Kamis, 29 Juni 2017

MAKESTA III Siapkan Kader Militan


Dalam rangka membetuk kader yang militant dan cinta Pancasila empat ranting di Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kedungwuni Ranting Bugangan, Ranting Kebaran, Ranting Pajomblangan dan Ranting Podo mengadakan Masa Kesetian Anggota (MAKESTA) III yang berlangsung dari hari Rabu – Jum’at tanggal 28-30 Juni 2017 di Komplek MI Walisongo Bungangan.

 MAKESTA III ini mengangkat Tema “ Membentuk generasi muda yang berilmu dan berakhlaqul karimah dengan berlandaskan Ahlussunah wal jama’ah”. Dalam acara Pembukaan yang dihadiri perwakilan Pimpinan Ranting se-Anak Cabang Kedumgwuni dan Pengurus PAC IPNU IPPNU Kedungwuni.

“Seorang Kader harus siap dimana saja dan kapan saja, meskipun harus melaksanakan Kegiatan MAKESTA ini masih dalam suasana lebaran” ucap Ali Maksum selaku ketua panitia, Peserta MAKESTA III berjumlah 73 yaitu dari Ranting Bugangan, Ranting Kebaran, Ranting Pajomblangan dan Ranting Podo tambahnya.

Hasan Basri Ketua PAC IPNU Kedungwuni dalam sambutannya mengatakan “ Semoga kegiatan ini  tidak hanya menjadi formalitas jenjang pengkaderan , namun bisa menjadi bekal pengetahuan eorang anggota terhadap IPNU IPPNU itu sendiri”. Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kedungwuni juga mengucapkan Minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh kader maupun Pimpinan Ranting di bawah naungan PAC IPNU IPPNU Kedungwuni jika perjalanan seperempat periode ini banyak salah dan miss communication.

Kegiatan MAKESTA III  ini di buka oleh Ustadz Latif Udin dari Kelurahan Kradenan Kota Pekalongan sekaligus Mauido Hasanah.
Hasbas / aji lukmana


Minggu, 25 Juni 2017

DKC CBP IPNU Kabupaten Pekalongan Terjunkan 200 Personil


Pekalongan: Sabtu 24/6/2017 Dewan Koordinasi Cabang CBP IPNU Kabupaten Pekalongan mengadakan kegiatan pengamanan malam hari raya diberbagai tempat wilayah Kabupaten Pekalongan antara lain di jalan raya Bojong (depan Mapolsek Bojong), jalan raya Buaran (Perempatan Bligo), jalan raya Kedungwuni ( perempatan Podo dan Pertigaan Karangdowo) dan lain lain.

“Terimakasih telah menjalankan itruksi dari Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Pekalongan dengan baik dalam membatu pihak berwajib dalam pengamanan malam hari raya Idul Fitri tahun 2017 “ kata Rekan Murtadho selaku Ketua PC IPNU Kabupaten Pekalongan. Dia juga berharap mampu menularkan kemampuan yang didapat dalam kegiatan malam hari ini. Atas nama Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Pekalongan mengucapkan Selamat hari raya idul fitri 1438 H Minalaidin wal Faizin mohon maaf lahir batin.

Komandan DKC CBP IPNU Kabupaten Pekalongan Rekan Yasfiudin mengatakan “ kegiatan pengamanan malam hari raya idul fitri ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan DKC CBP IPNU Kabupaten Pekalongan”. Dengan adanya kegiatan ini rekan Yasfiudin mengingikan  agar para anggota CBP IPNU di seluruh Kabupaten Pekalongan melakukan kegiatan positif di malam hari raya Idul Fitri.


Aji Lukmana

Jumat, 23 Juni 2017

Road Show Bukber Bersama Ranting



Moment bulan Suci Ramadhan sangat menarik untuk diagendakan kegiatan-kegiatan positif, mengingat pesan nabi bahwa barangsiapa yang berbuat amal dibulan puasa maka akan dilipatgandakan pahalanya 10 kali lipat. Selain itu bulan ini juga menjadi bulan istimewa karena kita juga diajak untuk merasakan kegetiran yang dirasakan oleh kaum yang lemah didalam menahan lapar dan haus.
Kesempatan bulan ini menjadi ladang emas menurut Pimpinan Ranting di Kecamatan kedungwuni untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan bersama anggota, diantaranya dengan menyelenggarakan bakti sosial membagi jajan takjil kepada pengguna jalan di daerah kedungwuni, selain itu juga moment untuk bisa bareng-bareng melakukan buka bersama.
Sebenarnya kegiatan tersebut berlangsung karena memang waktu Akhir-akhir ini tradisi buka bersama atau biasa disingkat dengan istilah Bukber telah merajalela dikalangan masyarakat indonesia, khususnya kedungwuni sendiri ikut juga dalam meramaikan kebiasaan di masyarakat dekade ini
Dalam kesempatan lain Menurut M. Khusni Mubarok, sekertaris PAC IPNU Kecamatan kedungwuni pasca kunjungannya menghadiri undangan Buka bersama di PR IPNU Kwayangan, kegiatan ini seyogyanya dapat mengispirasi IPNU daerah lain dalam rangka mengakrabkan hubungan antara pengurus dan anggota dengan cara melaksanakan makan bersama sambil bercanda ria.
Tercatat dari beberapa kunjungan yang dialakuakn oleh anak cabang ada sekitar 12 ranting yang ikut menyemarakan bulan ramadhan dengan melaksanakan Agenda Bukber diantaranya Pimpinan Ranting IPNU IPPNU pajomblangan, Kwayanga, Bugangan, Ambokembang, Proto Timur dan seterusnya. Adapun konsep dari setiap ranting bersifat variatif, ada yang dibingkai dengan membagi takjil dan bukber, khataman al-Qur’an dan bukber dan ada pula dengan konseo Bukber dan shalat terawih berjamaah.

M. Chisbullah (koordinator Lembaga Pers dan Jurnalistik)

Selasa, 20 Juni 2017

Filosofi Belajar, Berjuang Dan Bertaqwa


Belajar, berjuang dan bertaqwa mempunyai filosofi yang sangat luar biasa bila kita dapat memahaminya secara komprehensif, pastinya akan melahirkan kader-kader yang militansi sesuai harapan daripada Nahdlatul ‘Ulama, dikarenakan IPNU IPPNU adalah awal cikal bakal generasi penerusnya. Akan tetapi, Apakah selama ini semua kader NU dapat memahami makna Trilogi tersebut sesuai substansinya, sebelum diimplementasikan dalam pribadi maupun organisasi. Permasalahan ini bukan hal yang sepele, karena bila sampai tidak memahaminya akan bertentangan dengan pola pikir yang sudah menjadi budaya ditubuh NU. Untuk itu, sedikit kami paparkan makna daripada Trilogi IPNU IPPNU.


Pertama, kader muda NU dibekali dengan diawali kata Belajar. Penempatan kata yang sangat tepat didahului kata Belajar, kenapa bukan Berjuang terlebih dahulu? Sangat tidak rasional seseorang akan berjuang tanpa terlebih dahulu belajar. Apa yang akan diperjuangkan?. Zaman akhir ini perjuangan bukan lagi dengan memegang senjata seperti para pejuang terdahulu,  akan tetapi berjuang melawan moral. Kembali pada kata Belajar, definisinya pastinya sudah mengerti, yakni mencari ilmu “Tholabul ‘ilmi faridlotul ‘ala kulli muslimin wal muslimat”.  Dari Lahir, sampai Meninggal, “uthlubul ‘Ilma minal mahdi ilal Lahdi”. Namun disini kami akan membahas cara Belajar didalam organisasi IPNU IPPNU untuk mencapai Kader yang sesuai dengan harapan NU. Pembelajaran diorganisasi tentunya relatif cepat untuk langsung diterapkan, karena tidak sama seperti halnya disekolah yaitu sistem KBM. Didalam organisasi ini lebih megedepankan aksi karya nyata, artinya sambil menyelam minum air. Disini para yunior, atau anggota yang  baru masuk mengikuti/membantu apa yang senior/pembina perintahkan,artinya disini senior akan menuntun secara perlahan kader tersebut, sehingga akan mengerti dan memahami yang harus dilakukan dalam setiap kegiatan. Harus dibedakan bahasa diperintahkan antara di IPNU IPPNU dengan di instansi/kemiliteran. Didalam IPNU IPPNU istilah tersebut bukan menyuruh, akan tetapi harus ditangkap pada yunior bahwasannya yunior harus belajar ta’dhim.


