Sabtu, 08 April 2017

Sarasehan Alumni dan Kader PC IPNU Kab Pekalongan



Kedungwuni, 7 april 2017 Pimpinan Cabang Kabupaten Pekalongan mengadakan acara "Saresahan Alumni dan Kader IPNU Kab. Pekalongan",acara ini di mulai pukul 08.30-23.00  yang hadir dalam acara ini,sekitar 80 orang dari perwakilan  kader PAC se-kabupaten Pekalongan dan alumni ketua PC Pekalongan (1962-2017)

Acara di mulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya dan mars IPNU,setelah itu di lanjutkan dengan acara penyerahan penghargaan “Gerakan Pelajar kota santri giat menulis”  yang di selenggarakan oleh  PC IPNU Kabupaten Pekalongan. Adapun  penghargaan tersebut antara lain:Penulis berita tergiat yang di raih oleh  rekan Arif Ayusman dari Wonopringgo, penulis artikel baik raih oleh Khairul Anwar dari Tirto serta Untung Mualif dari paninggaran menyabet opini terbaik.

Selanjutnya ,sambuatan dan sharing motivasi dari alumni serta mantan ketua IPNU Kabupaten Pekalongan ,  di mulai dari H Nur Zain Tho`at ketua Pimpinan cabang pertama (1962-1964,1964-1966) beliau berpesan agar IPNU bisa mengambil peran dalam pembangunan di kabupaten pekalongan, dialnjutkan oleh  bapak Drs H Shopan Setiawan ketua ke empat PC IPNU Pekalongan(1979-1985) beliau mengingatkan membuat kegiatan sesuai kondisi zamanya untuk menguatkan organisasi .

Semakin malam sarasehan semakin menarik, motivasi selajutnya dari Drs Abdul Munnir ketua ke lima PC kabupaten Pekalongan (1985-1987, 1987-1989) beliau berkeinginan untuk kader IPNU selalu bersemangat dan ikhlas dalam menjalankan organisasi dan berpikir kedepan mau jadi apa. Beliau mendapatkan julukan sang “Pendobrak” karenadi kenal berani  mampu memotivasi rekan-rekanya untuk selalu berorganisasi walaupun banyak tekanan dari berbagai kalangan dan beliau berani melepas setatus Pegawai di pemerintahan untuk menjalankan  organisasi.

Ketua ke enam bapak H Irwan Abbas (1989-1991) memberikan saran untuk IPNU agar lebih bergerak ke Komisariat-komisariat sedangkan ketua ke tujuh bapak Roziqin Lany (1991-1994) berkata “ berikan ilmu agama  yang lebih untuk para kader” . Bapak Abdurahman Nuh selaku ketua ke Sembilan (1997-2000) menginginkan IPNU   harus ada perubahan dalam program kerja agar tidak monoton.

Kemudian dari bapak Zahrofi,S.Ag ketua ke sebelas (2003-2005) beliau mengatakan “ keberhasilan seorang pemimpin apabila mampu melahirkan kader yang lebih baik dari dirinya”. Dilanjutkan oleh ketua ke empatbelas Bapak Abdul Adhim (2009-2011)menginginkan agar IPNU lebih serius dalam menggarap media .

Sharing pengalaman dan cerita masa-masa dulu menjadi topik selajutnya dari yang lucu, “nge” hits pada zamanya sampai keadaan organisasi dimulai dari Bapak Ardabili ketua (2008-2009), Yusrol Hafidz Sekretaris (2008-2009), Ahmad Masroni ketua (2011-2014), Abraham Usman Ketua (2014-20016) dan M Atho’ wakil ketua (2014-2016).

Sungguh malam luar bisa bagi kader-kader IPNU di kabupaten pekalongan karena bisa sharing dan berinteraksi langsung terhadap alumni-alumni dalam satu tempat. Acra ditutup dengan saling bersalaman antara kader-kader dengan alumni dan di akhiri dengan foto bersama.


