang paling sering dikemukakan adalah mengenai alasan kultur, tipologi masyarakat yang berbeda sehingga memperlukan penanganan yang tak sama sehingga urusan teknik menghidupkan ranting diserahkan sesui kultur masing-masing daerah. Kadang satu metode sukses diterapkan di suatu ranting tetapi ketika di terapkan pada ranting yang lain justru malah gagal. Nah inilah memang menjadi faktor kesekian sulitnya pengkaderan.
Minimal diperlukan standar baku hanya sebatas acuan bagai ranting yang baru khususnya sebagai pedoman contoh dalam hal teknis untuk melestariakn Rantingnya. Memang sepintas terlihat sepele tapi justru ini yang menjadi kebutuhan beberapa pengurus yang pusing menghadapi hengkangnya kader, minimnya peserta Makesta, Lakmud maupun mandeknya kegiatan rutinan dan sebagainya.

Ahmad Ardabili


Rekrutmen Kader Paninggaran

       

Tidak semua putra putri nahdliyin mempunyai minat yang besar terhadap kehidupan berorganisasi, hal ini di sebabkan karena beberapa faktor seperti hal nya orang tua, pendidikan, lingkungan, minat bakat dan lain sebagainya. Karenanya rekrutmen kader sangatlah di perlukan sekali, seperti hal nya yang di lakukan oleh Pimpinan Anak Cabang Kecamatan Paninggaran yang melaksanakan kegiatan Turba(Turun Bawah). Ini menjadi salah satu cara rekrutmen dari pengurus dengan terjun langsung ke masyarakat dalam proses mencari, menemukan, mengajak, menetapkan sejumlah orang sebagai calon anggota.

 Dan alhamdulillah hal ini membuahkan hasil karna pada tanggal 01 Mei 2017 telah terlantik Pimpinan Ranting Desa Werdi yang dilantik langsung oleh Pimpinan Cabang IPNU rekan Murtadho dan Pimpinan Cabang IPPNU Kabupaten Pekalongan Rekanita Washilatul Fadhlilah dan di hadiri  rekan rekanita IPNU-IPPNU se-Kecamatan Paninggaran. Kegiatan ini sekaligus menjadi kegiatan pra MAKESTA yang akan di laksanakan oleh Pimpinan Anak Cabang kedepan,karena MAKESTA merupakan jenjang awal dalam sistem kaderisasi IPNU IPPNU.

 Kemudian yang di harapkan dari pengurus PAC IPNU IPPNU Kecamatan Paninggaran kepada tokoh masyarakt maupun dari masyarakatnya sendiri untuk memeberikan pengawasan, pendampingan, pengarahan, dan bimbingan yang bersifat memberdayakan anggota dan kader. Dari pengurus PAC IPNU IPPNU Kecamatan Paninggarn juga sangat mrngapresiasi atas apa yang telah di samapaikan oleh Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama Desa Werdi yang sangat mendukung ,memotivasi,dan mendoakan dengan terbentuknya Pimpinan Ranting IPNU IPPNU di Desa Werdi.

 Kemeriahan dan kerahatan semakin bertambah dengan di hadirinya jamiyah maulid simthudduror se-Kecamatan Paninggaran,pada malam hari setelah pelantikan selesai.hal ini mengingatkan bahwa adanya jamiyah tersebut berawal dari oraganisasi IPNU yang ada di Kecamatan Paninggaran.

Contributor : Untung Mualif


 Aji Lukmana 

Selasa, 02 Mei 2017

Peserta Latihan Kader Utama



DAFTAR PESERTA LAKUT
No.
NAMA
DELEGASI
1
AGUS FIKIYANI
PAC BUARAN
2
AHMAD ZIDNI ILMAN
PAC WONOPRINGGO
3
ANDI PURNOMO
PAC TIRTO
4
IFFAH KARIMA
PAC WIRADESA
5
INDAH RAHMAWATI
PAC WIRADESA
6
KHOIRUDIN
PAC TIRTO
7
KHOIRUL AMIN
PAC KEDUNGWUNI
8
KHOIRUL ANWAR
PAC TIRTO
9
KHOIRUL RISQI H
PAC TIRTO
10
M. RIZA FAHMI
PAC WIRADESA
11
M. ZAHRODIN
PAC WIRADESA
12
MEGAWATI
PAC KEDUNGWUNI
13
MEGAWATI UTAMI
PAC KARANGANYAR
14
MUHAMMAD ROSYADI
PAC WIRADESA
15
MUSYAFA
PAC TIRTO
16
MUSTHOHIROH
PAC KEDUNGWUNI
17
NAILA AFLAKHATUL AZKIA
PAC KAJEN
18
NUR FAUZIYAH
PAC WONOPRINGGO
19
NUR KUMALA
PAC TIRTO
20
NUR SAADAH
PAC BUARAN
21
NUR SURYA ADITAMA
PAC SRAGI
22
NURUL YUSUF
PAC KEDUNGWUNI
23
RETNO WATI
PAC KARANGANYAR
24
TRI YULI RISKAYANI
PAC WIRADESA
25
TUTIK MAULIDA
PAC TIRTO
26
WAHIDATUL MAGHFIROH
PAC WONOKERTO
27
LIA RIFATUL AZMI
PAC TIRTO
28
NUR IZZATUL MILAH
PC KOTA TEGAL
29
FAUZI MUSTOFA
PC KOTA PEKALONGAN
30
AYU KARTIKA DEWI
PC KOTA TEGAL





























NB :
KELULUSAN PESERTA DITENTUKAN BERDASARKAN:
1.        Pengkaderan (sudah MAKESTA dan LAKMUD)
2.       Presentase Kehadiran SKB
3.       Nilai Screening
4.    Technical  Metting
                       Tempat  : Gedung NU Kab Pekalongan
                        Waktu  : 15.00 - selesai
                        Hari/tgl: Sabtu, 06 Mei 2017


Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...