Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 September 2017

Bijak Berteknologi sebagai Media Penolong Generasi Muda


Bicara mengenai dunia tekologi memang tidak ada habisnya. Pengembangan demi pengembangan terus digenjot untuk mempermudah dan membantu segala jenis pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Tak bisa kita pungkiri lagi sekarang semua kebutuhan sudah ada dalam gemgaman tangan kita. Mulai jual beli barang,jasa,makanan,dll bisa kita lakukan lewat jempol kita. Ya, memang semua sekarang sudah mudah dan simple untuk kita lakukan dimanapun dan kapanpun kita mau.
Tetapi terlepas dari fungsi yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, dewasa ini kemajuan teknologi justru digunakan sebagai sarana penebar Hoaks, diskriminasi bahkan penebar kebencian pada suatu golongan atau kelompok tertentu yang tidak mau ikut atau mendukung gerakan suatu kelompok tertentu. Dan yang paling mencekam akhir-akhir ini pertikaian dan penebaran ajaran-ajaran sesat di media sosial. Sebenarnya semua itu adalah taktik yang dilakukan kaum radikal yag bertujuan untuk memecah bela persatuan bangsa dan umat beragama.
Sebagai contoh yang sering digembar-gemborkan di media sosial tentang akidah dan ajaran-ajaran islam. Mereka bertujuan menyerang sekaligus untuk membuat doktrin-doktrin yang tidak sesuai dengan asas kebangsaan dan nilai-nilai akidah yang ada di Indonesia. Remaja,anak sekolah,mahasiswa,perantauan,anak-anak yang awam dengan ilmu agama itu menjadi sasaran empuk golongan radikalisme untuk dijadikan kader atau bagian dari mereka.
Untuk menangkal semua kericuhan atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi. Prof.K.H. Said Aqil Siradj selaku ketua umum PBNU sempat berpesan kepada semua pemuda pemudi khususnya kader muda Nahdlatul Ulama untuk bisa lebih cermat dan berhati-hati dalam menggunakan kemajuan teknologi. Karena sekarang bukan saatnya kita sebagai penerus bangsa untuk bersantai dan hanya melihat kekacaun yang sekarang terjadi di media sosial. Kita harus bangkit dan harus memberi ide-ide kreatif yang bisa dicontoh oleh generasi muda yang lain.
Dengan adanya kemajuan teknologi kita selaku generasi muda NU harus dapat bersaing dan ikut andil di dalamnya. Dengan cara kita membuat tulisan-tulisan yang berbobot dan juga mengandung informasi yang baik, bisa juga kita memanfaatkan kemajuan teknologi itu untuk membuat sebuah aplikasi digital yang bisa digunakan untuk media syiar islam, berbagi ilmu,dll. Bisa juga kita memanfaatkanya sebagai bisnis yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah, sehingga kita tidak Cuma menjadi penikmat teknologi, tetapi kita harus menjadi pembuat dan penerus teknologi.
Bijak dalam penggunaan teknologi juga sebagai langkah kita menyelamatkan generasi muda Indonesia dari kebodohan dan kenegatifan yang ditimbulkan dari kemajuan teknologi tersebut.

Khoirul Ummam

Minggu, 03 September 2017

Belajar dari Jepang


Dari buku yang berjudul “Meraih Sukses dengan cara Orang Yahudi, Jepang, dan China”, saya mendapat inspirasi untuk menulis artikel ini. Buku ini  menjelaskan tentang bagaimana ketiga bangsa di atas meraih kemajuan dalam berbagai bidang. Namun di sini saya hanya akan meringkas cara bangsa Jepang Mampu meraih kemajuan sedemikian rupa. Nah 10 hal ini juga bisa di terapkan oleh kader IPNU-IPPNU menjalankan Organisasi maupun Kehidupan.
Apa saja 10 hal tersebut ?
    1.     Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa orang-orang Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di jepang adalah 2450 jam/tahun. Seorang pekerja jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya di selesaikan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan memalukan bagi pekerja jepang. Hal ini bisa menjadi pedoman bagi kita kader IPNU-IPPNU agar senantiasa bekerja keras, agar tujuan Organisasi bisa tercapai. Kerja keras di sini adalah menjadi kader yang pantang menyerah dalam segala hal, ada masalah dikit jangan putus asa, kader ipnu ippnu juga harus kerja keras dalam urusan Akhirat, senantiasa beribadah kepada Allah untuk mendapatkan Pahala.
    2.     Malu
Malu adalah budaya leluhur yang telah turun temurun di lingkup masyarakat jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menancapkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yakni ketika mereka kalah dalam pertempuran. Namun sejak era modern, wacana harakiri sedikit mengalami perubahan. Para pejabat (menteri, politikus, dsb) yang terlibat dalam masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya akan mengundurkan diri. Karena merasa malu, orang jepang lebih senang memilih jalan memutar ketimbang memotong jalur di tengah jalan. Mereka pun terhadap lingkungannya, jika melangar peraturan atau norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. Budaya Malu juga harus di terapkan oleh kader IPNU IPPNU, malu meninggalkan organisasi, malu datang terlambat pada saat kegiatan atau Meeting, malu tidak ikut rapat tanpa alasan yang jelas, Malu berbuat kejahatan. Dan sebagainya.
    3.     Hemat
Orang jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme yang berlebihan nampak dalam berbagai hal, sebagai misal banyak orang jepang berbelanja di supermarket pada sekitar jam 19.30. hal ini dikarenakan supermarket selalu memotong harga sampai separuhnya pada waktu setengah jam sebelum tutup (jam 20.00). budaya Hemat juga semestinya di terapkan oleh kader IPNU IPPNU, karena ada pepatah HEMAT PANGKAL KAYA,  kader IPNU IPPNU harus hemat dalam segala hal, terutama dalam hal Keuangan, sebagai kader kita harus pintar-pintar mengatur keuangan kita. Jangan sampai kita menghambur-hamburkan Uang untuk keperluan yang sekiranya “Tidak Penting”. Ingat ya Hemat bukan berarti Pelit. Hehe.
   4.     Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka harus biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Loyalitas juga harus di jaga oleh kader, Loyalitas kita terhadap Organisasi IPNU IPPNU, Loyalitas Kita terhadap NU. Jangan sampai kita berpindah haluan ke Organisasi yang lain. Kesetiaan terhadap Organisasi IPNU IPPNU harus di tanamkan dalam hati.
    5.     Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, melainkan lebih sebagai peracik temuan orang dan kemudian dipasarkan dalam bentuk yang diminati pasar.
Berinovasi juga harus dilakukan kader IPNU IPPNU, sebagai contoh ketika mengadakan kegiatan, usahakan jangan sama persis seperti sebelumnya, harus ada inovasi yang lebih menarik. Seorang kader IPNU IPPNU juga haru memilik daya Inovasi yang tinggi untuk bisa bersaing dengan kader yang lain, semisal dalam dunia bisnis harus ada Inovasi untuk menarik minat pembeli. Inovasi juga bisa meliputi Kepribadian, sebagai contoh : dari yang tadinya Minder, cobalah sedikit-sedikit berlatih untuk tidak minder. Kemudian yang tadinya bodoh, rajin-rajinlah belajar supaya pintar. Jadi Inovasi lah diri kita terlebih dahulu sebelum kita menginovasi karya orang lain.
   6.     Pantang menyerah
Sejarah membuktikan, jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang meneyerah. Puluhan tahun di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, jepang menjadi sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi meiji, orang-orang jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat jepang menyerah. Terbukti jepang tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi, dan kayu. Sekalipun rentetan bencana terjadi pada tahun 1945 yang dimulai dari bom atom di Hiroshima dan nagasaki, kekalahan perang, hingga gempa bumi dahsyat di Tokyo, namun jepang tidak pernah punah. Beberapa tahun kemudian, jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan kereta cepat. Kader IPNU IPPNU harus pantang menyerah, apapun cobaan yang terjadi pada kita, kita jangan pernah berputus asa.seberat apa pun tugas kita, sebanyak apapun tugas yang harus kita kerjakan kita jangan pantang menyerah. Sekalipun kita gagal, kita harus mencoba lagi,lagi dan lagi. Karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
    7.     Budaya baca
Jangan kaget kalau anda datang ke jepang atau memasuki densha (kereta listrik). Karena sebagian besar penumpangnya baik anak-anak sampai orang dewasa selalu mengisi waktunya dengan membaca buku atau koran. Tidak peduli apakah berdiri atau duduk. Banyak penrbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum SD SMP,SMA dengan menarik hingga membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.
Budaya membaca juga harus selalu di lakukan kader IPNU IPPNU, karena dengan membaca pengetahuan kita akan semakin luas. Membaca akan membuat otak kita aktif, dengan membaca kita akan banyak tahu tentang hal-hal yang sebelumnya kita tidak tahu. Dengan membaca akan membuat kita tidak mudah di bodohi orang, dengan membaca kecerdasan kita akan semakin tinggi, dengan begitu peluang menjadikan Organisasi lebih baik terbuka lebar.
    8.     Kerjasama kelompok
Budaya di jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja yag terlalu bersifat individualistik. Klaim hasil pekerjaan ditujukan untuk suatu kelompok.
Sebagai kader IPNU IPPNU alangkah lebih baiknya jika kita selalu menerapkan kerjasama dalam urusan organisasi, tidak baik jika kita dalam berorganisasi masih mementingkan diri sendiri, egois, dan lain sebagainya. Karena itu penting bagi kita untuk slalu menjaga kerjasama kelompok agar tercipta suasan organisasi yang tertib dan baik.
    9.     Mandiri
Semenjak usia dini, anak-anak di jepang dilatih untuk mandiri. Seorang anak TK sudah dilatih untuk membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bungkusan makanan, sepatu ganti, buku-buku, handuk, sebotol air mineral yang menggantung di lehernya, berbeda dengan di Indonesia yang kadang masih di bawakan sama orang tuanya.
Sikap mandiri perlu di miliki segenap kader IPNU IPPNU Semua lapisan, mandiri dalam hal apa aja, sebagai contoh : kita jangan suka menyuruh-nyuruh orang lain tanpa aturan, semisal kita menyuruh orang tua kita untuk membelikan sesuatu. Padahal kita sendiri pun masih bisa untuk membelinya. Budaya mandiri ini juga patut di lakukan dalam hal berorganisasi, dimana kita jangan manja-manja ketika kita sama-sama disibukkan dengan agenda. Jangan menyuruh orang lain untuk mengerjakan tugas, kerjakan lah sesuai dengan tugasnya masing-masing.
    10.       Menjaga tradisi
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih berlangsung hingga kini. Budaya meminta maaf masih menjadi cerminan pribadi orang jepang. Dsb.
Kader IPNU IPPNU juga harus menjaga tradisi, wabil khusus tradisi keagamaan NU, jangan sampai tradisi yang sejak dulu ada hilang karena kita tidak mau dan tidak mampu menjaganya. Tradisi-tradisi yang lain juga harus dijaga, seperti budaya silaturahim ke para Ulama. Dan sebagainya.


