Rabu, 31 Mei 2017

Kekinian tanpa Meninggalkan Halauan


Jujur ketika melihat Afi Nihaya Faradisa tampil di Rosi Kompas TV malam itu (30/05/17) saya cukup iri.
Ya, Rosiana Silalahi adalah salah satu idola saya, selain Karni Ilyas, Putra Nababan, Andy F. Noya, Najwa Shihab, dan masih banyak lagi.
Jadi ngefans sama Afi, besok mau tampil di Mata Najwa, lagi.
Oke, kita tinggalkan dulu idola-idola saya tersebut. Afi adalah sebuah trending, ditengah-tengah hegemoni dan problematika kebangsaan yang tengah kita alami dewasa ini.
Mengapa tidak, melalui tulisan-tulisannya di media sosial, bisa dibilang ia adalah revolusioner belia.
Di usianya yang masih remaja, pemikirannya begitu luas, tak seperti remaja kebanyakan yang masih berkutat dengan cinta, Afi telah memikirkan Indonesia.
Ya, Indonesia adalah rumah kita, rumah yang harus selalu kita rawat, kita jaga.
Mungkin kita berfikir, bagaimana pula kita mau berkontribusi untuk Indonesia, toh kita hanya orang pinggiran, 'jare Guruku, Pak Rustam: ibarate cuma wong cilik seng urusane weteng karo ngisor weteng' (red: menghidupi diri sendiri)
Gak usah nunggu kaya, gak usah nunggu pintar. Percuma pintar tapi untuk korupsi dan memperkaya diri sendiri serta sanak family? (Mantra Layar Kaca, hal: 73)
Sebisa kita, semampu kita, apapun itu.
Dalam prolog buku Kisah Hidupku, biografi Andy F. Noya dituliskan: "Tidak perlu menunggu untuk jadi cahaya di sekelilingmu, lakukanlah kebaikan sekecil apapun, sekarang juga".
Benar kata Afi, semuanya adalah warisan, yang kita punya, yang kita dapat.
Kita tidak bisa memilih dari orangtua mana kita dilahirkan. Miskin atau kaya.
Kita tidak bisa memilih dari Agama apa kita dilahirkan.
Semuanya adalah kuasa Nya.
Seharusnya kita bersyukur, dilahirkan dalam keadaan Iman, Ihsan, dan Islam.
Bukan malah saling berujar kebencian, saling mengkafir-kafirkan. Ingat! Kita bukan Tuhan. Manusiakanlah manusia, bukankah Islam mengajarkan kedamaian?
Pun saya, sedikit curhat.
Saya sangat bersyukur dilahirkan dari orangtua Muslim, walaupun mohon maaf bisa dibilang 'apatis' dan tak terlalu NU (red: mbah mboh, seng penting kerja, mangan)
Lepas dari itu semua saya sangat bangga terhadap mereka, yang sadar akan pentingnya pendidikan, dan Alhamdulillah lingkungan juga juga sudah ada penghijauan sehingga saya menempuh pendidikan di TK Muslimat. Modal utama doktrin NU sejak dini. Sampai ke jenjang sekolah dasar biasa saja seperti halnya anak-anak.
Saat remaja disinilah lagi-lagi saya bersyukur, 6 tahun menimba ilmu di Madrasah yang sudah tak diragukan lagi kehijauannya.
Entah mengapa dari sini aku mulai cinta NU.
Karakterku mulai terbentuk. Para Asatidz dengan kebarokahan ilmunya, sungguh adem. 
Melihat kondisi lingkungan ku sendiri agaknya masih kurang, disinilah yang melatar belakangi saya masuk di IPNU.
Singkat cerita, ternyata tak semudah membalikan telapak tangan.
Disini saya benar-benar merasakan arti sebuah perjuangan dan keikhlasan.
Tentang bagaimana cara mengajak, sadar organisasi, dan melu ngurip-nguripi.
Disini saya dituntut untuk pandai bermanuver.
Mencari formula yang pas, selalu uptodate dan upgrade.
Di lingkungan pemuda biasanya grumungan, pun saya harus pandai membaur, tanpa terkontaminasi, disinilah awal sosialisasi. Mulai akrab kemudian kita pasti akan lebih mudah untuk mengajak.
Beda halnya ketika dalam Majlis, yang pasti lebih mudah.
Kemudian kita dihadapkan dengan teknologi dan trend. Jangan jadi katak dalam gadget (Ais Nusantara).
Ketika kita memegang gadget, ada dua kata: 1. Manfaatkan atau 2. Kita yang dimanfaatkan.
Sudah saatnya kita sadar, pertahankan tradisi yang baik, nguri-nguri, dan di kolaborasikan dengan apa yang sedang hits sekarang tentunya ala ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah.
Disinilah kreatifitas muncul, ide-ide inovasi datang.
Agaknya pas slogan "Dunia dalam Genggamanmu".
Seperti Afi, menulis dengan gadget untuk merubah dunia, bukan untuk menghancurkan dunia.
Sebagai cloosing,
maaf bukannya sok bijak atau gimana.
Kader itu harus pandai menyikapi problematika dan hegemoni di lingkungannya.
Sekarang semuanya ada ditangan anda, berujar kebaikan untuk Indonesia damai dan toleran atau berujar kebencian untuk kehancuran."