Ta’dhim inilah yang terkadang menjadi tolak ukur manfaat seseorang berada didalam wadah seluruh banom NU, apalagi ketika seorang Ulama NU yang memerintahkan, tidak ada jawaban selain SIAP.  Dari sinilah manfaat keberkahan yang akan tertanam pada setiap individu seorang kader, karena selang waktu hingga akhir sekarang ini semakin banyak anggota bahkan pengurus yang kurang menjalankan keta’dhiman tersebut, merasa sudah paling pintar, paling pandai, paling tua dan lain sebagainya.


Kedua setiap kader belajar untuk memahami karakter anggotanya, karena didalam organisasi berkumpul bermacam jenis karakter seseorang, yang nantinya disatukan pemikirannya dalam satu visi yang sama. Terutama pada sikap seorang Ketua yang memimpin anggotanya, sudah barang tentu harus bijaksana dalam mengambil keputusan, memahami dan menerima semua pendapat. Meskipun seorang ketua pada dasarnya didalam Banom NU yang paling dasar yaitu IPNU IPPNU, tidak ada seorangpun yang merasa paling menguasai, konteksnya disini masih tahap Belajar, tidak ada yang merasa paling benar atau pun disalahkan, yang berhak mengoreksi adalah para senior ataupun Pembina, dalam istilahnya adalah evaluasi. Terkadang beberapa kader terbawa nafsu amarahnya, yang akhirnya munculah sifat Arogansi karena  merasa memiliki jabatan yang tinggi. Perlu diketahui, tidak semua orang mau mengikuti atau berjuang didalam organisasi, maka daripada itu  sudah ikut serta didalam organisasi merupakan syukur yang luar biasa, dan sampai ada orang  atau bahkan sudah menjadi pengurus terus sampai keluar tidak mengikuti lagi karena faktor permasalahan internal, maka kepemimpinan seseorang tersebut belum sesuai dengan kader NU yang sebenarnya. Setiap kader harus pandai dalam merawat dan menjaga anggotanya.


Ketiga, Belajar dari sejarah dan problematika yang berkembang pada bangsa dan negara, terlebih pada lingkungan setempat. Kelemahan dan kemunduran kader muda NU juga karena kurangnya wawasan pada setiap individu. Melemahnya wawasan tersebut karena malas atau tidak tertarik lagi dalam membaca sejarah dan keingintahuan mengenai tentang IPNU, IPPNU, NU, Problematika negara dan sebagainya. Zaman sekarang sudah tidak sulit dalam mencari informasi atau pengetahuan yang lain, karena fasilitas internet sudah sangat efektif menjadi kendaraan seseorang dalam mengetahui berbagai informasi dan ilmu pengetahuan. Kegemaran dalam membaca buku-buku juga saat ini sudah mulai tidak dilirik, yang akhirnya banyak kader yang pandai berbicara akan tetapi tidak berbobot penyampaiannya karena kuarangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki.


Faktor yang lain tradisi ngopi bareng plus udud. Kebiasaan yang dilakukan kebanyakan warga NU dalam tukar pikir dan sharing ilmu. Kebiasaan ini sudah sering dilakukan para senior dan pembina, sambil moci diskusi kecil-kecilan, tidak lain membahas seputar organisasi dan perkembangannya. Akan tetapi saat ini sudah mulai tidak diikuti, salah satu contoh ketika sowan kepada Ulama, Pengurus NU, Pembina, duduk belum ada 1 jam sudah mulai merasa gelisah. Heran, padahal ketika pengurus IPNU IPPNU rapat atau sekedar berkumpul bisa berjam-jam, harus dapat dipilah seharusnya, dimana duduk bersama orang-orang yang lebih tinggi atau sepuh banyak ilmu yang didapatkan dari pengalaman-pengalaman beliau.


Kata Semboyan berikutnya adalah Berjuang. Saya ingat betul ketika mendapat ijasah dari KH. Cholil Staquf bahwa beliau kurang lebihnya menuturkan “Apabila kalian sudah bangkit (berjuang), jangan sampai mundur, apapun yang terjadi, berjuanglah terus untuk NU” begitulah kurang lebihnya yang beliau sampaikan. Sebuah motivasi untuk setiap kader IPNU IPPNU dalam mengawal Aswaja di Nusantara khususnya dan Internasional pada umumnya. Penempatan yang sangat tepat, kata berjuang diletakan setelah Belajar, bila tanpa didasari dengan ilmu yang kita miliki, lalu apa yang akan diperjuangkan. Hasil daripada perjuangan yang sudah dikerjakan hasilnya akan terlihat antara berjuang yang didasari ilmu (pengetahuan dan akhlaq) dengan yang tidak, atau juga berbeda antara yang hanya menggunakan pengetahuan saja tanpa akhlaq (ta’dhim, tawadhu, dll) dengan yang menggunakan akhlaq, masih lebih baik yang menggunakan akhlaq meskipun pengetahuannya kurang, karena dengan akhlaq akan selalu menerima dan membuka diri dari masukan-masukan orang lain.


Dalam berjuang setiap kader tentunya sudah siap menerima berbagai masalah, dan yang lebih berat ketika menghadapi masalah internal, karena bila internal (pengurus dan anggota) sampai terpecah, lalu bagaimana kita berjuang menghadapi masalah eksternal (Kelompok radikal atau permasalahan bangsa negara). Menjaga kondisi kader untuk tetap berada pada garis perjuangan saja sudah sangat berat sekali, belum sampai ke doktrin untuk dicetak militansinya.  Harus dengan etika yang baik, cerdas, sabar dan tawakal dalam menjaga dan merawat kader.


Terakhir adalah Bertaqwa. Sesuai dengan definisinya, yaitu menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjahui segala larangan-laranganNya. Semua yang mengatur bumi dan langit adalah Allah SWT,  termasuk perjuangan seseorang didalam organisasi, dari masalah sampai hasil adalah sepenuhnya Ketentuan Allah SWT, yang demikian untuk menjadi pegangan seseorang dalam kehidupan ini agar selalu sabar dalam menyikapi permasalahan yang terjadi, ikhlas dalam berjuang, tawakal dari ikhtiar yang sudah dilakukan. Insya Allah bila perjuangan dilandasi ketaqwaan, Allah SWT akan selalu memudahkan dalam setiap permasalahannya dan mencukupi segala kebutuhan hambaNya.


Wallahu’alam bishshowab. Coretan ini hanyalah kebodohan penulis dengan berimpian semoga bermanfaat bagi setiap yang membacanya. Salam Pelajar Hijau, Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Nanang Hermanto (Ketua PAC Karanganyar Kab Pekalongan)

Jelang Hari Raya, CBP IPNU Kabupaten Pekalongan Adakan Tertib Lalulintas



Kedungwuni : Senin 19/6/2017 Dewan Koordinasi Cabang CBP KPP IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan mengadakan kegiatan silaturahmi kader dan pembekalan jalan malam hari raya. Acara yang bertempat di Gedung serbaguna PCNU Kabupaten Pekalongan. Dalam acara ini materi tertib lalulitas disampaikan oleh Bapak Pramono dari Polres Pekalongan.