KHAIRUL ANWAR

Sabtu, 12 Agustus 2017

Ketika Teknologi Menjauhkan Kita dari Allah SWT


Sebuah video berdurasi 04.17 menit  yang saya download dari Postingan teman di grup WhatsApp Menginspirasi saya untuk menulis sebuah artikel singkat ini. Dimana didalam video  itu diceritakan bahwa Teknologi modern di jaman sekarang membuat kita sibuk dan jauh dari Allah swt.
Allah selalu memberikan kemudahan bagi kita, dalam hal apapun kita selalu di beri kemudahan oleh Allah. Seperti sabda nabi Muhammad SAW “ Sessungguhnya sesuatu yang sulit itu akan menjadi mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah SWT”. Namun sering kali kita lupa dan tidak bersyukur bahwa apa yang diberikan Allah kepada kita adalah karena usaha kita sendiri, padahal tanpa ridho dan bantuan dari Allah kita tidak mendapatkan apa-apa.
Salah satu kemudahan yang Allah berikan kepada kita adalah teknologi. Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia.memang teknologi yang membuat adalah manusia, tetapi yang menggerakkan pada hakikatnya adalah Allah SWT.
Teknologi berperan penting dalam kehidupan Manusia, dengan adanya Teknologi semua Aktivitas Manusia bisa dijalankan dengan cepat dan lebih baik. Sebagai contoh adalah Tekonologi Komunikasi (Baca : Handphone), handphone yang merupakan  alat komunikasi pada jaman sekarang sangat membantu manusia dalam urusan Komunikasi. Dahulu handphone mungkin belum secanggih sekarang, saat ini hampir semua manusia memiliki handphone.
Kecepatan informasi dan mudah dalam pemakaiannya menjadi alasan manusia untuk menggunakan handphone sebagai sarana komunikasi.contoh lain adalah Teknologi Internet, internet menjadi sarana yang memanjakan bagi Manusia, mencari informasi , mengirim pesan lewat email, bermain game online, dan sebagainya.
Semua kemewahan Teknologi modern saat ini ada pada kita, kita yang menggunakan dan kita pula yang merasakannya. Handphone Mendekatkan yang jauh, Internet memberimu ilmu yang tidak engkau ketahui, semuanya kita miliki. Lantas apa yang menjadi masalah saat ini, saat banyak manusia di manjakan dengan kemegahan berbagai Teknologi yang canggih, namun ia lupa dengan sang pencipta Teknologi tersebut. kapan lagi kita bisa menikmati kemegahan Teknologi yang serba Modern, saat kita memakai Mobil tanpa BBM, saat kita dimudahkan dalam urusan komunikasi, saat kita dimudahkan pergi kemana-mana karena memiliki motor, dan sebagainya. Kapan lagi kita merasakan itu semua kalau bukan sekarang ?
Namun yang terjadi banyak Manusia (Orang islam) yang terlalu sibuk dengan kesenangannya, mereka lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah. Sholat lima waktu terkadang sering telat karena Asyik BBM-an, lebih memilih Bermain game online daripada mengaji.
Dalam video itu ada ayat alquran Surat Al-an’am ayat 44 yang artinya :
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, maka kamipun membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan mengejutkan, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”
Teknologi Modern saat ini menyibukkan kita, kita malas baca Alquran karena sibuk di Instagram, sibuk di Facebook. Kita jarang berdzikir karena sibuk berkicau di twitter, kita tidak melaksanakan sholat berjamaah karena sedang asyik membalas Chat dari temen di WhatsApp.
Berapa jam kita bermain FACEBOOK ? berapa kali kita buka Alquran dan Membacanya ? Lebih sering baca pesan Di WhatsApp atau baca Aplikasi Alquran di Hp.? Jawabannya yaitu kita lebih sibuk dengan kemegahan teknologi daripada Melakukakn kewajiban menaati perintah Allah.
Saat mau sholat, tiba-tiba Hp berbunyi, mereka angkat telvon lebih dahulu. Akhirnya gak jadi sholat. Hal seperti ini adalah beberapa contoh kecil dari Perkembangan Teknologi yang semakin canggih yang akhrinya merusak iman kita dan menjauhkan kita dari sang pencipta. Masih banyak contoh-contoh yang lain.
Memang setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda, ada yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah . seperti memanfaatkan teknologi untuk berdakwah. ada juga yang memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk berbuat kejahatan. Untuk itulah mari kita gunakan kecanggihan teknologi yang ada di sekitar kita dengan sebaik-baiknya. Gunakan secukupnya saja. Jangan berlebihan. Apalagi kalau sudah terbius dan akhirnya jauh dari Allah swt.
Jangan sampai kemudahan-kemudahan yang Allah berikan kepada kita membuat kita terlena dan melupakan Allah, padahal sesungguhnya semua fasilitas yang diberikan oleh Allah itu adalah sebagai sarana untuk berbuat kebaikan. Renungkanlah.


