Sabtu, 15 Juli 2017

Buku Dalam Hidup Tolchah Mansoer

“Karena aku melarat, aku tidak bisa kemana-mana. Pergiku hanya dalam buku-buku. Dengan dan karena buku-buku itu aku bisa mengembara ke seluruh dunia, bahkan ke dunia silam.”

Kutipan kata-kata Bung Karno tersebut ditulis oleh Prof. Dr. KH. Tolchah Mansoer di suratnya kepada Mahbub Junaidi tertanggal 29 Juni 1979. Dari kutipan tersebut seolah menegaskan bagaimana kegemaran Tolchah terhadap buku. Sosok yang menjadi ketua umum pertama Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama itu begitu akrab dengan dunia membaca sejak kecil hingga diakhir hayatnya.

“Bacaannya lintas batas, seperti tampak dari rujukan dalam berbagai tulisannya. Ingatannya tajam. Memang, kalau Abah sedang membaca, baik duduk maupun berbaring, Abah hampir tidak bisa diganggu.” Begitu kesaksian Fajrul Falakh tentang kegemaran membaca Abahnya, Tolchah Mansoer, sebagaimana tertulis dalam kata pengantar buku, KH. Tolchah Masnsoer, Biografi Profesor NU yang Terlupakan.

Keakraban Tolchah dengan dunia bacaan terlihat sejak kecil. Ia melahap buku-buku yang dimiliki oleh kakaknya, Usman Mansoer. Pria kelahiran 10 September 1930 di Malang tersebut, menjadikan buku sebagai “tempat bermain”. Tumbuh di perkampungan padat penduduk, menjadikan Tolchah kecil tak memiliki tempat bermain yang representatif. Maka, lembaran-lembaran buku disulapnya menjadi tempat bermain.

Kegemarannya membaca ditunjang dengan kemampuannya dalam berbagai bahasa asing. Terhitung tiga bahasa asing yang ia kuasai, mulai dari bahasa Inggris, Arab, sampai Belanda. Dengan kemampuan bahasa asing yang cukup beragam tersebut bacaan Tolchah pun beragam.

Penguasaan bahasa Arabnya, ia pelajari sejak di Sekolah Rakyat Muallimin NU Malang pada tahun 1937. Begitu pula dengan bahasa Belanda, Tolchah awal kali mempelajarinya dari sekolah tersebut. Tak heran, kala itu, NU melalui prakarsa KH. Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) menggagas pengenalan bahasa Belanda di pesantren dan kalangan Nahdlatul Ulama. Upaya ini tak lain sebagai upaya agar umat Islam Indonesia tidak dibodohi oleh Belanda dengan bahasa asingnya tersebut. Dimana penguasaan Tolchah terhadap bahasa Belanda tersebut banyak membantunya dalam menekuni keilmuwan hukum tata negara semasa kuliahnya kelak.

Semasa hidupnya, Tolchah tak pernah mengenyam dunia pendidikan pesantren. Saat masih kecil, ia menolak untuk dimasukkan pesantren. Tetapi meski tidak pernah nyantri, Tolchah sangat akrab dengan dunia literasi pesantren (kitab kuning). Interaksinya dengan dunia pesantren sebatas ngaji pasanan, yaitu mengaji khusus pada bulan Ramadhan ke beberapa pesantren. Diantaranya adalah Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh KH. Hasyim Asyari dan Pesantren Al-Hidayah, Lasem yang diasuh oleh KH. Ma’sum Lasem.
Penguasaan Tolchah pada kitab kuning tidak lain dikarenakan ia telah menguasai ilmu nahwu, shorof dan mantiq ketika di Mualimin NU dahulu. Kemampuannya dalam bahasa Arab ini terlihat dari penguasaan dan hafalnya akan Kitab Alfiyah, sebuah kitab gramatika bahasa Arab tingkat tinggi yang harus dikuasai di pesantren.

Kemampuannya dalam bahasa Arab, kemudian dilanjutkan Tolchah dengan mempelajari secara otodidak kitab-kitab klasik khas pesantren. Sebagaimana pengakuan Profesor Machasin, Tolchah begitu gamblangnya mengaji dan menjelaskan kitab-kitab klasik tersebut dikediamannya. Biasanya kitab yang dikaji di kediaman Tolchah di Jalan Colombo, nomor 21 Yogyakarta itu, sebagaimana pengakuan Machasin, adalah kitabTajridus Sholih, Riyadus Sholihin, al-Jauharul Maknun, Ar-Rud, Alfiyah Ibnu Malik, Tafsir Jalalain, Bidayatul Mujtahid dan beberapa kitab lain. Ataupun kitab-kitab yang lebih ringan seperti Jurumumiyah, Imrithy, dan Fathul Qorib kepada anak-anaknya.

