Kamis, 28 September 2017

Antusiasme Peserta Makesta Boejang Telon Ke – IV


Suatu keharusan bagi sebuah organisasi untuk melakukan perekrutan / pengkaderan anggota baru, untuk keberlangsungan organisasi itu sendiri, seperti halnya di organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) , NU menjaring kader dari tingkat ranting/desa melalui badan otonomnya salah satunya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), dari IPNU dan IPPNU lah pendidikan bersosial organisasi mulai di kenalkan kepada muda mudi usia pelajar, mulai dari masa pengenalan melalui program Binaan Sehari (Binari) yang selanjutnya adalah perekrutan dengan program Masa Kesetiaan Anggota atau yang disebut Makesta dan pengkaderan tingkat lanjut lainnya.
Kali ini tepat dengan tahun baru Islam 1439 hijriyah. Gabungan empat Pimpinan Ranting IPNU IPPNU di Kecamatan Kedungwuni yakni Ranting Ambokembang, Pekajangan, Tangkil Tengah, Tangkil Kulon mengadakan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) yang Ke Empat kalinya atau angkatan ke IV, yang dikenal dengan MAKESTA BOEJANG TELON dari kependekan ke empat ranting tersebut, kegiatan dimulai dengan pembukaan pada hari rabu (20/09) pukul 14.00 dan dibuka oleh Bapak Kepala Desa Ambokembang Bapak Jumhan Talam sekaligus penyemat tanda peserta.
Dengan mengusung tema “Mencetak Kader IPNU – IPPNU Yang berjiwa Aswaja” Kegiatan ini diikuti oleh 80 peserta termasuk jumlah yang mengagumkan untuk pengkaderan ditingkat ranting, peserta yang selama tiga hari dua malam berada di MI Walisongo 01 Ambokembang akan mendapat pengetahuan tentang ke-Aswaja-an, ke-NU-an, Ke-IPNU IPPNU-an, Ke-CBP KPP-an, Administrasi dan Kepemimpinan dengan pemateri yang berkompeten dalam bidangnya.
“Menggelar MAKESTA itu perlu sekali karena sebagai jembatan awal para kader” terang ketua IPPNU Ranting Ambokembang Rekanita Rina Fatima “Diharapkan setelah mengikuti MAKESTA, kader bisa berkonstribusi kepada IPNU IPPNU khususnya diranah ranting dan bisa mengajarkan kepada adik-adiknya serta kepada rekan/rekanita yang belum makesta.”imbuhnya.
Acara pembaiatan berlangsung pada pukul 03.00 WIB hari Jum’at dan kegiatan berakhir pukul 08.00 WIB dihari itu juga setelah rapat tindak lanjut.

L.Pers PAC IPNU IPPNU Kedungwuni

Rabu, 27 September 2017

Tiga Ranting Siapkan Kader Yang Berintergritas


Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Dadirejo Timur, Dadirejo Barat, dan KarangJompo Kecamatan Tirto Mengadakan Makesta Gabungan. Kegiatan ini berlangsung sejak hari kamis Pagi  (21/9) sampai hari sabtu (23/9) bertempat di TK Muslimat NU Dadirejo. Dan dihadiri Oleh tamu undangan baik dari Banom NU ataupun Ranting IPNU IPPNU desa Tetangga. Dan dibuka secara langsung Oleh perwakilan Pimpinan Anak Cabang Tirto.
Jumlah Peserta sebanyak 58 dari 3 Ranting. Ke 58 peserta telah resmi di Baiat Oleh Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan pada pukul 03.00 Wib. Peserta IPNU di baiat oleh Rekan M.S Mubin dan Peserta IPPNU dibaiat Oleh Rekanita Wasilatul Fadlillah. Kegiatan ini mengambil tema “Membentuk Pelajar NU yang berintegritas,Berakhlak Mulia serta Berjiwa Kebangsaan yang berlandaskan ASWAJA”.
Dengan di adakannya Makesta ini di harapkan mampu memotivasi Para Kader Muda untuk Menegakkan ajaran islam Aswaja, seperti yang telah di utarakan oleh Chalimatus Sa’diyah (Ketua Panitia) “Bahwa makesta ini diselenggarakan bukan hanya untuk formalitas saja atau penggugur program kerja, akan tetapi kegiatan makesta ini memiliki tujuan yang jelas yaitu sesuai yang tercantum dalam tema Kegiatan ini”.
“Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk memotivasi kader-kader muda untuk menegakkan ajaran islam ala Ahlussunah Waljamaah dibawah naungan Organisasi IPNU-IPPNU” Sambung Rekanita Chalimatus Sa’diyah. Makesta  Gabungan 3 Ranting ini merupakan makesta terakhir dari 8 kelompok yang di selenggarakan di Kecamatan Tirto.
Kegiatan ini ada 7 Materi yang di sampaikan kepada para Peserta, salah satunya yaitu materi Bela Negara oleh Koramil Tirto. Salah satu agenda pada Makesta ini adalah dengan adanya Ziarah Ke Makam ulama di desa Dadirejo yaitu mbah Karim yang di laksanakan pada Kamis Sore. Rangkaian kegiatan Makesta di Tutup dengan RTL dan Pembagian hadiah untuk para peserta Terbaik.