Aji lukmana 

Rabu, 05 April 2017

Mengenal Tolchah Mansoer, Pendiri IPNU



Prof. Dr. KH. Moch Tolchah Mansoer, beliau adalah seorang ulama sekaligus cendekiawan muslim yang berpengaruh. Beliau juga seorang guru besar ilmu keislaman dan hukum tata negara di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta dan beberapa kota lain. Beliau juga menjadi salah satu dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang beberapa kali pernah menjabat sebagai dekan ataupun rektor di berbagai perguruan tinggi yang berbeda.
Seorang ulama yang berpandangan luas ini telah menjadi aktivis NU sejak usia remaja. Mengingat hal tersebut tidak mengherankan bila ulama yang satu ini dikenal dekat dengan generasi muda. Beliau tidak pernah lelah memberikan semangat dan dorongan kepada mereka. Mbah Tolchah merupakan tokoh istimewa dalam tubuh NU, selain mubaligh yang handal beliau sekaligus seorang yang produktif menulis buku-buku keagamaan, buku ilmu hukum, dan artikel di beberapa mediamassa. Beliau juga termasuk seorang birokrat di Yogyakarta yang pernah menduduki jabatan eksekutif maupun legislatif. Meskipun begitu, keulamaan dan kecendikiawanannya lebih menonjol dikalangan masyarakat daripada jabatan formal yang lain.

K.H Tholhah Mansur dilahirkan pada tanggal 10 September 1930 dikota Malang Jawa Timur, Putra dari K. H. Mansur, seorang ulama dan pedagang kecil di kota tersebut. Ayahnya yang berdarah Madura berkeinginan agar Muhammad Tholhah Mansur seperti kakaknya, Usman (Mayor K. H. Usman Mansur), kelak menjadi seorang ulama. Disela-selanya menuntut ilmu dijenjang pendidikan umum, ia giat mengaji. Proses pendidikan keduanya tidaklah lancar, tapi keduanya mampu dicapainya, walaupun memerlukan waktu lama. Beliau juga termasuk kutu buku dan gemar akan ilmu, sekaligus otodidak, bahkan beliau tak segan-segan menjual mobilnya untuk membeli kitab kuning dan buku.
Pendidikan pertama KH. Tolchah Mansur di peroleh di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Jagalan Malang (1937-1945), kemudian melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah ditempat yang sama hingga kelas III. Di Madrasah yang didirikan oleh K. H. Nahrawi Thahir ini, Muhammad Tholhah Mansur diasuh oleh K.H. Muhammad Syukri Ghazali dan Kyai Murtaji Bisri.

Pada tahun 1947, pelajar usia 17 tahun ini menjadi sekretaris Sabilillah daerah pertempuran Malang Selatan, sehingga ia harus meninggalkan sekolahnya. Baru setelah perang kemerdekaan usai, ia meneruskan sekolah di Taman Madya Malang sampai lulus tahun 1951.

Setelah lulus Taman Dewasa, ia masuk Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik (HESP), Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Kuliahnya tidak berjalan lancar, karena ia memang aktivis organisasi. Pada tahun 1953, Muhammad Tholhah Mansur berhenti kuliah untuk sementara waktu dan baru tahun 1959 ia kembali ke bangku kuliah. Semangat Mbah Tolchah untuk belajar tidak pernah surut, walaupun telah menikah beliau tetap kembali ke bangku kuliah untuk menyelesaikan studinya, hingga kemudian Ia mampu menyelesaikan jenjang sarjana dan menjadi Sarjana Hukum pada tahun 1964.

Meskipun waktu yang diperlukan oleh Mbah Tolchah untuk menempuh sarjana hukum memakan waktu 13 tahun. Namun, berkat kegemarannya membaca beliau mampu menyelesaikan gelar Doktor Ilmu Hukum ( Jurusan Hukum Tata Negara) dalam waktu relatif singkat. Yakni dalam waktu hanya lima tahun. Dengan Promotor Prof. Abdul Baffar Pringgodigdo, S.H, Muhammad Tholhah Mansur berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Hukum Universitas Gajah Mada dengan judul disertasi “Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia (17 Desember 1969)”. Disertasi ini kemudian diterbitkan menjadi buku oleh penerbit Radya Indria, Yogyakarta(1970).