Ada kisah menarik tentang penguasaan Tolchah akan kitab-kitab klasik khas pesantren tersebut. Suatu ketika, ia bersilaturrahmi kepada kakek mertuanya, KH. Abdul Wahab Chasbullah. Pada saat itu, sang kakek mertuanya merupakan salah seorang pengacara atau dikenal kala itu dengan sebutan pokrol.
Ia menyampaikan kepada Tolchah, “Buat apa kalau hanya sekedar sarjana hukum; aku sendiri tidak sekolah hukum pun bisa menjadi pengacara. Tetapi sebaliknya, mampukah kau menjadi seorang alim dalam penguasaan ilmu agama (menjadi kiai) tanpa harus belajar di pondok pesantren?”

“Tantangan” dari kakek-mertuanya tersebut menjadi cambuk bagi Tolchah untuk menekuni lebih dalam kitab-kitab kuning khas pesantren. Sebagai pembuktian meski tak menempuh studi di pesantren pun ia bisa sealim para lulusan pesantren.

Bukti penguasaan Tolchah terhadap kitab kuning juga terlihat pada karya tulisnya yang berupa terjemah kitab kuning. Karya terjemah beliau diantaranya adalah Alfiyah Ibnu Malik dan Kaidah-Kaidah Hukum Islam: Ilmu Ushulul Fiqh yang diterjemahkan dari kitab Ushul Fiqh karya Abdul Wahab Khalaf. Adapula Sajak-Sajak Burdah Imam Muhammad Al-Bushiri yang merupakan terjemah dari Qasidah Burdah-nya Syekh Bushiri.
Dalam dunia penerjemahan kitab-kitab klasik, beliau juga mendorong para penulis muda lain untuk aktif menerjemahkan. Salah satu diantaranya adalah karya Ali As’ad yang menerjemahkan kitab fiqih klasik, Fathul Muin. Kala itu, upaya penerjemahan yang dilakukan oleh Ali As’ad banyak ditentang oleh kalangan pesantren, termasuk Pesantren Lirboyo Kediri danPesantren Tegalrejo, Magelang. Penolakan tersebut didasarkan atas kekhawatiran kemalasan para santri untuk mempelajari bahasa Arab karena ada terjemahannya. Namun, Tolchah Mansoer terus membela dan memotivasi Ali As’ad untuk menterjemahkannya. Dan ia melakukan bimbingan kepada Ali As’ad ditengah kesibukkannya menjadi anggota Badan Pemerintahan (BPH) Yogyakarta.
Selain karya terjemah, Tolchah Mansoer juga menulis buku tentang persoalan keagamaan. Diantaranya berjudul Pokok-Pokok Ahlusunnah wal Jama’ah (1974), Masalah-Masalah Keagamaan Yang Tidak Boleh Diperselisihkan Antar Sesama Umat Islam (1982), Ushul Fiqh (1995).

Selain dalam bidang keagamaan, Tolchah Mansoer yang pada dasarnya adalah pakar hukum tatanegara juga banyak menulis buku yang membahas bidang keilmuwannya tersebut. Diantaranya adalah Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-Kekuasaan Eksekutif dan Legeslatif Negara Indonesia (1983), Sumber Hukum dan Urutan Tata Tertib Hukum (1979), Peranan Umat Islam Dalam Proses Pelaksanaan Pemurnian Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (1971), Hukum, Negara, Masyarakat, Hak Asasi Manusia dan Islam (1979),  Demokrasi Sepanjang Konstitusi (1972), Rakyat, Kekuasaan dan Pemerintah (1981), Kedudukan Penetapan Presiden Pada Zaman Orde Baru (1971), Teks Resmi dan Beberapa Soal Tentang UUD 1945 (1977), Hukum Tatanegara Sesudah Pemilihan Umum 1971 (1978), Konsep Dasar Islam Tentang Negara (1977), Beberapa Soal Tentang Undang-Undang Dasar 1945 (1970), Kepercayaan Menurut Undang-Undang Dasar 1945: Hasil Keputusan Senat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga (1971), dan Masalah Referendum (1984).