Kontributor : Khairul Anwar

Selasa, 26 September 2017

Tahun Baru Anggota Baru


Selain ditingkat ranting perekrutan anggota juga perlu dilakukan dalam lingkungan sekolah atau tingkat Pimpinan Komisariat (PK), khususnya pada sekolah didalam naungan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU, untuk menjaring kader kader yang siap untuk berorganisasi dalam masyarakat melalui Makesta.


Kali ini Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kedungwuni mengggelar Makesta Raya Khusus untuk Pimpinan Komisariat (PK) Tingkat SMP/MTs Se-Kecamatan Kedungwuni, bertempat di MASS Proto kegiatan dimulai pada hari Rabu (20/09) pukul 16.00 WIB, dihadiri oleh PC IPNU, PC IPPNU , PAC Muslimat , PAC Fatayat dan Pengurus NU setempat yang sekaligus membuka serta penyematan tanda peserta oleh Ibu Bintan Mewakili PAC Muslimat Kec. Kedungwuni sebagai tanda kegiatan Makesta Raya dimulai.


Tema pelajar NU, cinta NU mngilhami bahwa selayaknya anak yg belajar dibawah sekolah naungan LP maarif NU untuk ditumbuhkan rasa cinta NU dimulai dengan mengikut Makesta. Kegiatan Makesta Raya PK se-kecamatan Kedungwuni juga dibagian dari memeriahkan acara harlah LP Ma’arif tanggal 16 September yang ke - 88, Sembari memperingati harlah LP Ma’arif NU dan tahun baru islam 1439 H, tidak lupa disempatkan juga doa akhir dan awal tahun.


"Sebagai salah satu organisasi kepemudaan dan keterpelajaran sudah selayaknya IPNU IPPNU merangkul pelajar yang benar benar belajar dibangku sekolah , dengan harapan melalui Makesta Raya ini menyulutkan percikan api semangat IPNU IPPNU para peserta Makesta Raya yang dapat dibawa pulang kesekolah mereka masing-masing, sehingga atmosfir Ke-IPNU IPPNU-an dapat ditularkan kepada Rekan Rekanita mereka disekolah” terang ketua PAC IPPNU Kecamatan Kedungwuni Anik Maghfiroh.


Prosesi Pembaiatan berlangsung pada Jum’at pagi setelah sholat subuh dan dilanjutkan rapat tindak lanjut sebelum upacara pembubaran pukul 09.00 WIB.