“pelatihan ini bertujuan agar para kader CBP KPP Kabupaten Pekalongan memiliki pengetahuan tentang keselamatan berkendara di jalan raya” kata Rekan Yasfiudin selaku Komandan DKC CBP IPNU Kabupaten Pekalongan, dia juga berharap para kader CBP Kabupaten Pekalongan juga menjadi pelopor berkendara yang baik di masyarakat.

Rekan Murtadlo (Ketua PC IPNU Kabupaten Pekalongan) mengapresiasi kepada CBP yang telah secara rutin menyelengarakan kegiatan tahunan berupa tertib lalulitas, “anggota CBP merupakan anggota IPNU yang mempunyai Kompetensi dan tugas secara khusus dalam bidang-bidang tertentu, oleh karena itu melalui kegiatan pelatihan ini semua peserta di harapkan dapat meningkatkan skill dan kompetensi yang dimilik khususnya dalam bidang lalulintas” tandasnya.

“Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini adalah CBP diharapkan siap berpartisipasi aktif menyumbangkan dan membantu pihak terkait dalam pengamanan malam perayaan idul fitri nanti dengan ikhlas,sabar dan bertanggung jawab” tambah Rekan Muratdlo.

Acara ini di mulai dengan Apel kader peserta kemudian materi dan praktek tertib lalulintas lalu buka bersama dan ditutup shalat Tarawih berjamaah.
Aji Lukmana


Sabtu, 17 Juni 2017

RAKER II PAC IPNU IPPNU Kecamatan Tirto



Tak terasa setengah periode sudah dilalui oleh segenap jajaran dan pengurus Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan.Atas dasar itu, Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kecamatan Tirto selenggarakan Rapat Kerja yang kedua ini (16/06/17). Guna menentukan program kerja kedepan serta evaluasi dari program kerja sebelumnya, demi kontinyunitas organisasi.

Bertempat di Komplek Madrasah Ibtidaiyyah Desa Silirejo, Kecamatan Tirto. Acara diawali dengan Khataman Al-Qur'an di sore hari, dan Buka Puasa Bersama.
Dilanjut diskusi ringan dan Sholat Tarawih Berjama'ah di Masjid Jami' Desa Silirejo.

Acara dilanjutkan kembali sekitar pukul 20.30 yaitu agenda pembahasan program kerja dari berbagai Departemen serta Lembaga antara lain: Departemen Pendidikan dan Kaderisasi, Departemen Pengembangan Organisasi, Departemen Ekonomi dan Wirausaha, Departemen Dakwah dan Pengembangan Lingkungan, Lembaga Pers dan Jurnalistik, Lembaga CBP dan KPP. Baik dari IPNU maupun IPPNU memaparkan program kerja nya yang akan dilaksanakan setahun kedepan.

“Sangat Berterimakasih atas kerja keras setahun terakhir, semoga selalu berkhidmat di IPNU IPPNU dan juga menjaga ukhuwah antar kader di Pimpinan Anak Cabang Tirto”  kata Rekan Yasir Lana Selaku Ketua PAC IPNU Tirto, dia juga berharap para kader PAC IPNU IPPNU Tirto harus bisa menjadi cerminan yang baik di masyarakat.

Sedangkan  Rekanita Nurul Hidayah ketua PAC IPPNU Tirto mengucapkan  terimakasih sudah membantu meningkatkan kualitas  dalam setengah perode ini dan tetap solid dalam menghadapi tantangan dalam berorganisasi, “fokus untuk setengah periode kedepan adalah pengkaderan dan pendirian Pimpinan Komisariat” tambahnya.

M. Syaiful / Aji Lukmana

Jumat, 16 Juni 2017

Jalin Kebersamaan untuk Perkuat Tali Silaturohim



Demi mempererat tali silaturohim antar anggota IPNU maupun IPPNU Desa Curug, pada kesempatan Bulan Ramadhan ini, Panitia mengadakan kegiatan Buka Puasa Bersama di Kawasan Gemek Food Track Kedungwuni, Kamis petang (15/06/17).Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 5 sore ini diawali dengan sarasehan, pembacaan LPJ, dan sholat maghrib berjama'ah.

Pada kesempatan kali ini tak kurang dari 42 anggota ikut dalam kegiatan Buka Bersama ini.
Dalam sambutannya Rekan M. Zainul Aziz selaku Ketua Panitia menyampaikan," kita disini sama rasa, sama rata, duduk bersama menjalin kebersamaan dalam wadah IPNU IPPNU," dan terimakasih kepada seluruh anggota IPNU IPPNU Desa Curug yang telah berpartisipasi dalam acara ini.
"Semoga kedepannya IPNU IPPNU Curug tetap kompak, selalu semangat berkhidmat dan bermanfaat di masyarakat", tandasnya.

Dilain kesempatan Ketua IPNU Curug Rekan Mohammad Syaiful menyampaikan apresiasi kepada segenap panitia dan anggota IPNU IPPNU Curug yang telah turut serta menyukseskan kegiatan tersebut.Dari Pimpinan berharap semoga selalu terjalin komunikasi yang baik antar anggota demi bangkitnya IPNU IPPNU Curug.

M. Syaiful

Kamis, 15 Juni 2017

Roadshow Ramadhan 4 Penjuru Kota Santri


Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Pekalongan mengadakan acara Roadshow Ramadhan 4 penjuru kota santri. Kegiatan ini diisi konsolidasi pengerus Pimpinan Anak Cabang, Kopdar Kader, buka bersama dan tarawih berjama’ah, serta sosialisai program kerja Pimpinan Cabang berlangsung dari tanggal 11  - 14 Juni yang betempat di masing-masing Koordinator kecamatan (Korcam) .

Korcam 4 terdiri dari PAC Kajen, Kesesi, Lebakbarang, Kandangserang dan Paninggaran memulai kegiatan ini terlebih dahulu yaitu tanggal 11 Juni 2017 yang bertempat di taman pendopo Rumah dinas Bupati Pekalongan Kajen. Sehari kemudian korcam 1 terdiri dari PAC Doro, Karangdadap, Talun, Petungkriono bertempat di Aula Kecamatan Doro.

Tanggal 13 juni 2017 giliran Korcam 2 terdiri dari PAC Wonopringgo, Karanganyar, Kedungwuni, Bojong dan Buaran yang dilaksanakan di MWC NU Wonopringgo dan sebagai penutup yaitu Korcam 3 yang terdiri dari PAC Wiradesa, Tirto, Wonokerto,Siwalan Dan Sragi yang bertempat di MWC NU Wiradesa.

“Alhamdulillah acara Roadshow Ramadhan berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan yang berarti dan dapat dihadiri seluruh kader di kabupaten Pekalongan” kata Murtadho selaku Ketua PC IPNU Kabupaten Pekalongan, “di harapkan bisa menambah erat tali silaturahmi antar pengurus Pimpinan Anak Cabang di masing-masing Koordinator Kecamatan” tambahnya.

Ahmad Hafidz (Sekretaris PC IPNU Kabupaten Pekalongan) mengatakan “berharap untuk untuk saling bertukar informasi dan keadaan di masing-masing wilayah baik antar pengurus PAC maupun dari PAC ke pengurus Pimpinan Cabang agar jika terdapat masalah bisa di komunikasikan dengan baik sehingga mendatangkan sebuah solusi”. Komunikasi adalah salah satu kunci dalam sebuah organisasi.