Kepakaran Tolchah Mansoer dalam bidang hukum tata negara sekaligus dalam kajian keislaman menjadikannya sebagai pemikir yang unik. Sebagaimana yang diutarakan oleh Profesor Jimly Asshiddiqy, “Pemikiran dia [Tolchah] di satu sisi memberikan landasan dan jalan bagi aktualisasi hukum Islam dibidang tata negara, dan di sisi yang lain memperkaya perkembangan hukum tata negara. Kemampuan tersebut saat ini sudah sangat jarang dimiliki oleh ahli hukum tata negara kita.”

Diluar bidang keagamaan dan tata negara, Tolchah juga menelurkan karyanya dibidang yang lain. Sedjarah Perjuangan IPNU dari Masa ke Masayang ditulisnya dengan beberapa rekannya semasa menjadi ketua umum IPNU tahun 1964 dan Progres Masa Depan Mahasiswa Mahasiswa IAIN Ditinjau dari Segi Sosial dan Politik semasa menjadi dosen.
Tak hanya berupa buku, Tolchah Mansoer juga aktif menulis artikel di beberapa media, baik lokal maupun nasional. Beberapa media yang sempat memuat tulisannya antara lain: Bangkit Yogyakarta), Aula (Surabaya), Gema (Yogyakarta), Masakini (Yogyakarta), Pelita (Jakarta), danKedaulatan Rakyat (Yogyakarta).

Buku, baik dibaca, ditulis maupun menulis tentangnya, telah menjadi bagian dari kehidupan sang pendiri IPNU ini. Suatu teladan yang patut diikuti oleh semua generasi, wabil khusus bagi kader-kader IPNU. Begitu.
Langkah panjangku
Telah lama kuukur
Aku tak tahu
Berapa lagikah.
Hari-hariku telah berlalu
Dan berapa hari lagikah
Sudah dekatkah
Langkahku akan berhenti
Dan apakah hari-hariku
Hingga hari ini.
(Puisi Tolchah Mansoer)

ipnujateng

Jumat, 14 Juli 2017

LAKMUD XII PAC Buaran


Kandangserang : Pimpinan Anak Cabang Buaran mengadakan kegiatan Latihan Kader Muda (LAKMUD) XII  yang berlangsung dari tanggal 9-11 Juli 2017 di SMA N 1 Kandangserang. Kegiatan ini bertujuan menciptakan generasi kader baru, guna menghadapi tantangan organisasi, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas kader IPNU IPPNU Buaran.

Dalam acara yang mengangkat tema “ Meningkatkan kualitas kader dalam menghadapi arus transnasional dengan berpegang teguh pada Ahlusunnah wal Jama’ah” Rekan Abdul Hafidz (Ketua PAC IPNU Buaran) mengatakan “Kegiatan ini wajib kita laksanakan guna regenerasi kepengurusan yang massif, hal dan ide ide baru akan muncul karena pemikiran-pemikiran baru akan muncul dari kader baru”.  “Yang terpenting adalah kaderisasi LAKMUD ini jawaban dari pada keresahan kita bersama untuk tantangan kedepan lebih kompleks, serta menjadikan mereka sebagai kartu Joker yang bisa masuk kemana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja” Tambahnya.

Para peserta LAKMUD sangat antusias dalam mengikuti kegiatan bahkan mereka meminta agar waktu pelaksanaan LAKMUD di tambahi, rasa haus mereka tentang organisasi sangat besar sehingga ini enjadi suntikan semangat bagi panitia agar melaksanakan kegiatan kedepannya jauh lebih baik lagi.

Sebagai penutup kegiatan Latihan Kader Muda ini membagikan buku sejumlah 84 pack buku tulis kepada siswa-siswi MIS Lambur yang di wakilkan oleh Bapak Kyai Khariri selaku Kepala Sekolah.


Abdul Khafidz / Aji Lukmana


Rabu, 12 Juli 2017

KH Idham Chalid, Putra Pelosok Jadi Pemimpin Nasional


H Mahbub Djunaidi, kolumnis kenamaan itu, dalam tulisannya yang kocak “Wajah”, menggambarkan KH Idham Chalid sebagai berikut: perawakannya tipis tak ubahnya dengan umumnya pedagang batu permata dari Banjar. 