L.Pers PAC  IPNU IPPNU Kedungwuni

Senin, 11 September 2017

Bijak Berteknologi sebagai Media Penolong Generasi Muda


Bicara mengenai dunia tekologi memang tidak ada habisnya. Pengembangan demi pengembangan terus digenjot untuk mempermudah dan membantu segala jenis pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Tak bisa kita pungkiri lagi sekarang semua kebutuhan sudah ada dalam gemgaman tangan kita. Mulai jual beli barang,jasa,makanan,dll bisa kita lakukan lewat jempol kita. Ya, memang semua sekarang sudah mudah dan simple untuk kita lakukan dimanapun dan kapanpun kita mau.
Tetapi terlepas dari fungsi yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, dewasa ini kemajuan teknologi justru digunakan sebagai sarana penebar Hoaks, diskriminasi bahkan penebar kebencian pada suatu golongan atau kelompok tertentu yang tidak mau ikut atau mendukung gerakan suatu kelompok tertentu. Dan yang paling mencekam akhir-akhir ini pertikaian dan penebaran ajaran-ajaran sesat di media sosial. Sebenarnya semua itu adalah taktik yang dilakukan kaum radikal yag bertujuan untuk memecah bela persatuan bangsa dan umat beragama.
Sebagai contoh yang sering digembar-gemborkan di media sosial tentang akidah dan ajaran-ajaran islam. Mereka bertujuan menyerang sekaligus untuk membuat doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan asas kebangsaan dan nilai-nilai akidah yang ada di Indonesia. Remaja,anak sekolah,mahasiswa,perantauan,anak-anak yang awam dengan ilmu agama itu menjadi sasaran empuk golongan radikalisme untuk dijadikan kader atau bagian dari mereka.
Untuk menangkal semua kericuhan atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi. Prof.K.H. Said Aqil Siradj selaku ketua umum PBNU sempat berpesan kepada semua pemuda pemudi khususnya kader muda Nahdlatul Ulama untuk bisa lebih cermat dan berhati-hati dalam menggunakan kemajuan teknologi. Karena sekarang bukan saatnya kita sebagai penerus bangsa untuk bersantai dan hanya melihat kekacaun yang sekarang terjadi di media sosial. Kita harus bangkit dan harus memberi ide-ide kreatif yang bisa dicontoh oleh generasi muda yang lain.
Dengan adanya kemajuan teknologi kita selaku generasi muda NU harus dapat bersaing dan ikut andil di dalamnya. Dengan cara kita membuat tulisan-tulisan yang berbobot dan juga mengandung informasi yang baik, bisa juga kita memanfaatkan kemajuan teknologi itu untuk membuat sebuah aplikasi digital yang bisa digunakan untuk media syiar islam, berbagi ilmu,dll. Bisa juga kita memanfaatkanya sebagai bisnis yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah, sehingga kita tidak Cuma menjadi penikmat teknologi, tetapi kita harus menjadi pembuat dan penerus teknologi.
Bijak dalam penggunaan teknologi juga sebagai langkah kita menyelamatkan generasi muda Indonesia dari kebodohan dan kenegatifan yang ditimbulkan dari kemajuan teknologi tersebut.

Khoirul Ummam

Jumat, 08 September 2017

PR IPNU IPPNU Kranji Siapkan Kader Penerus


 Untuk menjadi seorang kader yang ber wawasan dan berpengetahuan dalam ber organisasi, setelah pengenalan awal tentang organisasi IPNU IPPNU dalam Binari (Bina’an Sehari) seorang  kader IPNU dan IPPNU harus melewati tahap pengkaderan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota), yang  merupakan pengkaderan tahap awal menuju perekrutan dan pengenalan anggota terhadap organisasi IPNU  IPPNU yang diadakan di tingkat Ranting.

Sebagai salah satu ranting percontohan di Kecamatan Kedungwuni, PR IPNU IPPNU Kranji kelurahan Kedungwuni Timur Setiap Priode Mengadakan Makesta Mandiri, Makesta kali ini bertempat di MI Walisongo Kranji 02, di buka pada pukul 09.00 WIB hari sabtu tanggal 2 September 2017 oleh Bapak Badruzzaman, mewakili Bapak H. Hamzah Sya’roni Selaku Ketua NU Setempat yang sedang berhalangan hadir, Acara pembukaan dihadiri Juga oleh Perwakilan Banom NU Kranji dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU Kec. Kedungwuni.

Dengan mengusung tema “menjadikan kader penggerak ASWAJA yang ideal, berfikir kritis serta menjunjung tinggi nasionalisme dalam bermasyarakat” di ikuti oleh 43 peserta yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP. “kami berharap peserta yang telah melewati serangkaian kegiatan makesta, yang diakhiri dengan prosesi pembaiatan, agar turut aktif di IPNU IPPNU terutama di Ranting Kranji. Karena tujuan utama kegiatan pengkaderan adalah mencari bibit kader penerus estafet periodesasi” terang Ketua IPPNU PR Kranji, Finadzul Husna.


MINH/Pers. PAC IPNU IPPNU Kedungwuni

Selasa, 05 September 2017

Faza Ubaidillah Pimpin PAC IPNU Kajen


Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kajen mengadakan Konfrensi Anak Cabang (KONFERANCAB)  XI yang di adakan Gedung Majelis Wakil Cabang Kajen pada tanggal 03 september 2017 bertepatan dengan 12 Dzulhijjah 1438 H. KONFERANCAB XI yang di ikuti 13 ranting yang aktif mengangkat tema “Mengembangkan potensi, generasi penerus yang berkomitmen dan bertanggung jawab terhadapkemajuan organisasi”.