Aji lukmana


Rabu, 14 Juni 2017

Teknik Memahami Informasi Benar Atau Hoax


Globalisasi mempunyai dampak di berbagai bidang termasuk bidang informasi, informasi bergerak sangat cepat menembus ruang dan waktu, Indonesia tercatat sebagai negara dengan nomor urut keenam dalam penggunaan internet di seluruh dunia. Perilaku pengguna internet Indonesia (2016) menurut survei APJI (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), melihat jenis konten yang diakses adalah 97,4% (129,2 juta) media sosial (medsos), 96,8% (128,4 juta) hiburan, 96,4% (127,9 juta) berita, 93,8% (124,4 juta) pendidikan, 93,1% (123,5 juta) komersial, dan 91,6% (121,5 juta) layanan publik. Pengguna internet di Indonesia menempati urutan ke 6 di dunia setelah Cina, Amerika, India, Brazil, Jepang, dan mayoritas penduduk Indonesia mengakses internet menggunakan Handphone.
Setiap hari di grup-grup WhatsApp (WA) dan medsos lainnya,

 Handphone kita selalu dibanjiri dengan broadcast message (pesan masal) mulai dari gambar dan informasi yang bersifat ringan (humor) sampai dengan gambar dan informasi berita dan keagamaan yang tidak tahu siapa penulisnya (walaupun tak sedikit juga yang diberi nama pembuat atau penulisnya). Informasi bisa membuat kita mudah dan juga bisa membuat kita susah. Ada orang gara-gara informasi mendapatkan kebaikan misalnya informasi tentang beasiswa dan lain-lain, dan ada orang gara-gara informasi tersebut membuatnya susah dan masuk penjara, lantas bagaimana sikap kita terhadap broadcast message tersebut? Apakah harus membacanya dan membagikan kepada teman-teman kita? Terkadang kita tanpa pikir panjang, jika kita setuju dengan pemikiran tersebut kita langsung men-share di semua grup WA kita dan medsos kita.

Jika broadcast message berupa gambar, maka cara mengeceknya ada 2 cara membuktikannya, Pertama yaitu dengan copy paste link gambar dan yang kedua dengan meng-upload file gambar, caranya adalah sebagai berikut: a) copy gambar link yg anda curigai (caranya klik kanan dan copy image url bila menggunakan google chrome dan copy image location bila menggunakan mozilla firefox); b) buka google images; c) Lihat ada gambar kamera dekat tombol kaca pembesar; d) klik gambar kamera tersebut; e) Paste Masukan URL gambar atau upload gambar yang ingin dicek, tekan enter maka Google akan menampilkan gambar dengan pola yang mirip atau sama persis beserta keterangannya; f) Bandingkanlah Tanggal Uploadnya dan juga isi beritanya lalu klarifikasi ke kantor berita atau pemilik artikel blog untuk mengklarifikasi keaslian gambar, setelah terbukti memang HOAX tolong infokan ke orang yg menyebar berita HOAX tersebut jangan-jangan dia juga tidak tahu kalau berita tersebut hoax.

Jika broadcast message berupa tulisan, ini agak rumit, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, cek siapa penulisnya. Informasi, opini, atau apapun yang disebar melalui broadcast message dan medsos pertama yang perlu kita amati adalah siapa penulisnya. Kalau kita mengenal penulisnya, maka selanjutnya adalah menanyakan langsung kepada penulisnya apakah tulisan tersebut benar-benar tulisannya. Tabayyun (konfirmasi) sesuai QS. Al-Hujurot (49):6 yang menyuruh melakukan cek dan ricek apakah tulisan tersebut benar-benar ditulis olehnya. Kalau dalam ilmu sastra Arab (balaghoh), ada istilah sebelum tasdiq harus tasawwur dulu. Maksudnya sebelum kita membenarkan sesuatu (tasdiq), kita diharuskan untuk mendalami dan mempelajari secara mendalam “sesuatu” tersebut (tasawwur) terdahulu. Bagaimana jika kita tidak mengenal penulisnya? Kita bisa mencari informasi di internet siapa penulisnya dan bagaimana track record-nya.

Kedua, cek website apa yang memberitakannya. Jika di dalam hadits ada ilmu tahrij hadis, maka ini juga bisa diterapkan dalam menganalisis berita/wacana, jika website yang memberitakan (rowi) bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya (alamat dan dewan redaksinya jelas ada nomor kontaknya), dan sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat (branded) berarti website aman, lihat juga track record lamannya bahwa tidak pernah mendapat kasus dari Menkominfo dan tidak suka menyebar informasi kebencian (hate speech) dan lain-lain.

Ketiga, cek darimana informasi tersebut didapatkan. Ini berhubungan dengan siapa si pembawa berita (sanad), apakah si pembawa berita bersambung dengan penulisnya? Apakah si pembawa berita terkenal dengan kejujurannya (shiddiq)? Bagaimana kehidupan sehari-harinya? Apakah dia mempunyai kecerdasan yang baik (dhobith tam) dan seterusnya. Kalau memang sudah selesai semua maka aman, suatu hadits bisa dikategorikan dengan shohih, hasan, dhoif, bahkan maudzu’ disebabkan karena sanadnya, maka si pembawa berita menjadi faktor penting.
Keempat, cek kontennya jika informasi tersebut berhubungan dengan ujaran kebencian (hate speech), menyulut permusuhan maka tanpa fikir panjang janganlah men-share karena UU ITE No 11 Tahun 2008 Pasal 27 berlaku bukan hanya si pembuat tetapi juga yang menyebarkan juga bisa dipenjara. Jika konten berisi menyangkut seseorang, maka jika konten tersebut benar maka berarti “ghibah” dan jika konten tersebut salah berarti “fitnah”, padahal kita sudah tahu bersama ajaran agama menganjurkan untuk menjahui hal tersebut di atas.

Jika kita merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “man sanna filislami sunnatan hasanatan falahu ajruha waajru man amila biha, waman sanna sunnatan sayyiatan faalaihi wizruha wawizruman amila biha” (HR. Muslim). Maknanya adalah jika kita membuat sesuatu kebaikan, maka kepadanya diberikan pahala baginya dan yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala pembuatnya, dan barang siapa membuat suatu kejelekan, maka kepadanya diberikan balasan kejelekannya dan kejelekan orang yang mengamalkannya, dan ini juga berlaku untuk medsos, jika kita melakukan kebaikan (menulis dan menshare kebaikan) maka akan diberi pahala oleh-Nya, demikian juga sebaliknya jika melakukan kejelekan (menulis dan menshare kejelekan) maka akan diganjar oleh-Nya dan ganjaran orang-orang yang ikut menyebarkannya. Wallahu a’lam bishowab. 

ipnujateng.or.id

Senin, 12 Juni 2017

Upgrading Jajaran Pengurus PAC IPNU IPPNU Sragi



Sragi-Sabtu 10 Juni 2017 Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan PAC IPNU IPPNU Sragi Kab. Pekalongan mengadakan kegiatan  dialog dan buka bersama alumni dan pengurus. Bertempat di TPQ Nurul Yakin Desa Sijeruk.

Kegiatan tersebut dihadiri dari jajaran pengurus PAC dan juga dari para alumni PAC, serta dari beberapa PR. se-Kecamatan Sragi. Acara tersebut diawali dengan sambutan dari ketua PAC IPNU Sragi. "Alkhamdulillah... Ramadhan kali hiasi momen buka bersama bareng para alumni, tujuan dari diundangnya para alumni yaitu tidak lain dan tidak bukan untuk memberikan motivasi kepada jajaran pengurus yang notabene masih baru, masih kurang berpengalaman." kata Rekan Aditama. "Terimakasih kami ucapkan kepada para alumni dan pengurus serta para anggota yang sudah bersama-sama mensukseskan kegiatan kali ini. Mari manfaatkan momennya, mari jangan lupakan prosesnya, dan mari bersama-sama lihat hasilnya." Imbuhnya.

Kemudian dilanjut dengan dialog alumni & pengurus, diawali dg dialog dari bapak Mukhtasib atau biasa disapa Kang Asep, selaku alumni periode ke 3 tahun 2012, "IPNU IPPNU itu mainnya jangan hanya di kuburan atau Balai Desa saja, IPNU IPPNU harus tampil atau unjuk gigi di dalam dunia pelajar atau sekolahan, membuat seminar atau acara dialog semacam ini juga bagus, sebagai organisasi pelajar juga tentunya harus memiliki mental seorang pelajar, misal disuruh MC, seorang yang bermental pelajar akan langsung bersedia siap." Kata Kang Asep.