Saiful (ketua PR IPNU Curug Tirto)

Senin, 29 Mei 2017

Moral oh Moral


Kemarin kulihat ada segerombolan anak sekolah memakai atribut Pramuka berjalan kaki keliling pedesaan tempatku tinggal. Aku mendengar mereka menyanyikan syair syahdu “Yalal wathon”, “Indonesia raya” dan “Indonesia Pusaka”. Aku memandang wajah para lelaki tampan yang sedang berusaha meraih cita dan masa depan itu dengan sangat terheran. Mereka menyanyikan lagu itu sambil beberapa kali mengepalkan tangan kanannya dan memegang “Stangan leher” dengan tangan kirinya sambil mencium “Stangan leher” merah putih itu seraya berkata “NKRI HARGA MATI !! TUMPAS RADIKAL !! KAMI CINTA NKRI !!”. Sungguh hati ini sangat terenyuh dan bergejolak kala itu.
Sesampai di rumah, aku masih mengingat betapa wajah para lelaki berseragam Pramuka itu sangatlah bersemangat. Merekalah harapan Bangsa ini. Merekalah generasi penerus NKRI. Mereka harapan kita satu satunya.
Aku berkhayal di dunia imajinasiku. Aku bermimpi suatu saat nanti pemimpin NKRI adalah jiwa-jiwa militan seperti anak Pramuka. Memang aku akui, aku tak terlalu menyukai dunia Pramuka. Tapi aku pernah merasakan nikmatnya jadi anak Pramuka.
Anak Pramuka sudah pasti Cinta NKRI. Sebab apa yang mereka pelajari di kepanduan Pramuka tak lain ada sebagian yang menyinggung materi mengenai wawasan kebangsaan, Nasionalisme dan Patriotisme. Sehingga sangat mustahil anak Pramuka namun dia tidak berjiwa Nasionalisme dan Patriotisme.
Ah.. tapi aku merasa ragu. Sebab, masa depan bangsa Indonesia saat ini sudah mulai keruh. Banyak muda-mudi bertaraf pelajar khususnya, yang sudah mulai terdoktrin pemahaman Radikal Intoleran yang sangat ekstrem. Mereka teriak profokasi kesana kemari tiada henti, bahkan Fitnah murahan pun mereka umbar demi kepuasan hati. Sungguh tak bermoral.
Lalu saat ini, Bangsa Indonesia sedang dilanda berbagai Retorika pahit yang semakin mengapit. Terorisme, Koruptor, Radikalisme, Pembodohan, Asusila semuanya memiliki skenario yang disusun rapih dan dibungkus dengan dalih “Agama”. Sebuah “Pembodohan” yang GILA !.
Sebuah kenyataan yang sulit diterima. Terlebih mayoritas korbannya adalah orang-orang lugu yang masih awam pengetahuan tentang Agama nya. Mereka didoktrin perlahan, Perlahan hingga mereka tak sadar, tak gunakan Akal dan nalar. Pikiran picik mereka, penuh dengan “dengki dan dusta”.
Sungguh, Bagaimana nasib gererasi kita yang akan datang. 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan bahkan hingga anak cucu cicit kita nanti? Apakah mereka masih bisa merasakan indahnya Toleransi, Indahnya kedamaian, indahnya sebuah makna kebersamaan, apakah masih bisa?.