Rekan Khozinatul Asror  ketua PAC Kajen 2015-2016 berharap untuk periode depan masa khidmat 2017-2019 lebih kompak dan lebih baik lagi inovatif dan mampu mengaktifkan 25 ranting yang ada di Pimpinan Anak Cabang Kajen. Ketua Panitia KONFERANCAB XI Rekan Zainul Inteq menambahkan dengan di adakannya konfrensi Anak Cabang ini sebagai ajang silaturahmi terutama Ranting – Ranting baru bisa meningkatkan komunikasi dengan rantinglainya dan  semoga bisa mendapatkan kader yang lebih baik lagi .

Setelah dua tahap pemilihan akhirnya terpilih rekan Muhammad Faza Ubaidillah dari Ranting Sambiroto, dalam sambutan perdananya Rekan Faza mengatakan “Sungguh tidak menyangka menjadi ketua terpilih Pimpinan Anak Cabang Kajen” , berharap untuk semua rekan-rekan di pimpinan Anak Cabang Kajen untuk membantu dalam menjalankan roda organisasi  dan semoga lebih baik lagi.

Semoga menjadi pemimpin yang amanah dan tetap berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama’. Amin


Aji Lukmana

Minggu, 03 September 2017

Belajar dari Jepang


Dari buku yang berjudul “Meraih Sukses dengan cara Orang Yahudi, Jepang, dan China”, saya mendapat inspirasi untuk menulis artikel ini. Buku ini  menjelaskan tentang bagaimana ketiga bangsa di atas meraih kemajuan dalam berbagai bidang. Namun di sini saya hanya akan meringkas cara bangsa Jepang Mampu meraih kemajuan sedemikian rupa. Nah 10 hal ini juga bisa di terapkan oleh kader IPNU-IPPNU menjalankan Organisasi maupun Kehidupan.
Apa saja 10 hal tersebut ?
    1.     Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang-orang Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di jepang adalah 2450 jam/tahun. Seorang pekerja jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya di selesaikan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan memalukan bagi pekerja jepang. Hal ini bisa menjadi pedoman bagi kita kader IPNU-IPPNU agar senantiasa bekerja keras, agar tujuan Organisasi bisa tercapai. Kerja keras di sini adalah menjadi kader yang pantang menyerah dalam segala hal, ada masalah dikit jangan putus asa, kader ipnu ippnu juga harus kerja keras dalam urusan Akhirat, senantiasa beribadah kepada Allah untuk mendapatkan Pahala.
    2.     Malu
Malu adalah budaya leluhur yang telah turun temurun di lingkup masyarakat jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menancapkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yakni ketika mereka kalah dalam pertempuran. Namun sejak era modern, wacana harakiri sedikit mengalami perubahan. Para pejabat (menteri, politikus, dsb) yang terlibat dalam masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya akan mengundurkan diri. Karena merasa malu, orang jepang lebih senang memilih jalan memutar ketimbang memotong jalur di tengah jalan. Mereka pun terhadap lingkungannya, jika melangar peraturan atau norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. Budaya Malu juga harus di terapkan oleh kader IPNU IPPNU, malu meninggalkan organisasi, malu datang terlambat pada saat kegiatan atau Meeting, malu tidak ikut rapat tanpa alasan yang jelas, Malu berbuat kejahatan. Dan sebagainya.
    3.     Hemat
Orang jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme yang berlebihan nampak dalam berbagai hal, sebagai misal banyak orang jepang berbelanja di supermarket pada sekitar jam 19.30. hal ini dikarenakan supermarket selalu memotong harga sampai separuhnya pada waktu setengah jam sebelum tutup (jam 20.00). budaya Hemat juga semestinya di terapkan oleh kader IPNU IPPNU, karena ada pepatah HEMAT PANGKAL KAYA,  kader IPNU IPPNU harus hemat dalam segala hal, terutama dalam hal Keuangan, sebagai kader kita harus pintar-pintar mengatur keuangan kita. Jangan sampai kita menghambur-hamburkan Uang untuk keperluan yang sekiranya “Tidak Penting”. Ingat ya Hemat bukan berarti Pelit. Hehe.
   4.     Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka harus biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Loyalitas juga harus di jaga oleh kader, Loyalitas kita terhadap Organisasi IPNU IPPNU, Loyalitas Kita terhadap NU. Jangan sampai kita berpindah haluan ke Organisasi yang lain. Kesetiaan terhadap Organisasi IPNU IPPNU harus di tanamkan dalam hati.
    5.     Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, melainkan lebih sebagai peracik temuan orang dan kemudian dipasarkan dalam bentuk yang diminati pasar.