"Pengurus harus menjaga komunikasi, jangan sampai komunikasi antar pengurus itu terputus. Hidup itu jangan di Zona nyaman saja, kalau hidup tanpa tantangan itu pasti membuat kita 'ngantuk'. Jangan takut kecewa di IPNU IPPNU ini, janganlah kalian ragu, yakin saja bahwa IPNU IPPNU ini milikmu." kata Ahmad Mujahid (Kang Jahed) selaku alumni pengurus PAC terakhir periode 2014 - 2016.

Acara Dialog dan Buka bersama Bareng Alumni ini merupakan sebagai upaya upgrading jajaran Pengurus PAC IPNU IPPNU Sragi, agar lebih saling memiliki satu sama lainnya. Sehingga nantinya setelah lebaran IPNU IPPNU Sragi akan tetap berkibar tinggi, lebih bisa mengibarkan sayap-sayapnya kesegala penjuru. Kegiatan tersebut ditutup dengan acara tarawih bersama di TPQ-Madin Nurul Yaqin Desa Sijeruk .

Aditama

Minggu, 11 Juni 2017

Pelajar Kab. Pekalongan Angkat Bicara Soal Lima Hari Sekolah


Menyikapi pemberitaan di media terkait rencana penerapan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tentang lima hari sekolah pada tahun ajaran 2017-2018, PC IPNU Kabupaten Pekalongan menggelar diskusi kecil. Diskusi itu dilaksanakan di sela-sela rangkaian kegiatan Roadshow Ramadhan IPNU Kabupaten Pekalongan yang diselenggarakan bersama kader IPNU Kabupaten Pekalongan bertempat di taman rumah dinas jabatan Bupati Pekalongan di Kajen.

Rekan Murtadho selaku Ketua PC IPNU Kabupaten Pekalongan menuturkan, sebagai organisasi yang mempunyai target group pelajar, sudah seharusnya kita ikut menyikapi rencana penerapan kebijakan lima hari sekolah oleh Menteri Muhajir tersebut. "Kita sebagai aktifis organisasi IPNU mempunyai posisi yang sangat strategis untuk menyikapi kebijakan yang akan berpengaruh kepada pelajar atau peserta didik yang notabenenya adalah anggota kita", tandasnya.

Menurut Murtadho, bahwa penerapan aturan lima hari sekolah akan lebih banyak membawa dampak negaitif bagi pelajar. Karna aturan tersebut dinilainya akan memberatkan dan merepotkan bagi pelajar, selain itu pasti juga akan berdampak pada permasalahan lain yang sangat komplek.

Sementara itu, menyikapi aturan lima hari sekolah yang akan berpengaruh pada bertambahnya jam belajar di sekolah sampai sore hari, beberapa anggota IPNU yang mengikuti diskusi tersebut menyatakan kekhawatiran dan kecemasannya. Pasalnya selain kewajiban belajar di sekolah, sebagian besar anggota IPNU di Kabupaten Pekalongan juga mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu agama di madrasah pada sore hari (red. TPQ/MDA). Belum lagi masalah membagi waktu untuk bermain dan belajar berorganisasi di IPNU. "Kami tidak bisa membayangkan apabila kami harus berada di sekolah sampai sore hari, sangat keberatan untuk membagi waktu dengan kewajiban yang lainnya", tutur Rekan Sudir salah satu kader IPNU.

Di akhir pertemuan, rekan Anam selaku Ketua Bidang Kajian Keislaman sekaligus penanggung jawab kegiatan tersebut berjanji akan terus mendiskusikan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Muhajir Efendy tentang rencana penerapan lima hari sekolah tersebut dengan mencari dan mempersiapkan berbagai sumber yang mendukung. "Agar lebih bermanfaat, Roadshow Ramadhan PC IPNU Kabupaten Pekalongan di empat penjuru Kota Santri ini, selain bertujuan untuk silaturrakhim dan konsolidasi antar tingkat pengurus IPNU, juga kita manfaatkan untuk sarana diskusi dan belajar bagi kader-kader IPNU Kabupaten Pekalongan", tuturnya ketika dikonfirmasi koordinator tim jurnalistik IPNU Kota Santri Aji Lukmana.