Oleh khairul anwar

Jumat, 04 Agustus 2017

Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU


Prof. Mr. R.H. A. Soenarjo, selanjutnya Mr. Narjo adalah Menteri Dalam Negeri dari NU pada zaman Orde Lama, penyelenggara pemilu pertama di Indonesia 1955. Ia juga salah seorang tokoh pembangun Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan IAIN-IAIN lainnya yang pada perkembangannya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). 

Mr. Narjo adalah putra dari seorang penghulu pada zaman penjajahan Belanda bernama Raden Iman Nasiruddin Imamdipuro. Sebagaimana ayahnya, kakek Mr. Narjo, Zaenal Mustopo, juga adalah seorang penghulu. Zaenal Mustopo dikenal sebagai seorang dermawan. Dari kekayaannya, ia membangu sebuah masjid besar di tengah-tengah kota Sragen. 

Mr. Narjo lahir 15 Mei 1908 di Sragen. Pada masa kecilnya, ia menempuh pendidikan di sekolah umum milik Belanda. Setamat di sekolah itu, ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setingkat SMP) di Surakarta. Kemudian masuk ke Algemeene Middelbare School (AMS, setingkat SMA) jurusan bahasa-bahasa timur yang juga di Surakarta. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Rechts Hooge School (RHS, Sekolah Tinggi Hukum). Ia tamat pada perguruan itu pada tahun 1941.

Pengetahuan agama ia dapatkan dengan mengaji sehabis maghrib kepada ayahnya sendiri. Mengaji dijalaninya selama tinggal bersama orang tuanya di Sragen. Kepada ayahnya ia khatam belajar membaca Al-Qur’an. Kemudian ketika di Surakarta, ia mengaji di Pesantren Manba’ul Ulum, Jamsaren, untuk beberapa waktu. Pelajaran ilmu agama ia dapatkan juga dari K.R.T.P. Tapsiranom di Pengulon Solo. 

Ketika di Jakarta, meski ia tidak belajar ilmu agama secara khusus, ia sering bergaul dengan tokoh-tokoh agama. Di samping itu, ia sering membaca buku-buku agama. Buku yang banyak dibacanya adalah Tafsir Al-Quran dalam bahasa Belanda. 

Mr. Narjo memulai karirnya dengan bekerja sebagai pegawai Kantor Pusat Statistik Jakarta. Namun tampaknya nasib telah menentukannya menjadi salah seorang pionir di Departemen Agama, karena tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Panitera di Mahkamah Islam Tinggi, wilayah Jawa dan Madura. Jabatannya kemudian diganti Moh. Djunaidi pada tahun 1948.

Sebetulnya sejak proklamasi kemerdekaan, Mr. Narjo tidak aktif mengemban jabatan itu karena ia bersama Prof. Dr. A Rasjidi dan KH Fathurrohman Kafrawi diberi tugas mengatur struktur Departemen Agama. Kemudian ia menjadi sekretaris jenderal departemen tersebut pada Menteri KH Masykur dari NU. 

Setelah masa perang berlalu, Pemerintahan RI kembali ke Jakarta (sempat dipindahkan ke Yogyakarta), ia diangkat Menteri Agama KH Wahid Hasyim menjadi Sekretaris Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Wahid Hasyim menugaskannya untuk membentuk PTAIN dalam kedudukannya sebagai Pejabat Tinggi Departemen Agama. 

Di samping jabatannya pejabat tinggi Departemen Agama, ia juga memberikan kuliah pada mahasiswa. Mata kuliah yang dipegangnya adalah “Asas-asas Hukum Tatanegara” dan “Asas-asas Hukum Perdata”. 

Kemudian Mr. Narjo kemudian terjun ke area politik melalui Partai NU. Ia menjadi menteri mewakili NU dalam beberapa kabinet. Ia tercatat menjadi Menteri Dalam Negeri mengganti Prof. Hazirin mulai 19 November 1954 pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I dari Partai Nasional Indonesia. Dalam Kabinet Burhanuddin Haraharap dari Masyumi ia menduduki jabatan yang sama dan tetap mewakili NU (12 Agustus 1995 sampai dengan 24 Maret 1956). Tapi ia mundur bersama seluruh menteri dari NU pada 19 Januari 1956.

Dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II dari Partai Nasional Indonesia, ia mengemban jabatan yang sama mewakili NU sejak 9 Januari 1957. Sampai kabinet jatuh, ia merangkap jabatan Menteri Kehakiman ad interim.  Pada Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) menjabat Menteri Agraria. Pada kabinet yang sama, pada tahun 1958, ia menjabat Menteri Agama ad interim.

Ia juga pernah menjadi anggota Konstituante pada tahun 1956 sampai dengan 1959 mewakili Partai NU. Jabatan lembaga legislatif ini diperolehnya lagi ketika ia menjadi anggota DPR-GR pada tahun 1960 sampai dengan 1968 mewakili Golongan (cendekiawan). Ia menjadi anggota DPR/MPR pada tahun 1978 sampai dengan 1982 dari Partai Persatuan Pembangunan. 

Dari hasil perkawinannya dengan Hj. Umi Salamah (menikah tahun 1952), Mr. Narjo dikaruniai empat putra dan empat putri. Seluruh putra dan putrinya berhasil lulus dari Perguruan Tinggi. Tapi ia menekankan supaya anak-anaknya merasakan belajar ilmu agama sebagaimana dirinya. KH Anwar Musyadad, ajengan asal Garut, Jawa Barat, yang pernah jadi Wakil Rais Aam PBNU mengajar anak-anaknya dalam ilmu agama. 

Mr. Narjo meninggal pada tahun 1996 Bethesda Yogyakarta karena serangan stroke. Ia dimakamkan di Sragen di samping pusara istrinya.