Meski demikian, menurut Ketua Umum PB PMII pertama tersebut, Kiai Idhamlah yang memegang rekor paling lama menduduki kursi kekuasaan politik negeri ini sejak tahun 1956. Dan paling lama pula menjabat ketua NU. Idham memiliki kelincahan logika tinggi. 

KH Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1921 M di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara dari H Muhammad Chalid. Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Keterkaitannya dengan NU dimulai pada tahun 1952 ketika ia aktif dalam Gerakan Pemuda Ansor, organisasi kepemudaan dibawah NU. Dua tahun kemudian ia dipercaya memegang jabatan Sekretaris Jenderal PBNU. Kemudian menjadi Ketua Umum PBNU. Mulai mengemban amanat itu, Idham otomatis sebagai tokoh termuda saat berusia 34 tahun yang pernah memimpin PBNU. Ia memimpin NU pada tahun 1956 sampai tahun 1984. Kepemimpinannya selama 28 tahun adalah sebuah catatan dan prestasi yang fenomenal baik pada masa tersebut maupun masa kini. 

Kepemimpinan Idham di PBNU mematahkan mitos Jawa dan luar Jawa. Juga menghapus mitos bahwa Ketua Umum PBNU harus memiliki darah biru, yang dapat diartikan sebagai keturunan ulama besar yang terpandang.  

Ayah Idham hanya berprofesi sebagai penghulu di pelosok Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin. Keluasan pergaulan, kemahiran retorika serta kepiawan dalam melobi mengantarkan Idham sebagai tokoh besar pemimpin nasional. Idham menjadi pemimpin besar baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru karena kapasitas personal, kegigihan dalam perjuangan serta kemauan keras untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan agama. 

Pada masa Perang Kemerdekaan, Idham berjuang di Kalimantan Selatan. Ia bergabung dengan badan perjuangan Serikat Muslim Indonesia (Sermi). Kemudian dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK). Bersama dengan Komandan Divisi IV ALRI, Letnan Kolonel Hassan Basri, ia mendirikan Fonds Nasional Indonesia Kalimantan. Ia ikut bergerilya bersama anggota divisi IV ALRI, bahkan diangkat sebagai penasihat. Pada bulan Maret 1949 ia ditangkap Belanda dan baru dibebaskan pada bulan November. 

Dalam bidang pendidikan, pada tahun 1940, Idham menjadi guru di Madrasah Pondok Modern Gontor, bekas almamaternya. Setelah kembali ke daerah kelahirannya di Kalimantan Selatan pada tahun 1944, ia memimpin Normaal Islam School. Ia juga menghimpun sejumlah pesantren dengan mendirikan Ittihad Al Ma’ahid Al Islamiyyah. Kegiatan di dunia pendidikan masih dilanjutkan Idham ketika ia sudah menjadi pimpinan NU. Pada tahun 1956 ia mendirikan perguruan Islam Darul Ma’arif di Jakarta dan pada tahun 1960 mendirikan Pendidikan Yatim Darul Qur’an di Cisarua, Bogor.

Di bidang pemerintahan, beberapa kali Idham Chalid duduk dalam kabinet dengan jabatan antara lain Wakil Perdana Menteri dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957) dan kabinet Juanda (1957-1959). Menteri Utama bidang Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Ampera I (1966-1967), Menteri Negara Kesejahteraan dalam Kabinet Ampera II (1967-1968), Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I (1968-1973). Selain itu, ia juga pernah menjadi Ketua DPR (1968-1977) dan Ketua MPR (1972-1977), Ketua DPA (1978-1983).

Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University Kairo, Mesir ini yang yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi, wafat pada 11 Juli 2010. Ia dimakamkan di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Setahun kemudian, KH Idham Chalid diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, bersama dengan 6 tokoh lain, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011. Ia merupakan putera Banjar ketiga yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional setelah Pangeran Antasari dan Hasan Basry. Dan kini, sebentar lagi akan menghiasi mata uang Rupiah 5.000.