Pendidikan ilmu-ilmu kesilaman didapatkannya dari guru-guru ngaji, khususnya K. H. Syukri Ghazali ketika ia belajar di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Jagalan. Kebetulan rumah Muhammad Tholhah Mansur tidak jauh dari madrasah dan rumah mantan ketua umum Majelis Ulama Indonesia itu. Selesai sekolah ia langsung mengaji, demikian pula ketika ia membantu K. H. Syukri Ghazali mengajar di madrasah tersebut. Disamping itu ia mengaji posonan (bulan Ramadhan) ke beberapa pondok pesantren. Diantaranya, di Pondok Pesantren Tebuireng dan Pondok Pesantren Al-Hidayah, Soditan Lasem. dibawah asuhan K. H. Ma’shum. Karena ia memang santri yang cerdas dan otodidak, maka wajarlah bila K. H. Muhammad Tholhah Mansur akhirnya menjadi seorang ulama besar.

Pengabdian KH. M Tholhah Mansur pada Organisasi dan Masyarakat

Dalam kehidupan organisasi, K. H. Muhammad Tholhah Mansur telah menjadi aktivis organisasi sejak usia remaja, terutama dikalangan NU. Ketika masih duduk dibangkuTsanawiyah, Ia pernah menjadi Sekretaris Ikatan Murid Nahdlatul Ulama (IMNU) kota Malang(1945). Pada saat itu Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) belum lahir, baru pada sembilan tahun kemudian Mbah Tolchah menjadi salah satu penggagas berdirinya IPNU.

Pengalaman organasisi berikutnya yang diperoleh oleh Mbah Tolchah adalah saat beliau berpindah ke Yogyakarta. Saat itu Ia pernah menjabat sebagai menjadi wakil Departemen Penerangan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) dan menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) wilayah Yogyakarta.
Meskipun pernah menduduki berbagai jabatan strategis dalam beberapa organisasi islam yang pernah ada saat itu, sebagai generasi muda NU yang militan ia mempunyai gagasan mendirikan organisasi Islam yang khusus mewadahi pelajar NU. Gagasan ini kemudian Ia sampaikan dan akhirnya pada Konferensi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Semarang (22 Februari 1954) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) didirikan. Kemudian, berdasarkan konferensi tiga kota di Solo rekan Tholhah dipilih secara aklamasi terpilih sebagi ketua umumnya.

Setahun kemudian menyusul berdirinya Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang dipimpin oleh Ny Hj.Umroh Mahfudlah(1955). Jabatan ketua umum ini dipertahankannya dalam Muktamar I di Malang (1955), Muktamar II di Pekalongan (1957) dan Muktamar III di Cirebon (1958). Sampai sekarang kedua organisasi ini tetap hidup, walaupun pada tahun 1985 sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 yang melaranga danya organisasi pelajar selain OSIS, maka IPNU menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama dan IPPNU menjadi Ikatan Putri Putri Nahdlatul Ulama. Di era reformasi kondisi telah berbeda maka sejak tahun 2003 IPNU dan IPPNU kembali menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama sebagimana semula sewaktu didirikan.

Perjuangan KH. Moch Tolchah Mansoer selanjutnya adalah sebagai ketua Pengurus Wilayah Partai NU Daerah Iistimewa Yogyakarta. Setelah terjadi fusi empat partai islam (NU, Parmusi, PSII dan Perti) menjadi Partai Persatuan Pembangunan (5 Januari 1973), beliau lebih banyak berperan aktif di Jamiyah Nahdlatul Ulama, disamping sebagai guru besar di beberapa perguruan tinggi dan mubaligh. Sebagai gantinya Dra. HJ. Umroh Mahfudloh (istrinya), tampil sebagai aktivis PPP, bahkan sampai menjadi ketua DPW PPP Daerah Istimewa Yogyakarta dan beberapa kali menjadi anggota DPRD I Yogyakarta dan DPD/MPR RI. Prof. Dr. K. H. Muhammad Tholhah Mansur, adalah salah seorang tokoh yang ikut membidani kembalinya ke Khittah 1926, dalam Muktamar NU ke 27 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukerejo, Asembagus Situbondo, yang diasuh oleh K. H. As’ad Syamsul Arifin. Dalam Muktamar tersebut , beliau terpilih sebagai salah seorang Rois Syuriah PBNU dibawah pimpinan Rois Aam K. H. Ahmad Shiddiq dan Wakil Rois Aam K. H. Rodli Sholeh.