nu.or.id

Jumat, 28 Juli 2017

KADERISASI (HARGA) MATI


Jika bangsa ini mengenal jargon NKRI HARGA MATI. Istilah NKRI HARGA MATI sudah tidak asing lagi bagi kita, khususnya dikalangan warga NU,  ini berarti harga yang tidak dapat ditukar lagi. NKRI HARGA MATI artinya NKRI Mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat dengan harapan agar selalu utuh dan tidak terpecah karena alasan apapun, terutama diharapkan oleh orang-orang yang memiliki jiwa cinta tanah air dan patriotisme serta semangat kebangsaan yang membara. Namun saya tidak akan membahas mengenai ini. Ada jargon yang sepertinya harus kita gaungkan yaitu KADERISASI HARGA MATI.
Mengapa Kaderisasi disebut sebagai HARGA MATI ?
Suatu Organisasi pasti tak bisa di lepaskan dari yang namanya Kaderisasi, dimana orang-orang di dalam sebuah Organisasi pasti tak selamanya bisa di andalkan terus menerus, harus ada generasi penerus yang melanjutkan. Suatu organisasi bisa dikatakan berhasil jika mampu menerapkan sistem kaderisasi yang baik, tepat dam berlanjut.
Kader adalah orang atau kumpulan orang yang dibina oleh suatu lembaga kepengurusan dalam sebuah organisasi,baik sipil maupun militer yang berfungsi sebagai ‘pemihak’ dan atau membantu tugas dan fungsi pokok organisasi tersebut. sedangkan pengertian Kaderisasi merupakan usaha pembentukan seorang kader secara terstruktur dalam organisasi yang biasanya mengikuti silabus tertentu.
Salah satu Organisasi yang menerapkan Kaderisasi adalah IPNU-IPPNU. Nafas Organisasi IPNU-IPPNU adalah Kaderisasi. Kaderisasi IPNU-IPPNU adalah bagian terpenting dari perjalalanan panjang organisasi, IPNU-IPPNU akan menjadi organisasi yang matang dan maju jika proses kaderisasi berlangsung dan berlanjut dengan baik.
Jika kaderisasi dikatakan sebagai Nafas nya IPNU-IPPNU, maka jika tidak ada Kaderisasi IPNU-IPPNU bisa berakhir. Kaderisasi menjadi hal yang mutlak harus dilakukan oleh semua kalangan di IPNU-IPPNU Agar jalannya Organisasi tidak berakhir. Harus ada Seorang Pelatih ataupun senior yang berkualitas agar mampu membina dan mengkader anggotanya dengan baik.
 Di IPNU-IPPNU sendiri memiliki jenjang kaderisasi Formal seperti Makesta, Lakmud, dan Lakut. Makesta di adakan oleh Ranting , Lakmud oleh PAC, dan Lakut oleh PC. Artinya bahwa standar kaderisasi di IPNU-IPPNU sudah baik tinggal diperbaiki sekiranya yang masih kurang. Melakukan sebuah kaderisasi jangan hanya dijadikan sebuah formalitas belaka, harus ada tindak lanjut yang jelas dan terkonsep.
Penanaman nilai-nilai aswaja, menanamkan semangat militansi terhadap organisasi, serta menumbuhkan semangat cinta tanah air menjadi pembahasan yang harus dilakukan di sebuah kegiatan pengkaderan. Kaderisasi ini seperti siklus dalam kehidupan dimana untuk menjadi lebih baik harus ada peningkatan dalam diri, tentunya melalui sebuah proses yang dilakukan seperi bersekolah ataupun yang lainnya.
Esensi dari kaderisasi itu ialah transfer value and sharing knowledge. Jadi sifatnya tidak singkat, temporer, sejenak, cepat, apalagi muncul begitu saja , tidak bisa secara instan. Namun butuh proses yang panjang dan terarah. Di dalam organisasi usahakan jangan orang itu-itu saja yang diberikan kepercayaan, jangan yang senior terus yang memimpin rapat, jangan yang senior terus yang memimpin diskusi,. Dan sebagainya. Namun berikanlah kesempatan kepada kader yang lebih muda agar mendapatkan pengalaman sekaligus memperkuat mental. Hal seperti ini juga bagian dari kaderisasi karena organisasi pasti membutuhkan orang-orang baru untuk menghidupinya.
Jadi, regenerasi itu sangat penting. Organisasi ini ibaratnya api unggun.anggotanya adalah kayu bakar. Untuk membuat apinya terus menyala maka harus ada kayu bakar yang terus masuk. KADERISASI HARGA MATI.
Sekian, Wallahulmuwafiq ila aqwamithoriq
_JANGAN TUNGGU KADER, TETAPI JEMPUT KADER_
Salam Belajar berjuang bertakwa


 Khairul Anwar

Kamis, 27 Juli 2017

PERLUNYA REVOLUSI MENTAL BAGI KADER IPNU-IPPNU


Revolusi (dari bahasa latin revolutio, yang berarti berputar arah) adalah perubahan fundamental dalam struktur kekuatan atau organisasi yang terjadi dalam periode waktu yang relatif singkat. Sedangkan mental atau tepatnya mentalitas adalah cara berpikir atau kemampuan untuk berpikir, belajar dan merespon terhadap situasi atau kondisi. Jadi revolusi mental dapat diartikan dengan perubahan yang relatif cepat dalam cara berpikir kita dalam merespon, bertindak dan bekerja.

Revolusi Mental adalah jargon yang di usung presiden terpilih Joko Widodo sejak masa kampanye pemilu Presiden 2014. Menurut dia, revolusi mental berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsa. Indonesia merupakan bangsa yang berkarakter santun,berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong. Karakter tersebut merupakan modal yang seharusnya dapat membuat rakyat sejahtera. Namun seiring dengan perkembangan zaman karakter tersebut berubah dan kita tidak menyadarinya. Oleh sebab itu Jokowi menawarkan adanya sebuah revolusi mental.

Berbicara terkait revolusi mental memang hal mendasar yang pertama harus kita ubah adalah cara berpikir kita, ini menjadi hal yang wajib kita lakukan. Karena bagaimana cara berpikir kita itulah mentalitas kita. Karena konsep revolusi mental yaitu bagaimana merubah mentalitas masyarakat ke arah yang lebih baik secara besar-besaran, merubah dari hal negativisme ke arah positivisme. Revolusi mental menjadi hal yang perlu di lakukan bagi semua kalangan agar menjadi yang lebih baik. Disini saya akan Memberi Pendapat tentang Perlunya Revolusi Mental bagi Kader IPNU-IPPNU.

Sebagian orang tahu bahwa Kader IPNU-IPPNU adalah genarasi penerus bagi Nahdlatul Ulama, Kader yang dapat diandalkan di kemudian hari, baik di lingkup agama ataupun bangsa. Namun melihat kenyataan saat ini bahwa kader IPNU-IPPNU belum mampu menjadi agent yang baik di Masyarakat, belum bisa menjadi suri tauladan bagi para Pelajar yang lain. Ini masih menandakan adanya sisi kelemahan di dalam Sumber Daya Insani IPNU-IPPNU.

Saat ini banyak Pelajar/pemuda yang hanya sebatas ikut-ikutan saja dalam Berorganisasi IPNU-IPPNU tanpa memiliki visi dan misi yang jelas, Mindset mereka masih kekanak-kanakan, dalam artian bahwa Pola Pikir mereka masih belum dewasa. Adanya kaderisasi di IPNU-IPPNU pun saya kira belum berdampak maksimal pada kualitas kader IPNU-IPPNU. Sebagai contoh dalam hal kedisiplinan waktu Kader IPNU-IPPNU masih jauh dari kata berkualitas, bagaimana tidak lawong misalekalau ada Rapat jam 19.00 Wib, namun yang terjadi adalah Pengurus IPNU-IPPNU malah baru datang pukul 21.00 wib. Selain itu saat mengadakan kegiatan yang terjadi banyak acara yang dimulai tidak tepat waktu, bahkan molor hingga 2 jam. Walaupun tidak semuanya seperti itu, namun saya kira banyak lah kejadian seperti ini dari tingkatan yang paling rendah Ranting sampai tingkat teratas PP pun saya kira sama seperti ini.

Saya kira ini permasalahanya ada di pola pikir kita yang masih terbiasa dengan tradisi lama yang buruk, membiasakan hal yang biasa terjadi, namun perlu kita catat bahwa hal seperti ini bisa menghambat kemajuan Organisasi, misal rapat yang tadinya di jadwalkan pukul 19.00 untuk membahas banyak agenda tetapi yang terjadi pengurus baru datang pukul 20.30 wib hal ini bisa mengurangi esensi dari Rapat tersebut. mungkin tak sedikit kader IPNU-IPPNU yang berpikiran “ah, berangkatnya nanti aja lah, paling jam segini belum di mulai”. Pemikiran-pemikiran seperti ini harus kita rubah. Memang tidak semuanya kader IPNU-IPPNU punya kesibukkan, tetapi setidaknya bisa menghormati waktu.

Kedispilinan adalah hal yang harus di miliki bagi segenap kader IPNU-IPPNU, baik disiplin waktu ataupun disiplin yang lainnya. Semua pengurus ranting sampai Pimpinan Pusat harus mempunyai Sifat kedisiplinan yang tinggi, kita jangan kalah dengan anggota kita. Disaat anggota kita hadir tepat waktu dalam sebuah pertemuan rutin. Kita sebagai pengurus malah datang terlambat, ini bisa menjadi bumerang bagi kita sebagai organisasi kader.

Selain faktor kedisiplinan waktu, banyak hal yang pelu diperbaiki dari segi sifat, sikap,akhlak dan lain sebagainya. Ditingkatan ranting ataupun PAC masih banyak kader yang takut akan beberapa hal, seperti masih belum mau jika menjadi MC, takut dijadikan ketua panitia, malu bertanya, malu berpendapat, takut salah, Bahkan disuruh memimpin Doa saja tidak mau. Ini masih wajar jika di tingkatan Ranting, namun menjadi tidak wajar jika sudah tingkatan PAC maupun di atasnya.tetapi setidaknya kita mau berubah untuk menjadi lebih baik. Hal-hal diatas adalah sulit dilakukan, tetapi asalkan kita mau berusaha dan mau belajar bisa menjadi pengalaman buat kita. Intinya jangan takut salah udah itu saja.