Kita, dihianati. Pemimpin kejam yang usil memainkan “Skenario” busuknya demi menguasai NKRI. Kita, dihaianati. Peminpin kejam yang duduk nikmat di kursi jabatan tanpa tengok rakyat pinggir jalan. Itukah pemimpin kita? Itukah yang kita Inginkan? TIDAK !
Diam diam mencuri perhatian. Sekali lagi, kita dihianati. Pemimpin kejam itu, sibuk lirak-lirik kursi jabatan. Sibuk mainkan skenario perusakan mental dan fisik anak negeri. Sekali lagi, Jabatan yang sebenarnya mereka incar. Betapa kita sangat dihianati mereka.
Wahai pemimpin sadarlah !! siapa yang telah berhasil membawamu duduk di kursi kehormatan. Siapa yang telah membawamu duduk menikmati hidangan lezatnya jabatan. Apakah kau lupa dengan janji manismu pada kami? Kau bilang A namun nyatanya Z. Sedikit demi sedikit janjimu kau ingkari. Ketika ditanya mengapa, kau jawab dengan berjuta alasan.Oh, sungguh. Itukah pemimpin kita?.
Sebuah retorika pahit yang makin mengapit.
Baru baru ini kasus Bom. Sebagian oknum gempar. Bukan karna kaget bukan karna sedih. Bahkan fitnah keji mereka lontarkan. Sedang NKRI berduka, Tiga Polri meninggal dunia, belasan orang luka luka. Namun, segelintir oknum tak gunakan akal dengan “Pede” menyebutnya “pengalihan isu”. Ingin sekali ku teriakan pada mereka “Pengalihan isu ? GUNDULMU ?”
Bagaimana tak marah? NKRI berduka, mereka sebarkan Propaganda. Bahkan fitnah keji menghantam POLRI. Mereka mengira itu skenario POLRI. Lalu ku tanya “Bagaimana bisa? Dimana Otak nalar mereka ?”.
Yang Propaganda siapa yang diteriaki Propaganda siapa !? “NGACA!”
Padahal, ISIS dengan tegas menyatakan bertanggung jawab atas bom Panci yang telah terjadi di kampung melayu. Tapi mengapa mereka masih ngeyel menebar fitnah murahan ? Apa sebenarnya yang sedang mereka inginkan ? Jabatan atau Kekuasaan ?.
Apapun itu, sangat tak pantas mereka lontarkan. Dimana Moral mereka? Revolusi Akhlak ? Akhlak yang mana ?. Rosulullah pernah mengajarkan Fitnah keji? Rosulullah pernah mengajarkan melontarkan ancaman keji, rasa dengki dan profokasi?. TIDAK !. Rosulullah dakwah dengan Merah marah? Dengan mengumbar fitnah ? TIDAK.
Lalu ajaran siapa yang mereka ikuti? Heran saya.
Moral kacau !!
Hey Anak negri !!
Ku peringatkan padamu, Janga mau terprovokasi. Jangan mau dibodohi dengan janji janji palsu!! Mereka hanya ingin menjauhkan masa depanmu !! Ingatlah hay anak negeri !! Masa depan bangsa ini ada di tanganmu. Jangan kecewakan NKRI !.
Hey anak negeri !!
Perbaikilah moral kalian. Jangan dulu kalian ikut ikutan pemikiran orang dewasa yang makin hari makin aneh dan tak pakai nalar akal sehat.
Fanatik boleh Bodoh jangan !!
Moral oh Moral
Bagaimana masa depan bangsa Indonesia??
Kita lihat saja di episode selanjutnya.
Salam *NKRI HARGA MATI !!!*