nu.or.id

Selasa, 11 Juli 2017

AYAH, IBU AKU SEKOLAH


Seperti biasanya, pagi ini aku membantu berjualan Ibukku di pasar. Menjual gorengan tempe, bakwan dan pisang goreng. Namaku Uzi, umurku baru 8 tahun. Ibukku pedagang gorengan keliling, sedang Ayahku menderita lumpuh sejak aku balita usia 2 Tahun. Sejak kecil aku selalu mendampingi Ibu berkeliling desa mencari nafkah halal dengan menjajakan dagangan gorengan kepada orang-orang. Tak banyak yang suka dengan gorengan Ibukku karena tidak terlalu enak. Namun bagaimanapun, tetap kami jual sejak pagi hingga sore hari. Entah berapa nanti penghasilan kami, semoga cukup untuk bekal makan 2x sehari, syukur bisa 3x sehari.
Seperti biasa, dagangan Ibukkh selalu sepi dari pembeli. Aku tak kuasa menahan rasa sedih menatap mata Ibukku yang semakin sayup karna kelelahan dan rasa kantuk karna seharian Ibu tidak tidur. Aku merasa pasti Ibu sedang bergumam dalam hatinya karena dagangan yang kami jual tak kunjung laku. Padahal perutku sudah sangat keroncongan, dan kurasa perut Ibukku juga lebih keroncongan, sebab sejak 3 hari ini Ibu tidak makan, hanya minum air mineral saja.
Entah kenapa di siang hari itu Ibu menyuruhku berjalan ke arah barat. Aku pun tak tau pasti kenapa Ibu menyuruhku kesana. Aku hanya mengangguk dan menuruti perintah Ibu. Aku terus berjalan tanpa arah sambil memegang perutku yang keroncongan ini. “Aduh….” keluhku. Rasanya seperti diremas-remas lambungku ini, sakit sekali. Aku pun duduk beristirahat di depan teras toko baju karena aku sudah sangat tidak tahan dengan sakit perutku ini. Aku duduk sambil menatap kanan kiriku, melihat banyak penjual makanan yang begitu wangi dan lezat tentunya. Aduh… semakin membuat perut kecilku ini tak sanggup lagi.
Entah pandanganku tertuju ke arah mana. Aku melihat seorang Ibu yang sedang berjalan kemudian dompetnya terjatuh. Seketika itu aku berlari, berharap tidak ada seorangpun yang melihat dompet warna Ungu itu. Tiba-tiba tatapan heran mengarah kepadaku. Mereka mengira aku pencopet, “Woy…. Copet lu ya??” Teriak salahsatu dari mereka padaku. Aku terdiam, kakiku tak bisa melangkah, badanku menggigil ketakutan. Mereka menghakimi aku, anak kecil miskin yang sedang dilanda kelaparan, anak kecil yang menemukan dompet ungu terjatuh dijalan dan berniat ingin mengembalikan, tiba-tiba dihakimi masa. Aku dibully, dicaci-dimaki, ditendang, ditampar dengan kekerasan.
Tak lama kemudian ada seorang Bapak-bapak datang padaku, “Hei ada apa ini ribut-ribut?” tanya Bapak tersebut kepada orang-orang yang mengerumuniku. “Ini Pak, ada anak kecil tukang Copet” kata seorang diantara masa yang mengerumuniku. Aku terdiam membisu, aku tak bisa berucap satu kata pun. Bapak itu menatapku dengan heran. “Dek, sepertinya saya pernah mengenalmu. Sek…. sebentar, kamu anaknya Ibu surti tukang gorengan itu, kan?” tanya Bapak itu padaku. Aku pun hanya mengangguk-angguk sambil mataku berkaca-kaca. “Sudah sini, dek ikut Bapak saja” ajak Bapak itu.
“Lho Pak, mau diajak kemana anak copet itu?” tanya orang yang sejak tadi menendangi kepalaku dengan kakinya. “Mau saya ajak ke kantor Polisi supaya kalian tak main hakim sendiri”, kata Bapak itu. Aku hanya terdiam dan terus membisu. “Lho, Pak. Dia ini kan sudah terbukti mencopet, harus dihukum disini dong” Kata seorang aku tak tau siapa dia, tapi tiba-tiba omongannya itu mendapat dukungan semua orang disana “Iya, hajar dia Pak. Nggak ada ampun”. Aku semakin takut dan akupun memeluk Bapak itu. “Sudahlah, kalian itu makhluk apa sebenarnya?. Gak boleh main hakim sendiri, apalagi sama anak kecil yang polos seperti ini. Kita ada hukum, ada Polisi. Kenapa main hakim sendiri?. Pada anak bawah umur pula, apa kalian ndak mikir bagaimana seandainya dia trauma psikis kemudian dia gila sebab ini. Bagaimana masadepannya, apa kalian nggak mikir sejauh itu?”. “Bapak ini aneh, pencopet kok dibela”. Kata seorang pria berbaju hitam padaku. Mereka pun menatap sinis padau dan bubar seketika itu.