Kemudian dalam hal mencari ilmu juga harus di niati dengan baik, jangan ikut mencari ilmu tetapi niatnya mau cari uang saku ataupun mencari suatu hal yang keluar dari esensi Mencari ilmu tersebut. Ini yang tidak boleh. Kader IPNU-IPPNU harus punya prinsip yang jelas dalam mencari ilmu yaitu ingin mencari pengetahuan baru dan ingin mengamalkannya. Ini harus ditanamkan dalam hati rekan/ita semuanya.

Mental kader IPNU-IPPNU harus di tingkatkan, paling tidak dari hal-hal kecil kita mau melakukannya. Kemajuan organisasi IPNU-IPPNU ada di tangan kita sendiri selaku kader, bagaimana sikap kita, kedisiplinan kita, cara berpikir kita, tujuan kita ikut IPNU-IPPNU, itu akan menentukan sukses tidaknya  Organisasi. Pentingnya Revolusi Mental bagi Kader IPNU-IPPNU agar mampu bersaing dengan kader yang lain. Dari tingkatan bawah sampai atas harus ada Perubahan dalam hal berorganisasi dan perubahan pola pikir yang lebih baik. Tujuan organisasi akan tercapai jika semua Stakholdernya mampu mengemban amanat dengan baik dan penuh tanggungjawan. Mari kita ubah mindset kita yang buruk menuju kearah yang lebih baik, berani melakukan sesuatu yang baik walaupun nantinya akan salah, karena kesalahan adalah modal awal menuju kebenaran. Mungkin itu saja yang bisa saya Ungkapkan.
WallahulMuwafiq ila Aqwamithoriq.
_salah satu faktor majunya negara Jepang adalah masyarakatnya punya kedisiplinan yang Tinggi_
Salam,

 Khairul Anwar


Selasa, 25 Juli 2017

Pentingnya Berorganisasi bagi Pemuda


Organisasi adalah bentuk formal dari sekelompok manusia dengan tujuan individualnya masing-masing yang bekerjasama dalam suatu proses tertentu untuk mencapai tujuan bersama (tujuan organisasi). Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang untuk berkumpul, bekerja sama secara rasional dan sistematis, terencana, terpimpin dan terkendali dalam memanfaatkan sumber daya, sarana dan prasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Lalu apa pentingnya berorganisasi ? saat banyak yang bilang apa sih untungnya ikut organisasi ? Cuma buang-buang waktu dan membuang tenaga serta pikiran.  Ucapan-ucapan seperti ini sebenarnya mereka lontarkan karena mereka tak pernah terjun secara langsung di organisasi. Jadi ketidaktahuan mereka akan pentingnya organisasi membuat mereka berucap seperti itu. Toh kalaupun membuang waktu, tenaga, serta pikiran itupun demi terciptanya tujuan organisasi secara positif, jadi memang berorganisasi itu membuang-buang waktu, tenaga serta pikiran tapi itu dalam kerangka yang positif yang akan membawa banyak manfaat bagi kita dan orang lain.

Organisasi Bisa menjadi tempat yang pas bagi kita (para pemuda) untuk menimba ilmu, menambah pengalaman, menambah teman,memperluas jaringan, mengasah soft skill dan lain sebagainya. Dengan berorganisasi kita akan menemukan jati diri yang sebenarnya, berorganisasi itu asyik, permasalahan-permasalahan yang dihadapi di dalam berorganisasi menjadi bekal berharga untuk kita dalam menjalani hidup ini. Karena kalau sudah terbiasa di hadapkan dengan problem maka kita tidak kaget kalau suatu saat mengalami problem dalam hidup kita yang sebenarnya.

Berorganisasi itu bisa mendekatkan kita dengan masyarakat, karena di dalam organisasi kita selalu berhubungan dengan orang lain. Di organisasi kita akan sering berinteraksi dengan berbagai macam orang. Dan hal ini sangat berguna untuk kita setelah terjun di dunia kerja. Ilmu yang kita dapatkan di organisasi belum tentu di dapatkan di bangku sekolah maupun perkuliahan. Sebagai contoh : ilmu berbicara di depan umum, di bangku sekolahan maupun perkuliahan  hal ini tidak banyak di ajarkan, toh kalaupun di ajarkan hanya sebatas formalitas belaka untuk menunjang nilai akademik. Berbicara di hadapan banyak orang memang membutuhkan mental yang kuat, karena seberapa pintarnya kamu kalau tak memiliki mental yang kuat pasti akan grogi saat dihadapan banyak orang.

Selain itu, belajar di organisasi mampu meningkatkan kreativitas, selalu memiliki ide-ide yang bagus untuk disalurkan. Aktif di organisasi membuat kita banyak dikenal orang, kita akan menjadi pribadi yang ramah dan menarik di mata masyarakat. Organisasi juga mengajarkan kita untuk belajar bertanggung jawab, kerja keras dan pantang menyerah. Nilai yang tinggi saja tidak cukup sebagai bekal kita melamar kerja. Karena itu dibutuhkan skill yang lain dan di dalam organisasi adalah tempatnya. Kerjasama tim dalam berorganisasi juga bermanfaat bagi kita saat kita sudah kerja. Karena bekerja juga membutuhkan kerjasama tim yang baik.

Para orang- orang hebat yang saat ini duduk di pemerintahan RI dulunya juga seorang aktivis organisasi, jadi tak mengherankan kalau suatu organisasi mampu menghasilkan orang-orang hebat yang akan memimpin negeri ini. Sebagai contoh : Menteri sosial, Khofifah Indar parawansa saat masih muda aktif di berbagai organisasi seperti IPPNU dan PMII, kemudian ada Menpora Imam Nahrowi yang dulu aktif di PMII. Dan banyak lagi, Dari kepala desa sampai Presiden pun dulunya adalah orang yang aktif di berbagai organisasi. Bahkan Seorang Pengusaha Sukses pun pasti pernah aktif di berbagai Organisasi. Tanpa berorganisasi mustahil mereka semua bisa sukses seperti itu.

Organisasi itu banyak jenisnya, mulai dari organisasi politik, organisasi mahasiswa, organisasi olahraga, organisasi masyarakat, sampai organisasi pelajar. Pilih sesuka kamu organisasi yang akan di ikuti, usahakan komitmen dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan aktivitas berorganisasi. Serap sebanyak mungkin ilmu yang ada di organisasi, jangan malu untuk bertanya, jangan takut kalau ditunjuk sebagai ketua panitia kegiatan, cari pengalaman sebanyak mungkin, asah minat dan bakat kalian di organisasi. banyak hal yang akan di dapat di organisasi. So, tunggu apa lagi ? ayo berorganisasi wahai para anak muda !!!

_Jangan hidup di organisasi, tetapi hidupkan organisasi_


khairul anwar

Sabtu, 22 Juli 2017

Mbah Liem Pencetus ‘NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya’


KH Muslim Rifai Imampuro atau yang akrab dipanggil Mbah Liem tergolong kiai yang bersahaja, nyentrik, sering berpenampilan nyleneh, misal dalam menghadiri beberapa acara. Saat memyampaikan pidatonya di muka umum sering berpakaian ala tentara, memakai topi berdasi bersepatu tentara tapi sarungan.

Bahkan pada saat prosesi upacara pemakaman Mbah Liem pun juga tergolong tidak seperti umumnya, saat jenazah dipikul dari rumah duka menuju makam di Joglo Perdamaian Umat Manusia sedunia di komplek pesantren diarak dengan tabuhan hadroh “sholawat Thola’al Badrun alainaa” proses pemakamanya seperti Tentara menggunakan tembakan salto yang dipimpin langsung oleh TNI/Polri hal ini dilaksanakan sesuai wasiatnya.

