Rembang - Pelajar Kota Santri
Kegiatan
Anjangsana Islam Nusantara Pascasarjana STAINU Jakarta memberikan kesan
tersendiri dalam diri KH Abdul Moqsith Ghazali, salah satu pimpinan rombongan.
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU ini mengesankan pertemuannya dengan Gus
Mus di Leteh dan KH Maimoen Zubair di Sarang, kedua daerah tersebut berada di
Rembang.
“Bersama
sejumlah teman NU dari Program Pascasarjana STAINU Jakarta, 25 Januari 2017,
saya sowan ke KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di Rembang Jawa Tengah,” ujar
Kiai Moqsith.
Setelah
menempuh perjalanan darat berjam-jam,
Jakarta-Purwakarta-Cirebon-Pekalongan-Kendal, akhirnya sampai juga di Rembang.
Tepat jam 12 malam, ketika rumah-rumah di sekitaran kediaman Gus Mus sudah
sepi. Orang-orang sudah masuk ke peraduan.Tak ada lalu lalang kendaraan. Sunyi.
Lelah
menempuh perjalanan jauh, kami segera bergegas menuju asrama santri Pesantren
Raudhatut Thalibin Rembang, pesantren asuhan beliau. Di situ kami semua
istirahat. Suasananya mengingatkan Kiai Moqsith pada saat dulu ketika masih
mondok di pesantren.
Baru tidur
beberapa jam, adzan subuh sudah berkumandang. Bersama para santri, kami antre
menggunakan kamar mandi. Lalu kami shalat subuh.
Habis shalat
subuh, kami bergerak menuju maqbarah KH Bisri Mustofa, KH Cholil Bisri, KH
Cholil Harun. Kami mengirimkan fatihah dan membaca tahlil untuk beliau-beliau,
tak ketinggalan juga membaca fatihah untuk mendiang Nyai Fatma, istri Gus Mus,
yang wafat beberapa bulan lalu. Allahummaghfir lahum warhamhum wa 'afihim wa'fu
'anhum.
Dari ziarah
kubur, kami baru diterima Gus Mus di kediamannya yang "eksotik" itu.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Tak berselang lama duduk,
kami sudah terlibat obrolan dan diskusi intens. Sebagai partner diskusi, Gus
Mus memang menyenangkan; rileks dan egaliter. Walau kami tetap tak bisa
menyembunyikan keseganan kami terhadap Gus Mus, sosok kiai yang alim dan
bersahaja.
Dari Gus
Mus, kami menimba kearifan dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa dalam
kehidupan. Beliau banyak menyampaikan pandangan soal kondisi Indonesia
belakangan, mulai dari masalah ke-NU-an dan kepesantrenan hingga soal-soal
politik kebangsaan. Seperti umum diketahui, tema-tema berat itu dikemukakan Gus
Mus dengan kata-kata sederhana penuh hikmah.
Beliau juga
banyak bercerita tentang guru-gurunya, seperti Kiai Mahrus Ali Lirboyo, Kiai
Marzuki Lirboyo, Kiai Ali Maksum Krapyak, Syaikh Abdul Halim Mahmud Mesir.
Melalui Gus Mus, kita tersambung ke masa lalu. Melipat waktu, seperti hidup
satu generasi dengan guru-guru beliau itu.
Pembicaraan
mengalir cukup jauh. Begitu melihat jam tangan, Kiai Moqsith kaget. Ternyata
kami menyimak wejangan-wejangan beliau sudah hampir dua jam. Kami harus segera
mohon diri.
Sebelum
pamitan, kami meminta doa ke Gus Mus dan memohon ijazah amalan untuk
keselamatan dunia akhirat. “Sehat selalu Kiai Ahmad Mustofa Bisri. Allah
yubarik fikum,” doa Kiai Moqsith. Keluar dari kediaman Gus Mus, kami
melanjutkan perjalanan ke KH Maimoen Zubair Sarang, Rembang.
Sowan Mbah Maimoen
Menempuh
perjalanan satu jam, kami sampai di Sarang. Setelah menunggu beberapa menit di
depan kediaman Mbah Moen, tepat pukul 14.25 WIB, wajah teduh penuh kharisma itu
keluar dari rumahnya.
“Ketika
bertemu saya tak bisa berkata apa-apa kecuali menciumi tangan beliau yang halus
itu. Saya dan beberapa teman tak ada yang berani memulai pembicaraan, hingga
kemudian Mbah Moen menanyakan nama-nama kami satu persatu,” jelas Kiai Moqsith.
Kalimat demi
kalimat mulai meluncur dari beliau. Kami mencoba merespons sekadarnya.
Pembicaraan terus berlangsung. Suasana mulai akrab, terlebih beliau menyelingi
pembicaraan dengan humor-humor segar.
Beliau
menasihati dan mengajari kami. Bicara banyak hal, menyentuh banyak aspek ilmu
pengetahuan. Mulai dari soal keluarga hingga masalah negara. Beliau bicara
fiqih, sejarah, tafsir sufi, dan sedikit soal politik. Dalam politik juga,
menurut beliau, umat Islam perlu tahu; mana yang fardhu kifayah dan mana yang
fardhu'ain.
Walau
begitu, tekanan pembicaraan beliau sesungguhnya diarahkan pada soal akidah dan
keimanan. "Dalam hidup ini betapa pentingnya kita bersandar pada qadha'
dan qadar Allah,” dawuh beliau.
Tak terasa,
di rumah Mbah Moen, kami sudah hampir dua jam. Kami harus segera pamit. Sebelum
pamitan, kami mohon doa ke beliau. Perjalanan kemudian berlanjut ke Tuban,
ziarah ke kuburan KH Abdullah Faqih di Langitan.
“Semoga Mbah
Moen sehat selalu. Athala Allah hayatah,” tutup Kiai Moqsith.
nu.or.id