Sesuai dengan aktivitasnya dalam organisasi, maka K. H. Muhammad Tholhah Mansur pernah beberapa kali memegang jabatan dalam pemerintahan terutama di Daerah IstimewaYogyakarta. Ia pernah terpilih menjadi anggota DPR mewakili NU (1958) dan tahun itu juga ia diangkat sebagai anggota Dewan Pemerintah Daerah (DPD), kemudain badan ini diubah namanya menjadi BPH (Badan Pemerintah Harian) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta(1958). BPH Merupakan lembaga eksekutif di daerah yang bertugas membantu kepala daerah.

Profesi Utama K. H. Muhammad Tholhah Mansur adalah sebagai pendidik sekaligus juru dakwah dan penulis. Sewaktu masih kuliah tingkat doktoral, beliau menjadi asisten dosen di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga). Setelah lulus beliau masih tetap mengajar di IAIN, kemudian juga di beberapa perguruan tinggi lainnya seperti IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), Akademi Militer di Magelang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Akademi Administrasi Negara, Universitas Hasyim Asy’ari Jombang, Universitas Nahdlatul Ulama Solo dan lain-lain. Guru Besar Hukum ini pernah memegang jabatan di beberapa perguruan tinggi , diantaranya Pembantu Rektor IAIN Sunan Kalijaga, kemudian Dekan Fakultas Ushuluddin, Direktur Akademi Administrasi Niaga Negeri di Yogyakarta (1965-1967), Rektor Universitas Hasyim Asy’ari (1970-1983) merangkap Rektor Institut Agama Islam Imam Puro, Purworejo (1975-1983) dan Dekan Fakultas Hukum Islam UNU (Universitas Nahdlatul Ulama) Surakarta. Dan juga pernah menjadi anggota badan Wakaf IAIN Sunan Kalijaga dan Badan Penyantun Taman Siswa Yogyakarta. Ulama sekaligus guru besar ini wafat pada hari senin 20 Oktober 1986 dan makamkan di kompleks makam Dongkelan Yogyakarta.

Diambil dari buku Ensiklopedi Ulama Nusantara karya H.M. Bibit Suprapto, S.H.,M.Sc.,M.Si (Ditulis ulang di NUsidoarjo.org)

Sabtu, 01 April 2017

SUKSES UJIAN NASIONAL 2017: Motivasi dan Do'a Bersama


Pada hari sabtu tanggal 01 april 2017 Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan mengadakan motivasi dan do’a bersama  “SUKSES UJIAN NASIONAL 2017” yang  di selenggarakan di MWC NU Wonopringgo dan  diikuti pelajar se Kabupaten Pekalongan baik dari kelas 12 SMA/SMK/MA maupun kelas 9 SMP/MTS.

“Alhamdulillah acara dapat berjalan dengan lancar walaupun di guyur hujan  dan peserta sangat antusias” kata sekretaris panitia Afif Mubaroq. “Acara ini bertujuan mengajak teman-teman pelajar di Kabupaten Pekalongan untuk selalu Belajar Berjuang Bertaqwa khususnya dalam menghadapi Ujian Nasional” Menurut Murtadho selaku Ketua IPNU Kabupaten Pekalongan. Rekan Murtadho juga berharap untuk SMP/MTS bisa melajutkan ke jenjang berkutnya begitu pula dengan SMA/SMK/MA agar dapat melajutkan ke Universitas.