Mbah Liem seolah menutupi indentitasnya bahkan hingga kini putra-purtinya tidak mengetahui persis tanggal lahirnya. Salah satu putra Mbah Liem yang bernama Gus Muh mengatakan Mbah Liem lahir pada tanggal 24 April 1924 namun begitu Gus Muh sendiri belum begitu yakin. Soal identitas Mbah Liem hanya sering mengatakan kalau beliau dulu adalah bertugas sebagai Penjaga Rel kereta Api. Tentang silsilah pada akhir akhir hayatnya menurut informasi dari Gus Jazuli putra menantunya bahwa Mbah Lim pernah menulis di kertas bahwa ia masih keturunan keraton Surakarta. 

Kiprah Mbah Liem di NU dan untuk NKRI belum banyak orang yang tahu apalagi mendokumentasikannya, hanya setelah beliau wafat sudah mulai ada yang menulis artikel atau cerita-cerita mengenai Mbah Liem di web/blog dan di medsos. Mbah Liem dikenal sangat dekat dengan Gus Dur bahkan jauh sebelum Gus Dur menjadi presiden kedua kiai ini sudah saling akrab. 

Banyak orang mengatakan bahwa Mbah Liem adalah Guru spiritualnya Gus Dur. Dalam struktur NU baik mulai tingkat bawah hingga pengurus besar nama Mbah Lim tidak pernah tercatat sebagai pengurus namun kiprahnya dalam menjaga dan membesarkan NU tidak absen sedikitpun. Mbah Liem walaupun tidak pernah menjadi pengurus NU namun selalu mejadi rujukan para kiai dalam menahkodai NU, bahkan Mbah Liem hampir pasti selalu hadir  dalam setiap acara-acara PBNU mulai dari Konbes, Munas hingga Muktamar NU.

Setelah berkelana nyantri ke berbagai pondok pesantren terutama nyantri pada kiai Shirot Solo, Mbah Liem akhirnya hijrah ke Klaten tinggal di dusun Sumberejo Desa Troso Kecamatan Karanganom lalu mendirikan Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti. Nama pesantrren tergolong unik dan sudah pasti merupakan bukti konsistensi Mbah Liem dalam mencintai dan menjaga NKRI dan Pancasila. 

Pada kurun tahun 1983 kelompok Islam radikal atau bisa disebut islam transnasional mulai mempersoalkan lagi Pancasila sebagai dasar negara dan mempertanyakan lagi relevansi Pancasila dengan Islam. Gagasan kelompok radikal yang mulai menyoal lagi Pancasila dipandang oleh para kiai NU sangat membahayakan keutuhan NKRI dan Pancasila maka NU segera menyikapi dengan mengadakan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Sukorejo, Situbondo Jawa Timur dengan hasil sebagai berikut:

1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan Agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan Agama.

2. Sila ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila sila yang lain, mencerminkan tauhid menurutpengertian keimanan dalam Islam.

3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syariat, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.

4. Penermaan dan pengalaman pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat ilsam Indonesia untuk menjalankan syariat agamannya.

5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pegertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Semenjak Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai dipersoalkan oleh kelompok radikal maka para kiai terutama Mbah Liem dalam setiap acara apapun terus mengatakan dan mendoakan agar NKRI Pancasila Aman Makmur Damai HARGA MATI. 

Mbah Liem kalau berpidato selalu judul utamanya adalah tentang kebangsaan dan kenegaraan, kurang lebih kalimatnya “mugo-mugo NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati” (Semoga NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati).

Di masjid Pondoknya Mbah Liem setiap setelah iqomat sebelum sholat berjama’ah selalu diwajibkan membaca do’a untuk umat islam, bangsa dan negara Indonesia, berikut Doanya:

Subhanaka Allahumma wabihamdika tabaroka ismuka wa ta’ala jadduka laa ilaha Ghoiruka.

“Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho NEGORO KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PANCASILA KAPARINGAN AMAN, MAKMUR, DAMAI. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah.”

Menurut kesaksian Habib Luthfi bin Yahya dalam buku Fragmen Sejarah NU karya Abdul Mun’im DZ mengatakan, pada saat Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani datang ke Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Mbah Liem meneriakkan yel, NKRI Harga Mati...! NKRI Harga Mati...! NKRI Harga Mati...! Pancasila Jaya, maka sejak itulah yel-yel NKRI Harga Mati menjadi jargon, slogan tidak hanya di NU tapi di beberapa pihak seperti di TNI. Jadi slogan atau jargon “NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya” dicetuskan oleh KH Muslim Rifai Imampuro atau Mbah Liem.

Ali Mahbub, Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah

Rabu, 19 Juli 2017

Curhatan Rahmatan lil 'Alamin


Saya baru tahu dari rekan saya Lala Shofwatul Mala kalau curhat di tafsil jadi dua. Yakni (1) Curhat yang tidak layak di baca banyak orang, dan (2) Curhat yang layak dibaca banyak orang.
Urusan curhat yang pertama ini adalah soal-soal yang sangat pribadi sekali; misal saja seperti temen saya Surip yang kisah cintanya tidak pernah di anggap oleh gebetannya. Mungkin rekan-rekan juga banyak yang mengalami, (merasa) berhubungan sudah lama namun karena satu sebab akhirnya si target memilih menepi, atau malah membakar semua kisah yang pernah terjadi hingga tak berbekas; bukan sebatas bakar-bakaran foto, tapi juga hapus-menghapus beranda hingga info relationship. Lebih parahnya kalau si cewek sampai diniati sepenuh hati untuk amnesianisasi diri.
Ya seperti kisah Surip temen saya tadi; yang tak pernah dianggap oleh gebetannya meski begitu banyak kisah romantis -sekali lagi; menurut curhatan surip- yang sudah bertahun-tahun berusaha -paling tidak untuk- mendekati. Kisah nyata yang sebegitu nyata itu akhirnya cuma jadi epos atau vollkommen vergangen -meski tidak sepenuhnya seperti ini-. Kisah Surip ini hanya jadi kisah masa lalu yang tidak berbekas sama sekali; tidak berawal dan tidak berakhir alias tidak ber titimangsa.
Tentu, penjelenterehan kasus ini semata-mata hanya untuk kerpeluan akademik; bukan untuk membuka aib Surip; apalagi urusan cinta pribadi seperti ini memang penting gak penting; dan seperti disebutkan di awal: masuk kategori curhat yang tidak bisa dibaca banyak orang.
Yang kedua, adalah Curhatan yang layak dibaca banyak orang. Setidaknya saya memiliki 3 syarat untuk surhatan jenis ini. Nah, Curhat jenis kedua inilah yang sebenarnya ingin saya bagi secara mendalam kepada rekan-rekan. Untuk itu mari kita kembali ke pengertian paling mendasar dari curhatan,
“Curhat atau curahan hati merupakan saat di mana satu orang mencoba untuk menceritakan sesuatu kepada orang-orang yang dianggap dekat, dan biasanya yang diceritakan itu masalah personal.” – ini sumbernya wikipedia lo; ndak main-main.
Kalau merujuk ke paklik wikipedia ini tentu memang seharusnya Curhatan itu bersifat personal (rahasia) dan tidak di umbar-umbar. Namun, bolehlah di jaman pra-robot yang didominasi sosial media ini kita mencoba memperluas maknanya; apalagi memang realitanya ndower majority pengguna media sosial tidak peduli dengan ta’rifan paklik wikipedia itu dan cenderung nyetatus curhat secara memanusia-buta.
Berangkat dari hal tersebut, akhirnya saya usulkan 3 syarat tadi, agar curhatan (yang seharusnya personal) tadi bisa di terima di muka umum. Dalam bahasa nahwu kita akan coba me-muta’adi-kan curhatan atau menjadikan benar-benar pantas sampai ke objek, alih-alih membiarkan curhatan -yang tidak pantas- yang lazim  kita temui dalam dunia media sosial merajalela.
Yang pertama, Curhatan sebaiknya dilandasari dasar-dasar yang kuat, tidak semata fanatik bola yang memakai jargon menang umuk kalah ngamuk -Menang sombong kalah marah-. Kita analogikan dengan tasydid; dari kata Asy-Syiddatu yang memiliki filosofi kuat atau penekanan.
Kedua, Curhatan mengandung solusi yang membangun bukan hanya kritik abal-abal. Solusi adalah titik penghubung dari kondisi yang tidak ideal ke kondisi yang diinginkan (sebagaimana Hegel; kritik muncul sebab pergulatan/benturan terhadap sesuatu yang sudah ada terhadap hal yang ideal/absolut). Dalam hal ini bisa kita analogikan dengan huruf jar yang berfungsi sebagai penghubung dua kalimat dan juga filosofi kerendahan hatinya (refleksi diri). Jadi sebaiknya ya rekan-rekan ini punya semangat perbaikan segala macam permasalahan yang dimulai dari diri sendiri.
Ketiga, Curhatan harus untuk kemaslahatan manusia di masa yang akan datang. Jadi boleh curhat di  muka umum hanya jika yang dicurhatkan ini urusan-urusan yang penting untuk masa depan orang banyak; yakni soal pendidikan, kemanusiaan, kesehatan umat, tolong-menolong, saling mengasihi, kedzoliman penguasa, pentingnya menabung (ini juga untuk masa depan hehe), harga bumbon murah dll. Dalam hal ini kita menggunakan analogi penambahan Hamzah; yang memiliki filosofi cita-cita masa depan (karena hamzah termasuk dalam huruf mudhoroaah).
Tetek-bengek syarat di atas tentu menggunakan kacamata santri. Kalau boleh; saya juga akan meminjam kacamata mahasiswa, yakni soal curhatan yang layak di ekspos hanya ketika memenuhi standar Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan, Pembahasan, Saran Kritik hingga Daftar Pustaka.
Dengan begini insyaAlloh curhatan rekan-rekan akan menjadi Curhatan Rahmatan lil Alamin. Kalau ndakmampu memenuhi hal-hal yang tersebut di atas, mungkin curhatan rekan-rekan bisa dikembalikan ke khittoh nya sebagai sesuatu yang privat dan konsumsi orang-orang dekat. Alamakkkkkk