Sabtu, 10 Juni 2017

KORELASI ANTARA MANUSIA DAN PENDIDIKAN



Bagi sebagian orang menuntut ilmu di pendidikan formal (baca ; SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi) adalah suatu kewajiban, namun tidak demikian dengan orang-orang yang kondisi ekonominya rendah, mereka tidak bisa menikmati pendidikan formal. Mereka lebih memilih berpendidikan non formal & informal, seperti mengaji di TPQ, bimbingan belajar, otodidak, maupun Belajar di Rumah. Lalu apa sih yang di sebut dengan Pendidikan ? seberapa penting kah pendidikan bagi kehidupan manusia ?
            Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.   Secara bahasa pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah di antar oleh seorang pelayan. Pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan paedagogos. Dalam bahasa Romawi pendidikan di istilahkan sebagai educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam.   
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia, Manusia tanpa Pendidikan  bisa di ibaratkan seperti Sayur tanpa garam (Hambar). Manusia yang berpendidikan akan menemukan jati dirinya. Lalu apakah semua manusia wajib berpendidikan ?. menurut saya, semua manusia wajib untuk berpendidikan, entah itu pendidikan formal maupun non formal. Karena pada dasarnya Manusia itu membutuhkan Pendidikan dalam hidupnya, pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran.
Ternyata manusia sejak lahir sudah mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Seperti ketika seorang ibu memberikan ASI (Air Susu Ibu), menyuapi makan, memakaikan baju dan sebagainya. Hal itu merupakan sebuah proses Pendidikan yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Contoh lain ketika seorang ibu sedang makan, memakai dan melepas baju, menyapu, seketika itu juga sang anak melihatnya secara langsung lalu menirukannya. Maka sang anak ini secara tidak langsung sudah mendapatkan pendidikan dari ibunya.
Bagi bayi, pendidikan tahap awal adalah spiritualitas, selanjutnya baru intelektual-rasional, paedagogis maupun andragogis. Bagi orang dewasa dan tua, pendidikan tahap pertama haruslah dialog intelektual, strategi rayuan empirik, baru kemudian mendayagunakan gelombang spiritual. Teori evolusi mengatakan bahwa alam ini, termasuk manusia yang berada di dalamnya berkembang secara evolusionis (berubah atau berkembang secara perlahan) dari makhluk yang sangat sederhana yang berkembang sedemikian rupa menjadi makhluk yang lebih kompleks. Dengan demikian manusia sejak lahir sampai usia tua mengalami pertumbuhan, baik dari segi fisik, mental, maupun sikap. Pertumbuhan Hidup manusia di dunia ini juga di pengaruhi oleh keadaan di sekitarnya.
Berbicara tentang Kehidupan tak bisa di lepaskan dari peran Tuhan, Tuhan lah yang menentukan arah dan tujuan kehidupan di Dunia ini. Tuhan lah yang akan menghidupkan dan mematikan manusia. Usia, sakit, kemiskinan, kekayaan, kesuksesan manusia adalah pemberian dari tuhan. Namun kita sebagai manusia tak serta merta mengandalkan tuhan untuk mencapai keinginan. Manusia lah yang seharusnya berusaha agar keinginan tersebut tercapai. Salah satu usaha yang perlu dilakukan Manusia untuk mencapai suatu keinginan tersebut yaitu dengan belajar. Belajar apa saja, entah itu belajar ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu olahraga, ilmu kesehatan.dan lain sebagainya.
Manusia butuh proses untuk mencapai cita-citanya, manusia harus berpendidikan untuk mencapai cita-citanya.  peran pendidikan dalam hal ini sebagai salah satu tujuan bangsa dan merupakan sektor paling penting dalam pembangunan nasional harus di fungsikan semaksimal mungkin. Karena pendidikan merupakan alat utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan UUD 45 Pasal 31 ayat (3). Adapun peran pendidikan bagi kehidupan manusia memang tidak bisa di lihat dari satu sudut pandang saja, namun harus kita lihat dari semua sudut pandang. Karena pendidikan ini sifatnya luas, tidak di artikan sebagai pendidikan yang ada di bangku sekolahan saja.
Manusia harus yakin terhadap hidupnya sendiri, harus yakin terhadap cita-cita yang di impikannya. Karena keyakinan adalah pilar penyangga utama keberanian dan keberhasilan, inilah unsur penting dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang. Keyakinan yang paling utama adalah keyakinan terhadap aturan agama untuk kehidupan manusia. Kesuksesan tidak diraih secara instan, namun perlu proses panjang untuk mencapai cita-cita tersebut. Manusia yang berpendidikan akan mengetahui jalan hidupnya. Karena hidup manusia ditentukan oleh suatu pendidikan.
Sejak lahir memang manusia sudah mendapatkan pendidikan, tetapi dalam konteks ini pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan informal, yaitu pendidikan yang diberikan oleh Orangtua dan Masyarakat, yang mengutamakan nilai etika, moral, dan norma. Namun, apakah dengan pendidikan informal saja manusia bisa meraih kesuksesan.? Tentunya tidak, berbeda halnya dengan pendidikan formal yang diajarkan di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Pendidikan dalam konteks ini bersifat resmi, ijazah yang diperoleh memiliki arti yang bisa digunakan untuk melanjutkan studinya ataupun mencari pekerjaan.
Masyarakat pada umumnya menganggap manusia yang terdidik adalah manusia yang  berpendidikan di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi, bagi mereka yang tidak sekolah akan di pandang sebelah mata oleh masyarakat. Tak bisa di mungkiri bahwa peran pendidikan (khususnya pendidikan formal) dalam kehidupan manusia penting sekali. Apalagi di zaman modern seperti ini. Menurut Saya, manusia yang tidak berpendidikan formal tak akan bisa menghirup udara segar. Karena pendidikan formal merupakan nyawa bagi manusia untuk bertahan hidup dalam kerasnya persaingan di dunia ini.
Manusia yang tidak mau berpendidikan menurut saya ia tidak peduli dengan masa depannya sendiri. Tidak peduli terhadap masa depan merupakan tanda yang sangat negatif untuk masa depan. Ini berarti kita tidak peduli masa depan seperti apa yang akan kita miliki. Kita membiarkan proses masa depan berlangsung secara alamiah. Sayangnya proses alamiah cenderung menghasilkan kualitas yang semakin menurun. Itulah sebabnya, tidak peduli terhadap masa depan merupakan tanda yang sangat negatif karena cenderung menghasilkan masa depan yang kualitasnya lebih buruk daripada kondisi masa kini.
Tak ada pendidikan maka tak akan ada arah dan tujuan hidup, karena di dalam pendidikan ada pengetahuan. Tanpa pengetahuan manusia akan menjadi bodoh, manusia yang bodoh akan terlempar dari persaingan di bidang apapun. Bodoh disini diartikan sebagai manusia yang tidak mau berusaha dalam mencari pengetahuan. “Dalam menerangkan usaha manusia untuk mencapai pengetahuan, John Locke mengemukakan pengertian sensation dan reflection. Sensation merupakan gejala jiwa yang mempunyai hubungan dengan dunia luar, tetapi belum sempurna meraih dan mengerti dengan sesungguhnya apa yang dihayati. reflection adalah pengenalan intuitif  yang dapat memberikan kesan pengetahuan yang lebih baik kepada manusia daripada sensation. Tiap pengetahuan terwujud dari hasil kerja sama antara sensation dan reflection tersebut”.
Setinggi apapun tingkat pendidikan Manusia dan seluas apapun ilmu yang dimilikinya,niscaya tak akan berarti jika hanya untuk dirinya sendiri. Namun, manusia harus mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Maka ilmu itu nantinya akan bermanfaat bagi orang lain. Sehingga pendidikan yang kita tempuh ada manfaatnya. Sebagai manusia kita memang harus bersifat kritis, pragmatis dan memiliki kepedulian sosial. Manusia harus saling membantu, mengimplementasikan ilmunya untuk kemajuan bangsa dan Agama.
Pendidikan diharapkan membentuk manusia sosial yang dapat bergaul dengan sesama manusia sekalipun berbeda agama, suku bangsa, pendirian dan sebagainya. Manusia hasil pendidikan harus dapat menyesuaikan diri dalam situasi sosial yang berbeda-beda. pendidikan dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri. Hal tersebut bisa diketahui dengan memahami fungsi dari pendidikan dan tujuan pendidikan. Pertumbuhan ekonomi dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan dari pelaksanaan pendidikan. Jika ukurannya adalah Pertumbuhan ekonomi, maka manusia yang tidak menempuh pendidikan tak akan merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi tersebut.
Jika tingkat pendidikan formal yang menjadi tolok ukur, maka anak yang hanya lulusan SD tak akan bisa menikmati apa yang dinikmati oleh lulusan S3. Begitupun sebaliknya. Tingkat pendidikan tertinggi adalah S3, dimana hal ini tingkat kesuksesan seseorang lebih besar di banding dengan mereka yang hanya menempuh jenjang pendidikan S1 misalnya. Manusia yang hanya mengecap pendidikan hanya sampai tingkat SMP/Sederajat dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya dikarenakan kondisi ekonominya rendah, maka manusia ini tergolong kurang beruntung hidupnya. Hanya mengandalkan Ijazah SD/MI bahkan ijazah SMP/Sederajat sekalipun sangat susah untuk mencari pekerjaan yang layak, apalagi kalau tidak punya keahlian khusus. sehingga kalau tidak mendapat pekerjaan manusia akan menganggur, yang nantinya hidup manusia menjadi sengsara karena tidak berpenghasilan. Manusia yang berilmu memang diatas segala-galanya, karena ia akan mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Kesimpulannya  adalah Hidup manusia tergantung dari pendidikan  yang ia peroleh. Intinya semua pendidikan itu bagus. baik formal, nonformal, & informal. Jenis pendidikan apapun mengajarkan kebaikan, tergantung dari kita menyikapi dan melaksanakannya. Mau hidup susah, senang, bahagia, kaya, miskin itu pilihan. Tinggal dari kitanya sebagai manusia mau berusaha atau tidak, karena Allah sudah membukakan pintu kesuksesan yang selebar-lebarnya bagi manusia yang mau berusaha mencapai kesuksesan tersebut. Namun jika kita malas berusaha,mencari ilmu, melakukan suatu kebaikan, berangkat sekolah, maka yang terjadi adalah kita tak akan hidup di dunia ini dengan penuh kenyamanan dan ketentraman. Karena pada intinya Manusia tak bisa hidup tanpa Pendidikan.

Oleh Khairul Anwar (Tirto)



Jumat, 09 Juni 2017

Tarkhim dan Konsolidasi PCNU Kabupaten Pekalongan beserta Banomnya


Sragi- Kamis 08 Juni 2017 PCNU Kabupaten Pekalongan mengadakan Tarkhim dan Konsolidasi dengan warga Nahdlatul Ulama di Kecamatan Sragi. Acara ini bertempat di Masjid Nurul Yaqin  Desa Purwodadi Kecamatan Sragi yang di hadiri oleh Rais Syuriah, Ketua Tanfidziyah, LP Ma’arif NU, KBIH Annahdiyah, Lakpesdam NU, PC Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU, juga hadir pengurus MWC NU Kecamatan Sragi Beserta Badan Otonomnya.