Ketua PC LP Ma’arif Kabupaten Pekalongan Dr. H. Muhlisin, M.Ag yang di undang untuk memotivasi para pelajar mengatakan “ agar para siswa tidak takut dan tetap bersemangat dalam menghadapi Ujian Nasional” . kemudian acara di tutup dengan do’a bersama yang di pimpin oleh Rais Syuriyah PC NU Kabupaten Pekalongan KH Muhammadun Jundi.

Selamat Berjuang Rekan Pelajar Se Kabupaten Pekalongan, Semoga di beri kemudahan dan kesuksesan dalam Ujian Nasional 2017


Aji Lukmana (aL)

Minggu, 26 Maret 2017

HARLAH IPNU IPPNU : RANTING JERUKSARI ADAKAN JALAN SEHAT


Tirto, Pelajar Kota Santri

Dalam rangka memperingati Harlah IPNU ke 63 & IPPNU ke 62. PR IPNU IPPNU Jeruksari Kecamatan Tirto Mengadakan jalan sehat. Kegiatan ini berlangsung pada hari ahad (26/03/17). Start dimulai pukul 07.00 Wib dan Dibuka langsung oleh Lurah desa Jeruksari, bapak Kuswanto. Rute Perjalanan Kurang lebih 1KM. peserta kurang lebih ada 600 orang yang terdiri dari anak Paud, TK, Siswa SD & MI yang ada di desa jeruksari. Serta tak ketinggalan para ibu-ibu  yang mendampingi anak-anaknya.

Kegiatan memperingati Harlah IPNU IPPNU ini merupakan salah satu program kerja dari Ranting Jeruksari periode 2016-2018. “Tujuan dengan adanya jalan sehat ini adalah untuk mengenalkan organisasi IPNU IPPNU Tingkat ranting, selain itu juga mempersiapkan kader generasi Pelajar NU desa Jeruksari”. Ujar M.Ali Yafie (Selaku Sie Acara kegiatan).

Petugas keamanan untuk jalan sehat ini adalah anggota CBP KPP yang ada di Ranting Jeruksari. Para peserta terlihat sangat antusias untuk mensukseskan acara ini walaupun dengan keadaan cuaca mendung dan gerimis. Selain jalan sehat, ada juga kegiatan donor darah yang bekerja sama dengan PMI Kota Pekalongan menjadi acara pendukung yang di selenggarakan di Balai Desa Jeruksari. 
Sementara ketua Ipnu Ranting Jeruksari, Rekan Musyafa (18) mengatakan ” bahwa harapan dengan diadakannya jalan sehat ini semoga bisa mengenalkan kepada adik-adik baik yang ada di MI, SD, TK, PAUD yang ada di Jeruksari  tahu akan IPNU IPPNU itu seperti apa”.

Sebelum acara selesai, ada pembagian dorprize dan pemotongan tumpeng oleh ketua IPNU Pertama Ranting Jeruksari Kyai Ahmad Tholib yang sekarang menjabat sebagai rois syuriah NU ranting Jeruksari .


Kontributor : Khairul Anwar
aL

Jumat, 24 Maret 2017

Pengajian Umum dalam rangka Harlah IPNU 63 IPPNU 62 Pimpinan Ranting Dadirejo Timur