ipnujateng.or.id

Senin, 17 Juli 2017

Kekuatan Musik dalam Dakwah Islam


Berbicara lagu atau musik, maka hal ini tidak terlepas dari penyebaran Islam di Nusantara. Islam masuk ke Nusantara melalui tassawuf. Geneologi keilmuan ini tak bisa terbantahkan bahwa dengan model tassawuf, Islam dapat diterima di Nusantara. Bukti-bukti kitab klasik karya ulama Nusantara seringkali berwujud syair, atau dalam bahasa sekarang bisa disebut lirik, yang jika dipadupadankan dengan instumen musik maka akan melahirkan apa yang disebut dengan lagu.

Sejarah musik Islam tak bisa terlepas dengan filsuf-komponis yang sangat masyur, Al Farabi. Beliau merupakan filsuf besar pengarang Kitabu al-Musiqa al-Kabir, sebuah kitab yang membahas tentang teori musik. Bahkan, musik modern yang kini sering kita perdengarkan juga tak bisa terlepas dari teorinya Al Farabi ini. Al Farabi merupakan komponis yang mahir dalam membuat nada-nada indah, baik haru, sedih, maupun bahagia.

Diriwyatakan bahwa Al Farabi suatu ketika memainkan alat musik di depan penguasa Syiria. Saat Al Farabi memainkannya, para hadirin seketika bisa tertawa, lantas ketika Al Farabi mengubah nada, para hadirin bisa seketika menangis bahkan tertidur. Tentu ini bukan sihir, bagi penikmat musik klasik barat, maka anda akan tahu sensasi ketika anda mendengarkan alunan nada-nada Mozart, Beethoven, maupun Vivaldi yang sangat terkenal itu.

Kembali kepada lagu dan dakwah, para wali di Tanah Jawa merupakan para maestro seni. Kita bisa sebut Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Giri dan kawan-kawan yang merupakan para sufi-seniman yang sangat ahli dalam membuat syair dan nada. Dandhanggula, Maskumambang, Asmarandana dan lain-lain itu, semuanya merupakan racikan syair karya para filosof Tanah Jawa ini. Bahkan untuk tembang lir-ilir dan cublek-cublek suweng adalah bukti bahwa lagu ini sudah sangat melegenda, kita bisa bayangkan, sebuah lagu dapat bertahan selama lebih dari 500 tahun. Luar biasa bukan? Bahkan pada era itu, Mozart dan Beethoven yang sangat terkenal di Barat itu belum lahir sama sekali. 

Sampai sekarang, metode dakwah untuk menarik simpati masyarakat Indonesia pada khususnya, tak akan bisa dilepaskan dengan yang namanya lagu. Mau bukti? Saat Ramadhan tiba, perkawinan antara dakwah-lagu-industri menjadi satu kesatuan utuh. Lagu-lagu bertema dakwah bertebaran di mana-mana. Semua masyarakat menyambutnya dengan senang dan bahagia, judulnya pun bermacam dan beragam, ada yang sangat sufitik, adapula yang renyah sehingga mudah dipahami oleh semua kelas sosial. Baik yang berbahasa Arab, Inggris, Indonesia, semua didengarkan dan berusaha dihafal.

Mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumid Din bahwa musik dapat membantu seseorang meningkatkan perasaan religiusnya dan mengalami pengalaman mistik. Selamat mendengarkan musik para salikin!


Farid Dimyati, penulis merupakan mahasiswa pascasarjana jurusan Filsafat Islam STFI Sadra Jakarta

Sabtu, 15 Juli 2017

Buku Dalam Hidup Tolchah Mansoer

“Karena aku melarat, aku tidak bisa kemana-mana. Pergiku hanya dalam buku-buku. Dengan dan karena buku-buku itu aku bisa mengembara ke seluruh dunia, bahkan ke dunia silam.”

Kutipan kata-kata Bung Karno tersebut ditulis oleh Prof. Dr. KH. Tolchah Mansoer di suratnya kepada Mahbub Junaidi tertanggal 29 Juni 1979. Dari kutipan tersebut seolah menegaskan bagaimana kegemaran Tolchah terhadap buku. Sosok yang menjadi ketua umum pertama Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama itu begitu akrab dengan dunia membaca sejak kecil hingga diakhir hayatnya.

“Bacaannya lintas batas, seperti tampak dari rujukan dalam berbagai tulisannya. Ingatannya tajam. Memang, kalau Abah sedang membaca, baik duduk maupun berbaring, Abah hampir tidak bisa diganggu.” Begitu kesaksian Fajrul Falakh tentang kegemaran membaca Abahnya, Tolchah Mansoer, sebagaimana tertulis dalam kata pengantar buku, KH. Tolchah Masnsoer, Biografi Profesor NU yang Terlupakan.

Keakraban Tolchah dengan dunia bacaan terlihat sejak kecil. Ia melahap buku-buku yang dimiliki oleh kakaknya, Usman Mansoer. Pria kelahiran 10 September 1930 di Malang tersebut, menjadikan buku sebagai “tempat bermain”. Tumbuh di perkampungan padat penduduk, menjadikan Tolchah kecil tak memiliki tempat bermain yang representatif. Maka, lembaran-lembaran buku disulapnya menjadi tempat bermain.

Kegemarannya membaca ditunjang dengan kemampuannya dalam berbagai bahasa asing. Terhitung tiga bahasa asing yang ia kuasai, mulai dari bahasa Inggris, Arab, sampai Belanda. Dengan kemampuan bahasa asing yang cukup beragam tersebut bacaan Tolchah pun beragam.

Penguasaan bahasa Arabnya, ia pelajari sejak di Sekolah Rakyat Muallimin NU Malang pada tahun 1937. Begitu pula dengan bahasa Belanda, Tolchah awal kali mempelajarinya dari sekolah tersebut. Tak heran, kala itu, NU melalui prakarsa KH. Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) menggagas pengenalan bahasa Belanda di pesantren dan kalangan Nahdlatul Ulama. Upaya ini tak lain sebagai upaya agar umat Islam Indonesia tidak dibodohi oleh Belanda dengan bahasa asingnya tersebut. Dimana penguasaan Tolchah terhadap bahasa Belanda tersebut banyak membantunya dalam menekuni keilmuwan hukum tata negara semasa kuliahnya kelak.