oleh : Vinanda
ipnu.or.id

Pesan Susi Afitriyani; Korban Bom Kampung Melayu Akan Pentingnya Perdamaian


Pristiwa Bom Bunuh Diri yang terjadi di Kampung Melayu akhir-akhir ini tentu mengagetkan kita. Bagaimana tidak? Di tengah upaya persatuan dan penangkalan radikalisme yang gotong royong dilakukan oleh masyarakat, baik dari kalangan Pesantren, Organisasi Masyarakat hingga Kepolisian, masih saja ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan melakukan teror dengan berbagai dalih.

Tidak sampai disitu kekagetan kami. Salah satu korban ternyata adalah kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Sebagai satu keluarga besar tentu perasaan sedih kami semakin mendalam. Mungkin perasaan marah dan prihatin yang dirasakan ketua cukup mewakili perasaan kami sebagai sesama kader. Sore itu, setelah acara Rakerwil; yang tentu saja menguras tenaga dan pikiran selama beberapa minggu terakhir; ketua buru-buru mengajak saya untuk menjenguk Pipit, sapaan akrab Suci Afitriyani jauh-jauh ke Jakarta. Meski sudah memiliki beberapa jadwal ke luar kot, akhirnya saya urungkan. Saya bisa mengerti betul perasaan ketua, apalagi Pipit, sebagaimana halnya ketua sama-sama berasal dari Brebes. Jadilah, sore itu saya, bersama rekan Ferial Farkhan (Ketua PW IPNU Jateng), Sri Nur Ainingsih (Ketua PW IPPNU Jateng) dan beberapa pengurus meluncur ke Jakarta.
Di dalam perjalanan pun ketua, sempat bercerita panjang lebar terkait kenangannya tentang Pipit.

“Pipit ini pernah menjadi ketua Komsat (Komisariat) dan ketua Ranting IPPNU di Kecamatan Songgom Kabupaten Brebes. Saya kenal Pipit sejak lama. Dia ini kader yang militan”, kenang beliau.
“PW IPNU IPPNU Jateng mengecam keras tindakan teror tersebut.  Apapun motifnya,  itu adalah perilaku yang terkutuk yang dilarang oleh agama maupun hukum negara.  Kami menuntut pemerintah untuk bisa menguak pelaku teror tersebut.  Dan kedepan pemerintah harus lebih tanggap dalam persoalan seperti ini.  Lebih tegas kepada kelompok-krlompok yang berpotensi untuk melakukan  perilaku teror.”, terangnya ketika saya mintai pendapatnya selaku orang nomer satu di IPNU Jateng terkait tindak radikalisme yang akhir-akhir ini semakin tidak bertanggung jawab.

Begitu sampai di Jakarta, kami segera menjenguk Pipit. Pipit sendiri kini masih di rawat di RS.  Budhi Asih Jakarta Timur menjalani proses pemulihan.  Kondisinya semakin baik,  dan sudah bisa diajak berbicara dan mulai mencoba menggerakkan anggota tubuh nya setelah kemarin tak berdaya.  Semua impusnya kini sudah mulai dicopot.  Tinggal menambah waktu istirahat nya untuk kembali benar-benar pulih. Dia juga bercerita bahwa sejak kemarin banyak yang menjenguknya untuk memberikan dukungan. Tentu itu merupakan dukungan moril yang luar biasa.

Dalam obrolan hangat itu, ia menyampaikan unek-unek dalam hatinya terhadap tragedi bom yang menimpanya. Kekecewaan terhadap orang-orang yang melakukan aksi teror membuatnya sedih atas kejadian tersebut.
“Jika mereka melakukan itu atas dasar pemahaman agama yang salah,  saya sangat sedih dan tak ingin ini terjadi lagi.  Semoga pemerintah bisa dengan cepet memberantas pelaku teror itu dengan cepat sebelum mereka memberantas kita.” Kata Pipit.
“Bagaimanapun, tidak boleh ada lagi orang-orang tak bersalah menjadi korban hanya karena nafsu, apalagi atas nama agama. Agama seharusnya membawa kita kepada pentingnya perdamaian dan hidup berdampingan. Perdamaian akan membawa kita semua kepada kehidupan yang lebih baik.” tambah Pipit.

Meski baru saja mengalami kejadian yang tidak biasa dalam hidupnya, Pipit tetap tampak tegar. Mohon doanya dari semua agar Pipit bisa cepat diberi kesembuhan oleh Allah SWT.  Amin.
Mari lanjutkan gotong royong kita melawan radikalisme. Jangan sampai ada korban tidak bersalah lagi. 

ipnujateng.or.id

Minggu, 28 Mei 2017

Mbah Tolchah, IPNU dan PMII


Sampai saya menulis ulang salah satu BAB di Buku Biografi Mbah Tolchah ini, saya masih merasakan keadaan-keadaan yang begitu mengusik terkait IPNU dan PMII. Di banyak daerah IPNU-PMII selalu bersinggungan, dengan rentetan alasan ini-itu. Sayangnya singgungan ini tidak melulu baik. Tidak bisa kita pungkiri, ada beberapa sikap kader PMII yang meremehkan status ‘keterpelajaran’ sehingga melakukan doktrinasi di tataran mahasiswa untuk tidak perlu mengurusi IPNU. Di samping itu, kader IPNU sendiri pun banyak melakukan doktrinasi bahwa IPNU ini lebih bermanfaat karena bersentuhan langsung dengan masyarakat, bukan sebatas sohibul wacana.