Bapak itu membawaku ke kantor Polisi menggunakan mobil. “Dek, saya nggak percaya kamu nyopet. Sebab Ibumu itu baik hati sekali. Bagaimana bisa kamu dituduh mencopet?” tanya Bapak itu. “Saya tidak tahu pak. Tadi saya sedang duduk istirahat di depan toko baju. Saya melihat ada seorang Ibu berjalan kemudian dompetnya terjatuh, saya menghampiri dan berniat ingin mengembalikan dompet tersebut. Namun saya malah dituduh copet” Jawabku. “Sejak awal juga saya sangat tidak percaya kalau kamu sampai mencopet. Emm…. coba, boleh sayablihat dompetnya dik?”. Kemudian aku menyodorkan dompet ungu yang aku temukan kepada Bapak itu. “Ini, Pak”. Bapak itupun mengecek uang dan identitas yang ada dalam dompet tersebut. “Atas nama Adinda, Ok ada nomor teleponnya, biar saya hubungi. Sebentar ya, dik”.
Hampir setengah jam lamanya Bapak itu menghubungi Ibu Adinda pemilik dompet ungu tersebut. “Bagaimana, Pak?” tanyaku dengan nada rendah sambil menundukkan kepala. “Oh, iya dek. Nanti menyusul kesini. Oh, ya kamu sudah makan?” tanya Bapak itu. Aku hanya geleng-geleng kepala saja, “Mau makan apa, yuk keluar saya traktir makan dek” Bapak itu menuntuk tanganku sambil menatapku dengan wajah tersenyum manis padaku. Aku hanya mengangguk-angguk.menyetujuinya, sebab perutku pun juga sudah sangat keroncongan.
Akhirnya kami pun makan di warung padang. Dan tak lupa membungkuskan maknan untuk Ayah dan Ibukku. Aku tau Ibu khawatir karena sejak tadi aku tak kunjung pulang. Dan pasti sangat khawatir. “Yaudah dek, sekarang ke Kantor lagi ya. Sudah ada Ibu yang punya dompet” Kata Bapak itu padaku. Kami akhirnya pulang dan langsung menemui Ibu pemilik dompet. “Oalah njenengan to, Pak” Sapa akrab Ibu Adinda pada Bapak itu. Sepertinya mereka sudah saling mengenal. “Din, ini benar kan dompetmu?” Bapak itu menyodorkan dompet ungu yang kutemukan dijalan kemarin pada Ibu itu. “Eh… iya bener. Sek tak coba cek ya” Ibu itu mengecek isi dompet tersebut. “Alhamdulillah, masih utuh isinya. Masih lengkap semuanya. Eh, kamu nemu ini dimana?” tanya Ibu Adinda, kemudian Bapak itu menjawab “Itu, adek kecil yang menyelamatkan dompetmu. Untung saja ada dia. Kalau enggak entah bagaimana nasib dompet mungilmu ini. Lagian naruh dompet kok sembarangan. Untung isinya nggak hilang, coba kalau hilang, pasti galaunya tujuh hari tujuh malam.” Canda Bapak itu.
Aku pun menceritakan bagaimana kejadian awalnya bisa seperti itu. Ibu Adinda pun bertanya padaku mengenai kedua orangtuaku, Alamat rumah dan pekerjaan kedua orangtuaku. Aku menjawabnya dengan jujur.
Ibu Adinda pun akhirnya mengantarku pulang. Sesampai dirumah, aku melihat Ibu menangis tersengguk-sengguk. “Ibu kenapa?” tanyaku. “Ibu khawatir nak kamu kemana saja. Seharian tidak pulang” kata Ibu sambil memeluk erat badanku. “Maaf, bu” kataku. Ibu Adinda pun menjelaskan semuanya kepada Ibu. Dan Ibu Adinda bersedia menyekolahkan aku dengan Beasiswa dan uang jajan ditanggungnya juga biaya berobat Ayahku hingga pulih kembali. Aku dan keluarga senang sekali mendengar kabar tersebut.
Sebulan setelah itu, Ibu sudah punya warung makan sederhana sediri. Ayah sudah bisa bergerak dengan kursi roda. Aku sudah mengenyam pendidikan dibangku SD kelas 1. Aku sangat berterimakasih kepada Ibu Adinda yang sudah banyak menolongku dan kedua Orangtuaku. Semoga ini menjadi Amal jariyyahnya kelak di Akhirat. Aamiin Yaa Rabbal ’Alamiin.”Ayah, Ibu kini aku bisa merasakan nikmatnya Sekolah. Nikmatnya menimba Ilmu. Semoga ini menjadi Barokah untukku, untuk Ayah dan Ibu, serta untuk masadepanku kelak”.
Semoga-Semoga-Semoga
Borobudur, 10 Juli 2017.
Oleh : Vinanda Febriani