Berinovasi juga harus dilakukan kader IPNU IPPNU, sebagai contoh ketika mengadakan kegiatan, usahakan jangan sama persis seperti sebelumnya, harus ada inovasi yang lebih menarik. Seorang kader IPNU IPPNU juga haru memilik daya Inovasi yang tinggi untuk bisa bersaing dengan kader yang lain, semisal dalam dunia bisnis harus ada Inovasi untuk menarik minat pembeli. Inovasi juga bisa meliputi Kepribadian, sebagai contoh : dari yang tadinya Minder, cobalah sedikit-sedikit berlatih untuk tidak minder. Kemudian yang tadinya bodoh, rajin-rajinlah belajar supaya pintar. Jadi Inovasi lah diri kita terlebih dahulu sebelum kita menginovasi karya orang lain.
   6.     Pantang menyerah
Sejarah membuktikan, jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang meneyerah. Puluhan tahun di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, jepang menjadi sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi meiji, orang-orang jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat jepang menyerah. Terbukti jepang tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi, dan kayu. Sekalipun rentetan bencana terjadi pada tahun 1945 yang dimulai dari bom atom di Hiroshima dan nagasaki, kekalahan perang, hingga gempa bumi dahsyat di Tokyo, namun jepang tidak pernah punah. Beberapa tahun kemudian, jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan kereta cepat. Kader IPNU IPPNU harus pantang menyerah, apapun cobaan yang terjadi pada kita, kita jangan pernah berputus asa.seberat apa pun tugas kita, sebanyak apapun tugas yang harus kita kerjakan kita jangan pantang menyerah. Sekalipun kita gagal, kita harus mencoba lagi,lagi dan lagi. Karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
    7.     Budaya baca
Jangan kaget kalau anda datang ke jepang atau memasuki densha (kereta listrik). Karena sebagian besar penumpangnya baik anak-anak sampai orang dewasa selalu mengisi waktunya dengan membaca buku atau koran. Tidak peduli apakah berdiri atau duduk. Banyak penrbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum SD SMP,SMA dengan menarik hingga membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.
Budaya membaca juga harus selalu di lakukan kader IPNU IPPNU, karena dengan membaca pengetahuan kita akan semakin luas. Membaca akan membuat otak kita aktif, dengan membaca kita akan banyak tahu tentang hal-hal yang sebelumnya kita tidak tahu. Dengan membaca akan membuat kita tidak mudah di bodohi orang, dengan membaca kecerdasan kita akan semakin tinggi, dengan begitu peluang menjadikan Organisasi lebih baik terbuka lebar.
    8.     Kerjasama kelompok
Budaya di jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja yag terlalu bersifat individualistik. Klaim hasil pekerjaan ditujukan untuk suatu kelompok.
Sebagai kader IPNU IPPNU alangkah lebih baiknya jika kita selalu menerapkan kerjasama dalam urusan organisasi, tidak baik jika kita dalam berorganisasi masih mementingkan diri sendiri, egois, dan lain sebagainya. Karena itu penting bagi kita untuk slalu menjaga kerjasama kelompok agar tercipta suasan organisasi yang tertib dan baik.
    9.     Mandiri
Semenjak usia dini, anak-anak di jepang dilatih untuk mandiri. Seorang anak TK sudah dilatih untuk membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bungkusan makanan, sepatu ganti, buku-buku, handuk, sebotol air mineral yang menggantung di lehernya, berbeda dengan di Indonesia yang kadang masih di bawakan sama orang tuanya.
Sikap mandiri perlu di miliki segenap kader IPNU IPPNU Semua lapisan, mandiri dalam hal apa aja, sebagai contoh : kita jangan suka menyuruh-nyuruh orang lain tanpa aturan, semisal kita menyuruh orang tua kita untuk membelikan sesuatu. Padahal kita sendiri pun masih bisa untuk membelinya. Budaya mandiri ini juga patut di lakukan dalam hal berorganisasi, dimana kita jangan manja-manja ketika kita sama-sama disibukkan dengan agenda. Jangan menyuruh orang lain untuk mengerjakan tugas, kerjakan lah sesuai dengan tugasnya masing-masing.
    10.       Menjaga tradisi
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih berlangsung hingga kini. Budaya meminta maaf masih menjadi cerminan pribadi orang jepang. Dsb.
Kader IPNU IPPNU juga harus menjaga tradisi, wabil khusus tradisi keagamaan NU, jangan sampai tradisi yang sejak dulu ada hilang karena kita tidak mau dan tidak mampu menjaganya. Tradisi-tradisi yang lain juga harus dijaga, seperti budaya silaturahim ke para Ulama. Dan sebagainya.


KHAIRUL ANWAR

Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...