“Ketika kami aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pak Tolchah Mansoer adalah pembina PMII Yogyakarta yang sesungguhnya. Kedekatannya dengan mahasiswa, terutama PMII, menjadikan dia sebagai guru dan tokoh yang menyelesaikan berbagai persoalan. Hampir setiap minggu kami datang ke rumahnya di komplek Colombo 21”, terang Drs. H. Slamet Effendy Yusuf (Ketua Cabang PMII Jogja 1972)

Gagal paham kader IPNU-PMII sejatinya hanya perlu diberikan obat, yakni: kembali membaca sejarah dengan teliti. Meski bagaimanapun, PMII adalah peninggalan terakhir Pak Tolchah di masa kepemimpinannya di IPNU. Hingga akhir hayatnya, beliau sangat konsen dalam membantu perjuangan teman-teman mahasiswa di PMII. Sebagai kader IPNU sudah selayaknya, seperti apa yang dilakukan pak Tolchah, bersinergi dengan PMII. Bagi rekan-rekanita yang melanjutkan study ke perguruan tinggi, PMII merupakan rujukan logis dan ideologis disamping PKPT IPNU sendiri. Dan, bagi kader PMII akan sangat berdosa dan durhaka jika sampai melakukan upaya pengkerdilan IPNU di depan kader-kadernya, karena harus diakui dari rahim IPNU-lah PMII lahir. Energi kita tidak perlu lagi habis karena memperbandingkan keduanya. Karena masing-masing memiliki kekuatannya sendiri. Ada sesuatu yang bisa IPNU-PMII perjuangkan bersama dalam bingkai Ke-Indonesia-an, misalnya. Yakni, menghilangkan segala bentuk penjajahan di negeri ini, baik pikiran maupun perbuatan! Memperbandingkan keduanya hanyalah tingkah orang-orang nganggur!

Berikut naskah yang saya tulis ulang dari buku KH. Moh Tolchah Mansoer: Biografi Profesor Yang Terlupakan, selamat membaca!

Pada periode terakhir kepemimpinan Tolchah, IPNU menorehsejarah penting dalam gerakan pelajar, yaitu membidani lahirnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebuah organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi kepada Nahdhatul Ulama. Keputusan pembentukan PMII telah melewati perjalanan panjang dengan segala dinamikanya. Aspirasi dibentuknya organisasi kemahasiswaan ini setidaknya sudah mulai tampak sejak Muktamar Pekalongan. Kian banyaknya mahasiswa yang aktif di IPNU menjadi latar belakang utama kemunculan gagasan ini.

Di Muktamar Pekalongan, beberapa mahasiswa aktivis IPNU mengadakan konferensi kecil dengan agenda menggagas berdirinya organisasi kemahasiswaan di lingkungan NU. Di antara mereka terdapat Cholid Mawardi, Moensif Nachrowi, Mahbub Djunaedi, Hartono, dan Ismail Makky. Penyusunan konsep pendirian organisasi diserahkan kepada Ismail Makky.
Gagasan tersebut selanjutnya digulirkan di tingkat Pimpinan Pusat IPNU. Rupanya,Tolchah Mansoer sangat berhati-hati menyikapi perkembangan wacana tersebut. Sebagai ketua umum PP IPNU, Tolchah Mansoer menilai bahwa mendirikan organisasi kemahasiswaan di Lingkungan NU, di tengah proses IPNU yang masih dalam tahap konsolidasi, merupakan ide yang prematur. Tolchah Mansoer juga menilai masih belum melihat indikasi-indikasi lain yang mendorong untuk itu. Oleh karena itu, pasca Muktamar II Pekalongan, PP IPNU tetap berpendirian bahwa NU masih belum memerlukan organisasi kemahasiswaan karena dua alasan. Pertama, PP IPNU masih melakukan riset seberapa besar massa mahasiswa NU. Kedua, seberapa jauh kemampuan organisasi yang akan dibentuk tersebut mampu berdiri sendiri sebagai sebuah organisasi mahasiswa.

Wajar jika gagasan ini membuat Tolchah Mansoer dirundung dilema, antara mengakomodasi aspirasi itu atau mempertahankan idealismenya untuk membuat IPNU sebagai arena penyatuan potensi kepelajaran NU. Secara pribadi, gagasan tersebut mengusik idealisme Tolchah Mansoer yang sejak lama terobsesi menyatukan potensi pelajar, mahasiswa dan santri NU dalam sebuah wadah organisasi IPNU. Baginya, cita-cita besar itu harus terus diperjuangkan. Persoalan mahasiswa NU yang belum diperhitungkan dalam pencaturan kemahasiswaan saat itu sama sekali tidak merisaukannya. Tolchah Mansoer merujuk kepada kasus IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) yang dapat berperan besar mewakili elemen pemuda PKI.