Tirto - Pelajar Kota Santri

Dalam rangka Harlah IPNU yang ke 63 dan IPPNU yang ke 62, Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Desa Dadirejo Timur menyelenggarakan Pengajian Umum yang bertempat di halaman Musholla Al-Istiqomah Dk. Klepu, Ds. Dadirejo Timur, Kec. Tirto Kab. Pekalongan. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 2017 bertepatan dengan tanggal 25 Jumadil Awwal 1438 H.  Acara yang dibuka dengan pembacaan Maulid Simtudduror oleh grup sholawat Al-Mahabbah ini berlangsung khidmat dan tertib. Hadir pula dalam kesempatan ini Ustadz kondang asal Batang, Ustadz Minanurrohman yang akan menyampaikan Mauidhoh Khasanah. Rekan Musta'iddin selaku panitia penyelenggara yang sekaligus ketua IPNU Ranting Dadirejo Timur menyampaikan terimakasih kepada saudara-saudara sekalian yang telah berkenan hadir dalam acara ini. "Sedikit perlu saya sampaikan bahwa pengajian ini merupakan salah satu program kerja Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Desa Dadirejo Timur masa khidmat 2015-2017, maka di akhir periode ini kami mengucapkan mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dan kekhilafan dalam mengemban tanggungjawab di organisasi." Imbuhnya. Selanjutnya Kepala Desa Dadirejo Bapak Slamet, dalam sambutannya sangat mengapresiasi terselenggaranya pengajian Harlah IPNU IPPNU ini. Beliau menyampaikan: "Semoga di Desa Dadirejo ini makin banyak yang ikut IPNU IPPNU, saya sangat berharap besar pada adik-adik IPNU IPPNU disini, sebagai generasi yang berguna dan bermanfaat, tak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk Desa Dadirejo" Orang yang dituakan oleh warga Dadirejo ini juga menyampaikan mengenai sistem irigasi persawahan di Desa Dadirejo, khususnya kepada para petani di Desa Dadirejo beliau menyinggung tentang masa panen yang cuma 1 kali dalam setahun, selain akhir-akhir ini memang cuaca tak menentu namun juga sistem pengarian yang terganggu, maka harus kita benahi dan rawat bersama-sama. Ujarnya. Dalam kesempatan yang sama Bapak Ky. Ibadullah  selaku tokoh masyarakat desa Dadirejo juga memberikan sambutan nya dalam acara pengajian ini, beliau berpesan kepada para rekan rekanita IPNU IPPNU untuk tetap semangat berjuang khususnya di Desa Dadirejo, untuk tetap bisa meneruskan perjuangan sesepuh dan para pendiri NU. Beliau juga menuqil sebuah kalam hadits dari riwayat Imam Tirmidzi


الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ ِ


Yang artinya: “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.”


"Maka insyaAllah anak-anakku rekan-rekanita IPNU IPPNU perjuangan 'penjenengan sedoyo' diridhoi saking Gusti Allah SWT", tandas Beliau, yang serentak di Amini oleh rekan rekanita dan para hadirin. Acara puncak yang telah ditunggu-tunggu yaitu Mauidhoh Khasanah oleh Ustadz Minan yang populer lewat salah satu acara di stasiun televisi swasta ini memberikan ceramah mengenai deradikalisasi moral. Di zaman akhir ini marak terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh remaja-remaja, melalui media salah satunya tayangan kurang mendidik yang ditampilkan di televisi dan semakin majunya teknologi seperti handphone yang semakin canggih. Ustadz Minan menambahkan pentingnya berorganisasi untuk membentengi diri dari bahaya deradikalisasi moral, khususnya melalui wadah IPNU IPPNU yang sarat dengan pendidikan akhlaq, religi, serta nasionalisme cinta tanah air. Ustadz yang juga aktif di grup sholawat ini sesekali juga melantunkan syair-syair sholawat disela-sela ceramahnya, suaranya yang memang merdu membuat para hadirin ikut terhanyut dalam lantunan sholawat. Acara yang yang selesai sekitar pukul 23.45 WIB ini ditutup dengan do'a oleh Bapak KH. Winaji. Para hadirin dan tamu undangan membubarkan diri dengan tertib menuju tempat parkir yang telah dijaga oleh sahabat Banser yang juga bertugas mengamankan ketertiban lalulintas agar kenyamanan pengunjung terjaga dan selamat sampai rumah masing-masing.

Kontributor : Sarkipul


Rabu, 22 Maret 2017

YUK BUDAYAKAN BACA ALQUR’AN


Semarak memperingati Harlah  IPNU Ke 63 dan IPPNU Ke 62 tak henti hentinya di lakukan ,walaupun sejatinya Ipnu lahir pada tanggal 24 februari 1954 M dan Ippnu pada tanggal 2 Maret 1955 M.Namun hal ini tidak menjadi alasan bagi pimpinan ranting ipnu ippnu desa sawangan kecamatan paninggaran ,yang melaksanakan kegiatan tersebut pada hari sabtu 18 Maret 2017 .