Dalam sambutannya Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Sragi Mengatakan “sugeng rawuh dan selamat datang di Kecamatan Sragi, semoga dengan adanya Tarkhim dan Konsolidasi dari PCNU Kabupaten Pekalongan beserta Badan Otonom dan Lembaga bisa menambah semangat dari pengurus MWC NU Sragi dan Banomnya dan semoga bisa lebih membumikan Nahdlatul Ulama’ di kecamatan Sragi.

“kami mengucapkan terimaksih sebesar-besarnya kepada MWC NU Sragi dan warga Desa Purwodadi secara khususnya” kata Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan KH Muslikh Khudlori, beliau juga menambahkan “ Kegiatan ini bertujuan memotret secara langsung kegiatan di MWC NU kecamatan  Sragi beserta Badan Otonomnya”. Bapak KH Muslikh Khudlori berharap  agar warga NU di kecamatan Sragi meningkatkan kegiatan Nahdlatul Ulama di Bulan Ramadhan ini supaya bisa Ketaqwaan kepada Allah SWT.

Ketua LP Ma’arif Kabupaten Pekalongan DR Mukhlisin mengatakan “ Di mohonkan agar Ranting-ranting Nahdlatul Ulama’ di kecamatan Sragi mendirikan lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama’, diutamakan Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama karena di Sragi masih hanya ada dua yaitu di Desa Tegallontar dan Kalijambe”. Kegiatan ini ditutup oleh do’a yang di pimpin oleh Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan KH Muhamadun Jundi.


Aji Lukmana

Kamis, 08 Juni 2017

Ketua IPNU Kab. Pekalongan himbau kadernya meramaikan Mushola selama Ramadhan


Untuk mensyiarkan islam yang moderat pada masyarakat dibulan suci Ramadan tahun ini. Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Pekalongan memberikan ultimatum tegas, bagi kader-kadernya yang ada di tingkatan anak cabang atau PAC, dan ditingkatan ranting dan komisariat untuk tidak menyia-nyiakan Bulan Suci Ramadan.  Menurut Ketua IPNU Kota Santri, Rekan Murtadlo menjelaskan, "memasuki bulan suci Ramadan ditahun 1438 H / 2017 ini, selaku pimpinan cabang menghimbau agar IPNU dan IPPNU Se-Kabupaten Pekalongan untuk mensyiarkan Islam dengan meramaikan kegiatan dimasyarakat"

Lebih lanjut, Murtadlo menambahkan bahwasanya keberkahan Bulan Suci Ramadhan merupakan bulan pelipat gandaan nilai ibadah bagi masyarakat, oleh karena itu pihaknya memberikan 4 (empat) perintah agar dilaksanakan dimasing-masing kepengurusan anak cabang maupun ranting. "Himbauan kami yang pertama adalah menjalankan dan meningkatkan ibadah wajib dan sunnah dengan baik sesuai syariat Islam Aswaja. Kemudian yang kedua kami mohon kegiatan kajian keislaman seperti pasaran maupun pengajian untuk yang sudah ada, dan yang belum untuk segera dilaksanakan. Kemudian yang ketiga kami mohon untuk turut meramaikan kegiatan Musholla maupun Masjid dengan tadarus atau kegiatan yang sudah direncanakan. dan terakhir kami mohon untuk mempererat silaturahmi diantara kader IPNU dan IPPNU yang ada." Tuturnya.

Murtadlo memandang saat ini anak anak muda terutama pelajar, sedang dihadapkan dengan fitnah dan perpecahan yang sangat viral di media sosial bahkan rentan dengan timbulnya konflik dan perpecahan. Sehingga rasa persatuan dan persaudaraan perlu ditingkatkan dikalangan muda, untuk mengetahui dan menyadari dengan betul makna perbedaan dalam kehidupan. "Pererat ukhuwah diantara sesama kader IPNU dan IPPNU dan juga dengan masyarakat secara umum." Tegasnya

Bahkan menurut Murtadlo, persatuan mapun persatuan itu memiliki makna yang luas, tidak hanya satu keluarga atau kampun dan terbatas oleh agama, melainkan bersifat general dan komprehensif. "Ada tiga Ukhuwah yang harus kita perjuangkan, yaitu Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan sesama anak bangsa) dan Ukhuwah Basyariah (persaudaraan sesama manusia) sebagai cermin ajaran Islam Nusantara." Pungkasnya

Minggu, 04 Juni 2017

PCNU KABUPATEN PEKALONGAN LAUNCHING UPZIS-LAZISNU



Launching UPZIS-LAZISNU bertempat di pendopo rumah dinas  Bupati Pekalongan. Yang dihadiri antara lain oleh Asisten Pemerintahan Sekda Drs. Ali Riza, M.Si, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan KH. Muhammadun Raden Jundi, Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Pekalongan KH. Muslikh Khudori, M.Si, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan Drs. H. Kasiman Mahmud Desky, M.Ag, Pengurus Badan Otonom NU seperti LP Maarif NU, Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU-IPPNU dan seluruh perwakilan pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se Kabupaten Pekalongan.
Ketua PCNU KH. Muslikh Khudori mengatakan hadirnya LAZISNU di Kabupaten pekalongan adalah keniscayaan. Sebagai bentuk pemberdayaan untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan kekayaan para aghniya NU melalui LAZISNU ini.
“Kami selaku Ketua PCNU berharap agar LAZISNU dapat dikelola dengan baik, profesional, akuntabel dan amanah agar dipercaya oleh masyarakat dan agar LAZISNU mampu melebarkan kinerjanya,” tuturnya.
PCNU juga sangat mengharapkan hadirnya LAZISNU bisa mengentaskan kemiskinan, mengurangi kebodohan di bidang pendidikan. Dalam ranah kesehatan, kerja yang dilakukan pemerintah harus didukung pula dengan hadirnya LAZISNU ini

Dalam sambutan Bupati, kehadiran LAZISNU menjadi jawaban penting bagi ormas Nahdlatul Ulama untuk lebih konkret lagi dalam rangka bersama dengan Pemerintah untuk melengkapi dan mendorong supaya dapat melaksanakan mandat masyarakat.
“Saya minta tolong LAZISNU jangan seperti Bank, jangan menyimpan uang, jangan ada saldo. Jadi begitu ada dana langsung disalurkan kepada yang berhak. Kita harus sudah memiliki data siapa saja yang akan kita sasar. Kalau hal ini bisa berjalan, ini akan menjadi best practice yaitu bisa menjadi contoh pengelolaan LAZIS yang modern,” ujarnya.
"Kabupaten Pekalongan dengan jumlah penduduk (data terbaru) sekitar 896 ribu memiliki jumlah penduduk miskin yang cukup besar. Kalau dibandingkan dengan data Jawa Tengah, kita sudah masuk dalam zona kuning dan sebentar lagi masuk pada zona hijau. Angka kemiskinan 2018, di Kabupaten Pekalongan ditarget 8-9 persen Karena kontribusi Pemerintah di seluruh tingkatan faktanya hanya 10 hingga 20 persen, makanya sisa yang 80 persen harus kita gali dari partisipasi masyarakat, dari para aghnia,” menurut Bupati.

Pada malam launching tersebut, LAZISNU langsung memperoleh masukan dana sumbangan sebesar Rp 21 juta, yaitu berupa infaq dari para aughnia yang hadir sebesar Rp 6 juta dan Rp 15 juta merupakan zakat dari bendahara PCNU Kabupaten Pekalongan.

AL

Kamis, 01 Juni 2017

Menciptakan Yang Baru Yang Lebih Baik


Jarang sekali saya berlama-lama di rumah; dan hari ini adalah satu dari sekian jarang hari yang saya putuskan untuk berlama-lama; bersantai dirumah. Kamar saya belum berubah jauh sejak saya tinggalkan. Beberapa foto gusdur mendominasi ruangan, lebih banyak dari foto saya sendiri.