Tolchah Mansoer kuat memegang prinsip itu. Dalam obsesinya, IPNU akan dibentuk seperti IPPI sebelum lahirnya CGRI (Central Guru Republik Indonesia, organisasi guru underbow PKI). Disinilah mengapa ia getol untuk menyatukan pemuda-pemuda pelajar di pesantren dengan pelajar di luar pesantren. Namun, gagasan Tolchah Mansoer ini tidak mudah dipertahankan, mengingat dinamika dunia kemahasiswaan dan kepelajaran terus berkembang, terutama sebagaimana dirasakan di kota-kota besar.

Meski bertentangan dengan idealisme yang telah lama diperjuangkan, secara organisatoris Tolchah Mansoer tetap memosisikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang bijak dan aspiratif. Ia tidak melakukan upaya pencegahan terhadap ide tersebut. Buktinya, pada Muktamar III Cirebon, wacana ini diakomodasi dan menjadi perbincangan resmi Muktmar. Gairah mahasiswa NU ini rupanya mendapat apresiasi khusus peserta Muktamar. Banyak peserta muktamar yang berpendapat bahwa saat itu merupakan waktu yang tepat dalam menentukan status mahasiswa NU yang berada di dalam IPNU. Banyak cabang IPNU yang memandang perlu dibentuknya organisasi khusus bagi mahasiswa.

Dalam pandangan junior sekaligus sahabatnya, Moensif Nachrawi, pada prinsipnya Tolchah Mansoer sepakat dengan usulan pendirian organisasi mahasiswa ini. Bahkan, pembentukan Departemen Perguruan Tinggi di IPNU (yang merupakan cikal bakal berdirinya PMII) muncul dari Tolchah Mansoer. Saat itu, perdebatannya lebih pada apakah harus sekarang pendirian organisasi kemahasiswaan dari kalangan nahdliyin itu, sementara IPNU baru saja berdiri dan belum berkembang. Mukatamar Cirebon akhirnya menyepakati dibentuknya Departemen Perguruan Tinggi IPNU. Rupanya Muktamar masih belum memandang perlu membentuk sebuah organisasi mahasiswa NU tersendiri. Pembentukan Departemen Perguruan Tinggi itu sendiri sesungguhnya merupakan “kompromi” antara yang mendesak pembentukan organisasi mahasiswa dengan yang pendirian Tolchah dan kelompok yang mempertahankan penyatuan santri, pelajar dan mahasiswa di IPNU.

Ruang gerak baru berupa departemen khusus yang berada dalam naungan PP IPNU dalam perjalanannya ternyata tidak memuaskan mahasiswa NU yang makin membesar jumlahnya. Keberadaan Departemen Perguruan Tinggi ini lama-lama dipandang tidak lagi cukup untuk mewadahi kader-kader IPNU yang ada di Perguruan Tinggi. Departemen Perguruan Tinggi dianggap terlalu sempit dan tidak bisa mewadahi sepak terjang mahasiswa. Sementara rivaitas politik antara partai-partai pada saat itu berimbas ke mahasiswa, sehingga HMI disudutkan dan akan dibubarkan. Demikian juga PKI semakin agresif. Di sinilah NU harus punya organisasi mahasiswa. Mereka tidak sabar lagi menunggu saat-saat di mana IPNU mahasiswa mengalami peristiwa pahit saat mengikui Kongres Pemuda se-Indonesia di Bandung. PB Ma’arif pun menyempatkan untuk berkirim surat kepada PP IPNU agar segera memberikan kejelasan terhadap organisasi mahasiswa NU.

Bagi M.  Said Budairy, pembentukan organisasi kemahasiswaan NU ini menjadi penting mengingat kenyataan bahwa ada kebutuhan yang berbeda antara pelajar dan mahasiswa. Program untuk pelajar berbeda dengan program untuk mahasiswa. Di samping terdapat federasi untuk lingkungan organisasi pelajar, ada juga federasi tersendiri untuk lingkungan organisasi mahasiswa. Jika NU tidak memiliki organisasi kemahasiswaan, ia tidak akan punya perwakilan di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) dan Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI), misalnya.