Semasa hidupnya, Tolchah tak pernah mengenyam dunia pendidikan pesantren. Saat masih kecil, ia menolak untuk dimasukkan pesantren. Tetapi meski tidak pernah nyantri, Tolchah sangat akrab dengan dunia literasi pesantren (kitab kuning). Interaksinya dengan dunia pesantren sebatas ngaji pasanan, yaitu mengaji khusus pada bulan Ramadhan ke beberapa pesantren. Diantaranya adalah Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh KH. Hasyim Asyari dan Pesantren Al-Hidayah, Lasem yang diasuh oleh KH. Ma’sum Lasem.
Penguasaan Tolchah pada kitab kuning tidak lain dikarenakan ia telah menguasai ilmu nahwu, shorof dan mantiq ketika di Mualimin NU dahulu. Kemampuannya dalam bahasa Arab ini terlihat dari penguasaan dan hafalnya akan Kitab Alfiyah, sebuah kitab gramatika bahasa Arab tingkat tinggi yang harus dikuasai di pesantren.

Kemampuannya dalam bahasa Arab, kemudian dilanjutkan Tolchah dengan mempelajari secara otodidak kitab-kitab klasik khas pesantren. Sebagaimana pengakuan Profesor Machasin, Tolchah begitu gamblangnya mengaji dan menjelaskan kitab-kitab klasik tersebut dikediamannya. Biasanya kitab yang dikaji di kediaman Tolchah di Jalan Colombo, nomor 21 Yogyakarta itu, sebagaimana pengakuan Machasin, adalah kitabTajridus Sholih, Riyadus Sholihin, al-Jauharul Maknun, Ar-Rud, Alfiyah Ibnu Malik, Tafsir Jalalain, Bidayatul Mujtahid dan beberapa kitab lain. Ataupun kitab-kitab yang lebih ringan seperti Jurumumiyah, Imrithy, dan Fathul Qorib kepada anak-anaknya.

Ada kisah menarik tentang penguasaan Tolchah akan kitab-kitab klasik khas pesantren tersebut. Suatu ketika, ia bersilaturrahmi kepada kakek mertuanya, KH. Abdul Wahab Chasbullah. Pada saat itu, sang kakek mertuanya merupakan salah seorang pengacara atau dikenal kala itu dengan sebutan pokrol.
Ia menyampaikan kepada Tolchah, “Buat apa kalau hanya sekedar sarjana hukum; aku sendiri tidak sekolah hukum pun bisa menjadi pengacara. Tetapi sebaliknya, mampukah kau menjadi seorang alim dalam penguasaan ilmu agama (menjadi kiai) tanpa harus belajar di pondok pesantren?”

“Tantangan” dari kakek-mertuanya tersebut menjadi cambuk bagi Tolchah untuk menekuni lebih dalam kitab-kitab kuning khas pesantren. Sebagai pembuktian meski tak menempuh studi di pesantren pun ia bisa sealim para lulusan pesantren.

Bukti penguasaan Tolchah terhadap kitab kuning juga terlihat pada karya tulisnya yang berupa terjemah kitab kuning. Karya terjemah beliau diantaranya adalah Alfiyah Ibnu Malik dan Kaidah-Kaidah Hukum Islam: Ilmu Ushulul Fiqh yang diterjemahkan dari kitab Ushul Fiqh karya Abdul Wahab Khalaf. Adapula Sajak-Sajak Burdah Imam Muhammad Al-Bushiri yang merupakan terjemah dari Qasidah Burdah-nya Syekh Bushiri.
Dalam dunia penerjemahan kitab-kitab klasik, beliau juga mendorong para penulis muda lain untuk aktif menerjemahkan. Salah satu diantaranya adalah karya Ali As’ad yang menerjemahkan kitab fiqih klasik, Fathul Muin. Kala itu, upaya penerjemahan yang dilakukan oleh Ali As’ad banyak ditentang oleh kalangan pesantren, termasuk Pesantren Lirboyo Kediri danPesantren Tegalrejo, Magelang. Penolakan tersebut didasarkan atas kekhawatiran kemalasan para santri untuk mempelajari bahasa Arab karena ada terjemahannya. Namun, Tolchah Mansoer terus membela dan memotivasi Ali As’ad untuk menterjemahkannya. Dan ia melakukan bimbingan kepada Ali As’ad ditengah kesibukkannya menjadi anggota Badan Pemerintahan (BPH) Yogyakarta.
Selain karya terjemah, Tolchah Mansoer juga menulis buku tentang persoalan keagamaan. Diantaranya berjudul Pokok-Pokok Ahlusunnah wal Jama’ah (1974), Masalah-Masalah Keagamaan Yang Tidak Boleh Diperselisihkan Antar Sesama Umat Islam (1982), Ushul Fiqh (1995).

Selain dalam bidang keagamaan, Tolchah Mansoer yang pada dasarnya adalah pakar hukum tatanegara juga banyak menulis buku yang membahas bidang keilmuwannya tersebut. Diantaranya adalah Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-Kekuasaan Eksekutif dan Legeslatif Negara Indonesia (1983), Sumber Hukum dan Urutan Tata Tertib Hukum (1979), Peranan Umat Islam Dalam Proses Pelaksanaan Pemurnian Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (1971), Hukum, Negara, Masyarakat, Hak Asasi Manusia dan Islam (1979),  Demokrasi Sepanjang Konstitusi (1972), Rakyat, Kekuasaan dan Pemerintah (1981), Kedudukan Penetapan Presiden Pada Zaman Orde Baru (1971), Teks Resmi dan Beberapa Soal Tentang UUD 1945 (1977), Hukum Tatanegara Sesudah Pemilihan Umum 1971 (1978), Konsep Dasar Islam Tentang Negara (1977), Beberapa Soal Tentang Undang-Undang Dasar 1945 (1970), Kepercayaan Menurut Undang-Undang Dasar 1945: Hasil Keputusan Senat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga (1971), dan Masalah Referendum (1984).

Kepakaran Tolchah Mansoer dalam bidang hukum tata negara sekaligus dalam kajian keislaman menjadikannya sebagai pemikir yang unik. Sebagaimana yang diutarakan oleh Profesor Jimly Asshiddiqy, “Pemikiran dia [Tolchah] di satu sisi memberikan landasan dan jalan bagi aktualisasi hukum Islam dibidang tata negara, dan di sisi yang lain memperkaya perkembangan hukum tata negara. Kemampuan tersebut saat ini sudah sangat jarang dimiliki oleh ahli hukum tata negara kita.”

Diluar bidang keagamaan dan tata negara, Tolchah juga menelurkan karyanya dibidang yang lain. Sedjarah Perjuangan IPNU dari Masa ke Masayang ditulisnya dengan beberapa rekannya semasa menjadi ketua umum IPNU tahun 1964 dan Progres Masa Depan Mahasiswa Mahasiswa IAIN Ditinjau dari Segi Sosial dan Politik semasa menjadi dosen.
Tak hanya berupa buku, Tolchah Mansoer juga aktif menulis artikel di beberapa media, baik lokal maupun nasional. Beberapa media yang sempat memuat tulisannya antara lain: Bangkit Yogyakarta), Aula (Surabaya), Gema (Yogyakarta), Masakini (Yogyakarta), Pelita (Jakarta), danKedaulatan Rakyat (Yogyakarta).

Buku, baik dibaca, ditulis maupun menulis tentangnya, telah menjadi bagian dari kehidupan sang pendiri IPNU ini. Suatu teladan yang patut diikuti oleh semua generasi, wabil khusus bagi kader-kader IPNU. Begitu.
Langkah panjangku
Telah lama kuukur
Aku tak tahu
Berapa lagikah.
Hari-hariku telah berlalu
Dan berapa hari lagikah
Sudah dekatkah
Langkahku akan berhenti
Dan apakah hari-hariku
Hingga hari ini.
(Puisi Tolchah Mansoer)

ipnujateng

Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...