Gus Dur ini memang idola banyak orang; begitupun saya. Sayangnya, yang lebih banyak diceritakan oleh teman-teman kita adalah soal banyolan atau nyelenehnya; atau soal betapa majunya pemikirannya, ketimbang langkah-langkah maju itu sendiri; atau katakan hal-hal kongkret yang berhasil Gus Dur lakukan. Alhasil, ada dua keluaran penggemar gusdur, yakni nyeleneh tidak bertanggung jawab tanpa berkarya. Atau jika tidak seperti itu, iya berkarya hanya atas pijakan lelucon; maka hasilnya pun hanya jadi gelak tawa tanpa ada manfaat atau kemajuan kongkret. Namun tentu berbeda, bagi yang sudah akil baligh dan betul-betul mampu meresapi perjuangan Gus Dur.

Berkelana jauh ke belakang, NU yang kita cintai ini sungguh-sungguh tidak kekurangan obor. Bisa jadi kitanya saja yang malas mempelajari rekam jejak cemerlang pemikiran pembaharu semodel Ayahanda Gus Dur, beliau KH Wahid Hasyim. Tokoh termuda dari 62 anggota BPUPKI, pun juga tokoh termuda dari 9 orang yang menandatangani Piagam Djakarta. Sumbangan ide dan tenaganya menjadi bagian penting dalam perkembangan negara ini. Beliau juga salah satu inisiator berdirinya IAIN. Bahkan ada ujar-ujar, “Jika KH Wahid diberi umur panjang, tentu sejarah Indonesia akan berbeda”. Ini tidak lain adalah bentuk penghargaan dan pengakuan mengenai sumbangsih ide dan pikiran yang tidak hanya sangat maju waktu itu, tapi juga kongkret.
Atau mungkin, kita; iya tentu disitu termasuk juga saya; terlalu nyaman dengan kebesaran NU. Lalu sekedar terjebak dengan jargon al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah”. Sebuah jargon penghubung antara tradisi dan modernitas. Bahwa kedua-duanya tidak perlu bertentangan. Memang betul dan saya sepakat. Tapi bukan disitu titik fokusnya. Rasa-rasanya kurang galak kita sebagai anak muda, jika hanya puas mengambil atau menyesuaikan. Baik itu mempertahankan yang lama, atau mengambil yang baru yang lebih baik; kedua-duanya adalah satu bentuk kerja menyesuaikan diri terhadap apa yang sudah ada. Bisa jadi, ini menjadi jawaban mengapa kita lebih suka melakukan sesuatu yang berulang-ulang dalam segala hal; mulai dari pengkaderan, kemasyarakatan, sosial, politik dan segala hal di kehidupan. Mungkin ini yang menyebabkan kita tidakpernah menjadi yang pertama di segala hal. Dalam memutuskan perlawanan dengan HTI kita bukan yang pertama, kakak kita ANSOR jauh lebih awal. Dalam urusan pendidikan, masivme ROHIS di sekolah tidak mampu kita tandingi, sehingga ‘perlu bantuan pemerintah’ untuk mengurangi dampak negatifnya. Dan banyak urusan lain. Kita masih lebih suka mengambil dan meniru; menjadi nomer sekian dalam segala urusan.
Siapa tidak kenal Napoleon Bonaparte, bagi banyak orang ia adalah seorang jenius dan juga dewa perang. Tapi Friederich Ludwig, pangeran Hohenlohe-Ingelfingen, yang merupakan seorang Jenderal Prusia tidak beranggapan demikian. Ia berasal dari bangsawan Jerman dengan catatan militer yang melegenda. Karir Hohenlohe dimulai sejak muda dan bekerja langsung di bawah Federick Yang Agung (1712-1786), orang yang menjadikan Prusia adikuasa.
Bagi Hohenlohe sukses dalam perang tergantung pada pengorganisasian, disiplin dan strategi oleh pikiran-pikiran militer yang terlatih. Pasukan Prusia dilatih dengan metode seperti ini hingga sanggup bergerak dengan ketepatan sebuah mesin. Bagi mereka perang adalah soal matematika. Bagi Hohenlohe Napoleon tak lebih dari sekedar orang yang beruntung dalam kemanangan-kemenangannya. Dalam benaknya pasukan Napoleon yang tidak teratur itu pasti akan mudah dihancurkannya.
Agustus 1806, Hohenlohe dan para jenderal Pursia akhirnya mendapatkan kesempatan setelah horny perangnya dengan Napoleon ditahan begitu lama. Raja Friedrich Wilhelm III yang muak dengan pelanggaran janji-janji Napoleon, memutuskan perang dalam waktu enam minggu.
Dalam peperangan yang sudah diidam-udamkan itu, Hohenlohe akhirnya dikalahkan oleh Napoleon. Tentu ini diluar dugannya, karena pasukan Prusia telah dibekali dengan pengetahuan perang dari Frederick Yang Agung yang mereka yakini tidak tertandingi. Pasukan Napoleon bergerak cepat secara acak hanya menggunakan ransel di punggung mereka sementara pasuka Prusia memilih menggunakan cara lama, mengangkut perbekalan menggunakan kereta yang lamban.
Pun begitu dengan kemewahan genderang perang dan formasi pasukan yang rapi akhirnya dengan mudah dicerai berai oleh pasukan Napoleon yang lebih cerdik dengan bersembunyi di atas atap rumah. Berkali-kali terdengar tabuhan genderang untuk membentuk ulang formasi, tapi berkali-kali pula mereka dikacaukan oleh tembakan dari arah tersembunyi. Hohenlohe belum pernah melihat pasukan seperti itu. Pada akhirnya ia harus mengakui bahwa kemenangan dalam perang dan hal apapun tidak didapatkan dengan bubuk ajaib. Akan sama dan selalu menang dengan ramuan yang sudah ada. Memenangkan perang bukan perkara magic tapi merupakan sebuah inovasi.

“Ketika pada tahun 1806, para Jenderal Prusia… Jatuh ke dalam bencana karena menggunakan siasat tempur Frederick Yang Agung, hal itu bukanlah sekadar kasus gaya yang ketinggalan jaman, melainkan kemiskinan imajinasi yang paling ekstrem akibat rutinitas” – Carl von Clausewitz, ON WAR (1780-1831)

Mungkin tanpa kita sadaripun kita sedang menuju ke arah yang sama seperti Hohenlohe.

“Yang membatasi individu atau bangsa adalah ketidakmampuan melakukan konfrontasi terhadap kenyataan, memandang segala apa adanya. Dengan bertambahnnya usia, kita menjadi lebih berakar di masa lalu. Dikendalikan oleh kebiasaan . Sesuatu yang pernah efektif bagi kita menjadi doktrin, cangkang yang melindungi kita dari realita — Kreativitas digantikan oleh pengulangan –“
Robert Greene, The 33 Strategies Of War.

Pengkaderan seperti Makesta yang kita lakukan hari ini tentu pernah jaya di masanya. Usaha-usaha kita yang selama ini cenderung berulang tentu juga akan memiliki masa rasionalitas. Para ulama pendahulu kita adalah orang yang sangat radikal dan menjadi pembaharu. Kita tidak boleh hanya mengambil, baik dari masa lalu maupun dari masa sekarang. NU bukan semata jembatan penghubung tradisi dan modernitas. Kini NU telah menjadi kiblat Islam Rahmatan lil Alamin di Dunia. Masa depannya ditangan kita. Selama kita tidur dan hanya melakukan rutinitas itu — yang parahnya tidak kita cari tahu kedalamannya — tentu hanya menunggu waktu, suatu hari di masa depan organisasi yang kita cintai ini tidak lagi diterima zaman. Tanda bahayanya sudah jelas: kita tidak pernah menjadi yang pertama di bidang apapun.
Sekian. Semangat!!!!

ipnujateng.or.id

Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...