Senin, 10 Juli 2017

PC IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan Kumpulkan Kader dan Alumni dari Tahun 1962


Pekalongan. Sabtu 08 juli 2017 Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan mengadakan Halal Bi Halal Akbar Alumni dan Kader dari tahun 1962 – 2017. Acara yang berlangsung di Gedung serbaguna PC NU Kabupaten Pekalongan  dihadiri sekitar 500 alumni dan kader antara lain H Noor Zain Thoat (Ketua Pertama PC IPNU Kab. Pekalongan tahun 1962-1966), Drs H Shopan Setiawan ( 1979-1985), Drs H Abdul Munir (1985-1989), Zaerofi S.Pd (2003-2005), Azizun Chakim (2005-2007), Ahmad Ardabili ( 2007-2009 ), Ahmad Masroni (2011-2013), Abraham Usman (2014-2016). Sedangkan dari IPPNU hadir antara lain Ibu Hj Fatimah Naro ( 1985-1989), Ibu Hj Misrofah (1989-1992), Ibu Zahiroh ( 2001-2003) Ibu Hj Nur Faizah ( 2003-2005) Ibu Nur Hayati (2007-2009), Ibu Fatkhurohmah ( 2009-2011), Ibu Ema Maryana (2011-2013), Ibu Fitriyah ( 2014-2016)

"Panitia bersyukur karena acara dapat berjalan dengan baik dan peserta yang hadir baik dari unsur alumni ataupun delegasi Pac terlihat senang dan menymbut baik dg adanya kegiatan ini. Namun panitia jga menyadari bahwa berbagai hal teknis masih terdapat banyak kekuragan oleh karenanya saya selaku pribadi dan pnitia pda umumya menyampaikan permohonan maaf " Kata Agung Ketua Panitia Halal Bi Halal Akbar , Semoga kegiatan serupa bisa tetap diadopsi bagi kepengurusan ditahun-tahun berikutnya

“Suatu Kehormatan dan Kebahagiaan tersendiri bagi PC IPNU IPPBU Kabupaten Pekalongan karena bisa berkumpul dengan para alumni, senior dan para kader dalam acara Halal BI Halal dan juga berterimakasih atas kehadiran alumni dan kader IPNU IPPNU se-Kabupaten Pekalongan”  Kata Murtadho Selaku Ketua PC IPNU Kabupaten Pekalongan. Berharap dengan kehadiran para alumni bisa menjadi motifasi untuk meningkatkan kualitas kader di Kabupaten Pekalongan agar bisa menjadikan IPNU IPPNU sebagai rumah belajar kita seluruh pelajar dan santri.

Wasilatul Fadlilah (Ketua PC IPPNU Kab Pekalongan) mengatakan "Syukur Alhamdulillah tak henti-hentinya saya ucapkan, ini pertama kalinya alumni IPPNU dari masa ke masa dipertemukan dalam satu forum dan baru diketahui juga sanad lengkap mantan ketua IPPNU dari yang pertama hingga sekarang". dia juga  berharap pertemuan akbar kali ini menjadi awal yang baru untuk menyempurnakan proses perjalanan guna mencapai tujuan yang diharapkan. Dukungan dan bimbingan dari alumni dan para ketua terdahulu menjadi inspirasi dan motivasi bagi kami untuk lebih aktif dan semangat dalam Belajar Berjuang Bertaqwa guna tercapainya visi misi IPPNU.