Aspirasi ini menguat dan menemukan momentumnya dalam Konferensi Besar I IPNU yang berlangsung di Kaliurang Yogyakarta pada maret 1960. Selain membahas beberapa agenda besar lainnya, forum tersebut juga mengevaluasi persoalan mahasiswa aktivis IPNU yang ditangani secara khusus dalam Departemen Perguruan Tinggi, di mana mereka menemukan bahwa persoalan tersebut ternyata masih belum tuntas. Akhirnya, Forum Konbes medapat kesempatan mendengarkan masukan dari Ismail Makky tentang perkembangan persoalan kemahasiswaan dikalangan NU. Uraian jelas Ismail Makky tersebut dijadikan referensi peserta Konbes untuk melahirkan sikap. Pada Sidang Acara II (pada 16 Maret 1960), Konferensi Besar IPNU Kaliurang memutuskan bahwa di bidang kemahasiswaan, diperlukan adanya organisasi mahasiswa NU yang secara organisatoris administratif terlepas dari IPNU.

Untuk menindaklanjuti keputusan tersebut, PP IPNU mempercayakan kepada Ismail Makky untuk melakukan konsolidadi dan persiapan pembentukan organisasi kemahasiswaan tersebut. Penunjukan Ismail Makky dilakukan karena saat itu ia adalah koordinator Departemen Perguruan Tinggi IPNU, di samping Ismail Makky merupakan salah satu pelopor gagasan organisasi kemahasiswaan ini. Dalam kenangannya, Tolchah Mansoer lah yang langsung menunjuknya. “Is, garap ini sama Mahbub (Mahbub Djunaedi) dan Cholid (Cholid Mawardi),” tutur Ismail Makky menirukan Tolchah Mansoer kala itu.

Tugas berat ini kemudian ditindaklanjuti Ismail Makky secara cukup sistematis. Sebagaimana perintah Ketua Umum, ia segera melakukan konsolidasi dengang mahasiswa IPNU lainnya: Mahbub Djunaedi, Cholid Mawardi, Shobih Ubaid, Hasbullah HS, dan seorang kader dari Banjarmasin. Tim kecil ini dibentuk untuk menyusun sebuah draft pemikiran pembentukan organisasi kemahasiswaan dilingkungan NU. Salah satu hasil tim kecil adalah menyepakati untuk segera mengadakan pertemuan lanjutan yang cakupannya lebih luas. Disepakati, pertemuan tersebut digelar di Surabaya.

Kondisi finansial internal IPNU yang baru saja mengadakan Konferensi Besar tidak menyurutkan semangat untuk menyelenggarakan pertemuan perintisan organisasi mahasiswa tersebut. Sebab, pada hakikatnya perintisan organisasi mahasiswa tersebut merupakan peaksanaan hasil Konferensi Besar Kaliurang. Keberangkatan rombongan mahasiswa Yogyakarta dikoordinir oleh Moensif Nachrawi dan Hisbullah Huda, fungsionaris PP IPNU yang bertugas mencari dana keberangkatan ke lokasi pertemuan. Tolchah Mansoer yang berhalangan hadir di Surabaya, menitipkan sejumlah  dana untuk kelancaran acara. “Saya yang diutus Tolchah ke Surabaya untuk mendeklarasikan berdirinya PMII pada 17 April 1960. Dari Yogyakarta yang berangkat adalah Ismail Makky dan saya sendiri. Bahkan, Tolchah memberikan uang saku untuk ongkos perjalanan ke Surabaya. Itu membuktikan bahwa Tolchah sangan apresiatif dengan berdirinya organisasi mahasiswa tersebut,” tutur Moensif Nachrawi mengenang.

Pertemuan tersebut berlangsung pada 17 April 1960 atau bertepatan dengan 21 Syawal 1379 H, bertempat di perguruan NU Wonokromo Surabaya. Meski hanya dengan agenda tunggal, yaitu follow up atas gagasan pendirian organisasi kemahasiswaan NU, pertemuan tersebut berlangsung selama satu minggu. Hadir dalam pertemuan tersebut sebanyak 13 orang, yakni: Ismail Makky (Yogyakarta), Moennnsif Nachrawi (Yogyakarta, M. Said Budairy (Jakarta), Cholid Mawardi (Jakarta), Moch. Shobich Ubaid (Jakarta), Hisbulloh Huda (Surabaya), Makmun Sjukri, BA (Bandung), Hilman (Bandung), Nuril Huda Suady HA (Surakarta), Laily Mansur (Surakarta), Abdul Wahab Jaelani (Semarang), M. Cholid Marbuko (Malang), dan Ahmad Husein (Makasar). Peserta pertemuan tersebut merupakan hasil pemantauan Ismail Makky sebagai satu-satunya orang yang mendapat mandat dari PP IPNU sekaligus mempertanggungjawabkannya di kemudian hari.