Tujuan kegiatan yang tak hanya sebagai ajang silaturakhim antara Pelajar,Tokoh Masyarakat,Tokoh Agama,Santri Pondok Pesantren,Gerakan Pemuda Anshor,Ibu Fatayat Muslimat,maupun Pimpinan Anak Cabang yang hadir.Tapi juga Doa Bersama dengan “Khotmul Qur’an dan Pembacaan Sholawat Nariyah”.

Inilah salah satu bentuk kecintaan terhadap organisasi Ipnu Ippnu ,kecintaan terhadap Nahdlotul Ulama.Semoga hal ini semakin memperkuat dalam mempertahankan Akidah Ahlussunah Waljamaah,karna dengan kuatnya NU insya allah akan memperkokoh NKRI.


Ibu kepala desa sawangan ibu Casyiatun mengatakan,bahwa kami memberikan Apresiasi setinggi tingginya dan kami menaruh harapan besar kepada seluruh kader dan anggota Ipnu Ippnu ,semoga melalui organisasi ini melahirkan generasi penerus yang berkarakter dan berkualitas.

kontributor : untung Mualif

Selasa, 21 Maret 2017

JAGA AKU MAKA AKU AKAN MENJAGAMU, JAGA ALAM = MENJAGA MASA DEPAN


Ahad (19/3/17), Pengurus DKAC CBP KPP Tirto Menggelar kegiatan Hiking Ke Puncak Tugu, Petungkriono. Dengan menggunakan truk dan sepeda motor sebanyak 50  peserta yang terdiri  dari Anggota DKAC CBP KPP dan Sebagian Pengurus PAC IPNU IPPNU Tirto ikut serta dalam kegiatan ini.jalanan yang naik turun dan rusak serta banyak tikungan menjadi keasyikan sendiri yang dirasakan rombongan DKAC CBP KPP selama berada dalam truk.

Pemberangkatan dimulai jam 08.00 di balaidesa sidorejo  sampai Basecamp Pendakian jam 11.45 Wib, para peserta istirahat sejenak untuk melaksanakan sholat dhuhur dan makan. Pukul 13.00  melanjutkan perjalanan mendaki ke Puncak Tugu. Sebelum mendaki para peserta di bagi kedalam beberapa kelompok guna tertibnya perjalanan selama mendaki.

Setelah kurang lebih 1 jam setengah pendakian,  Alhamdulilah Rombongan Sudah tiba di Puncak tugu, agenda disana yaitu bakti sosial pemasangan petunjuk arah dan memasang tulisan “JAGA AKU MAKA AKU AKAN MENJAGAMU, JAGA ALAM = MENJAGA MASA DEPAN”. Selain itu disana mereka juga membahas agenda diklatama. Tak ketinggalan mengabadikan momen ini untuk berfoto-foto.

“Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja DKAC CBP KPP Tirto, yaitu Hiking III” Ujar Kurnia Sandi (Komandan DKAC CBP). Lebih lanjut  ia mengungkapkan bahwa tujuan diadakannya hiking ini untuk memperkenalkan anggota CBP KPP Tirto kepada lingkungan sekitar. Itu adalah program kerja divisi lingkungan hidup. Agar anggotanya untuk turut seta menyelamatkan alam sekitar dari bahaya tangan jahil manusia.tambahnya.


Pukul 16.00 para peserta beranjak turun dari puncak. Pukul 17.00 wib rombongan sudah sampai basecamp untuk kemudian melakukan sholat asar terdekat. Setelah itu mereka Bergegas pulang, pukul 18.00 wib rombongan DKAC CBP KPP Tirto pergi meninggalkan Petungkriono.  Rombongan telah tiba di depan balaidesa sidorejo setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 3 jam. 

KA/aL

Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...