"Kader harus berkembang lebih baik dari sebelumnya, saya tekankan IPNU IPPNU itu generasi penerus jadi kewajiban kader IPNU IPPNU menjadi agen yang handal bagi Nahdlatul Ulama' baik di bidang formal maupun non formal" menurut H Noor Zain Thoat (Ketua Pertama PC IPNU Kab. Pekalongan tahun 1962-1966)

Acara di tutup dengan mushofahah dengan semua kader yang hadir dan dilanjutkan dengan terbentuknya majlis Alumni Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan.

Aji Lukmana

Jumat, 07 Juli 2017

Paninggaran Cetak Kader Berkualitas

                           

 Sistem pendidikan jenjang awal dalam Kaderisasi IPNU - IPPNU ialah MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota), Tujuan mencetak dan jadi pintu masuk menjadi anggota IPNU IPPNU. Seperti halnya yang telah di laksanakan oleh Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Kecamatan Paninggaran menyelenggarakan MAKESTA V pada tanggal 3,4,5 Juli 2017 bertempat di MIS Paninggaran Kecamatan Paninggaran yang di ikuti oleh peserta dari  Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat se-kecamatan Paninggaran.

 Kegiatan ini mengakat tema “Mencetak Kader Bangsa yang Baik dan Benar”, Selama kegiatan berlangsung para Makestawan dan Makestawati di didik dan di bimbing oleh para narasumber berpengalaman,di antaranya dari PC. IPNU IPPNU Kab.Pekalongan,DKC CBP KPP Kabupaten Pekalongan, pembina IPNU IPPNU Kecamtan Paninggaran,Puskesmas Kecamatan Paninggaran, maupun dari Sahabat dan tim BAGANA GP Anshor Kecamatan Paninggaran.

 Selain di haruskan mengerti dan menguasai Materi Materi pokok tentang Keorganisasian, apa itu IPNU IPPNU,Mendalami ASWAJA ke NU an, juga di berikan pemahaman bagaimana kita bersikap dan bijak menjadi Manusia social agar para kader menjadi generasi yang berkualitas demi keberlangsungnya IPNU IPPNU di Paninggaran.


Kaderisasi di IPNU IPPNU lebih mementingkan kualitas dri pada kuantitas,Oleh karna itu nantinya Alumni Makesta V ini menjadi kader yang militan dan bisa menjaga serta melanjutkan jenjang berikutnya.

untung Mualif / aji lukmana

MAKESTA Mandiri II PAC IPNU IPPNU Kec. Wonopringgo



                Wonopringgo. Jum’at,30/6/2017, Pimpinan Ranting  Pegaden Tengah mengadakan acara Makesta Mandiri II yang diselenggarakan di TPQ AL-Munawir Desa Pegaden Tengah Kec.Wonopringgo. Sebelumnya makesta mandiri pertama  sudah diadakan oleh Pimpinan Ranting Galang Pengampon. Pada MEKESTA mandiri II ini Pimpinan Ranting  Pegaden Tengan mengangkat Tema “ Mempersiapkan Kader Loyal Yang Berlandaskan Aswajah Ala Nahdhatul Ulama Untuk Keluarga, Agama,Nusa Dan Bangsa.”

Pembukaan MAKESTA mandiri yang dihadiri Bapak Nur Jati(Ketua PR NU Desa Pegaden Tengah),ibu  Muslimat, Fatayat, Pimpinan Anak Cabang Wonopringgo dan perwakilan Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kab. Pekalongan dan Peserta MAKESTA ini berjumlah 36,yaitu dari Ranting Pegaden,Ranting Blumbang dan ada dari Kec Karangdadap.

            Ketua IPNU Wonopringgo, Ahmad Zidni Ilman mengatakan “ jangan berhenti di sini,MAKESTA adalah jenjang paling awal, kalian harus bisa mencapai jenjang pengadera yang lebih tinggi sampai ke lakut”,  Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU Wonopringgo juga mengucapkan Minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh kader.

            Pembaitan peserta MAKESTA di Pimpin langsung oleh Wakil Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Cabang  IPNU Kabupaten Pekalongan Rekan Firmasyah dan Ketua PC IPPNU Kabupaten Pekalongan Rekanita Washilatul Fadlilah, kemudian acara MAKESTA Mandiri 2 PAC IPNU IPPNU Wonopringgo di tutup dengan foto bersama.

Arif Ayusman /Aji Lukmana


Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...