Forum tersebut menghasilkan beberapa keputusan. Pertama, menyepakati berdirinya organisasi mahasiswa NU dengan nama “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia”, disingkat PMII. Kesepakatan tentang nama ini dicapai setelah melalui perdebatan panjang dan alot. Kedua, susunan peraturan dasar organisasi yang dalam Mukadimahnya jelas dinyatakan bahwa “PMII merupakan kelanjutan/mata rantai dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU”. Ketiga, menetapkan 17 April 1960 yang bertepatan dengan 21 Syawal 1379 sebagai hari lahir PMII. Pada hari itu juga, Peraturan Dasar PMII resmi diberlakukan. Keempat, musyawarah juga memutuskan pembentukan formatur yang terdiri dari tiga orang, yaitu Mahbub Djunaedi sebagai Ketua Umum, A.Chalid Mawardi sebagai Ketua Satu, dan M. Said Budairi sebagai Sekretaris Umum PP PMII periode pertama.

Tak pelak, berdirinnya PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang dibidani oleh IPNU tersebut mendapat tanggapan beragam. Oleh karena itu, pada 21 Mei 1960, PP IPNU mengeluarkan siaran No. XIV/PP/60 yang dikirim ke PW IPNU dan PC IPNU di seluruh Indonesia. Siaran tersebut berisi informasi tentang kronologi dan penjelasan resmi tentang pendirian PMII. Siaran yang ditandatangani oleh Tolchah Mansoer dan Moensif Nachrawi tersebut juga berisi penjelasan tentang kedudukan mahasiswa dalam IPNU, kedudukan Departemen Perguruan Tinggi IPNU, dan kedudukan pesantren dalam PMII.

Sikap yang diambil oleh Tolchah Mansoer menunjukkan bahwa ia adalah seorang organisatoris yang bijak dan demokratis. Meskipun pada awalnya ia keberatan dengan pembentukan organisasi kemahasiswaan di saat IPNU sedang bekerja keras untuk melakukan konsolidasi, namun karena aspirasi ini terus berkembang dan dipandang sebagai kebutuhan oleh banyak kadernya, Tolchah pun akhirnya tidak hanya merestui, melainkan mendukung penuh usaha ini. Hal ini dibuktikan dengan keputusannya untuk menunjuk Ismail Makky untuk menindaklanjuti mempersiapkan pendirian organisasi tersebut serta mengupayakan dana bagi pelaksanaan musyawarah mahasiswa di Surabaya. Perjalanan panjang lahirnya PMII menunjukkan dengan jelas bahwa PMII dilahirkan oleh IPNU secara kelembagaan. Bahkan, dimasa-masa selanjutnya, Tolchah berulang kali menegaskan bahwa PMII adalah anak IPNU, karena dilahirkan oleh IPNU.
Pergulatan diatas menempatkan Tolchah Mansoer sebagai figur sentral yang sangat menentukan dalam pembentukan gerakan pelajar dan mahasiswa di lingkungan NU. 

Aktivitasnya dalam organisasi sejak kecil membuat Tolchah sangat matang dalam dunia gerakan muda dan gerakan sosial selanjutnya. Di mata Tolchah, organisasi adalah wahana untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Organisasi memberi bekal kepada para anggota berupa keterampilan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, serta mendidik dan menyadarkan masyarakat tentang hak dan kewajibannya sebagai warga negara. IPNU didirikan dengan cita-cita mulia, yaitu berdedikasi kepada masyarakat. Penegasan ini dikemukakan Tolchah sebagai berikut :

Saya masih djelas teringat akan masa2 awal IPNU ini didirikan bersama2 dengan para sponsors, pendiri2 organisasi kita ini. Waktu itu bekal kami tidak lebih dari tawakkal dan kejakinan teguh, bahwa pada suatu saat organisasi kita akan mentjapai kedjajaanja, berdiri setaraf dengan organisasi2 lain dalam menjumbangkan karyanja kepada masjarakat.
Tapi bukanlah kedjajaan dan keagungan organisasi itu jang menjadi tjita-tjita utama, bukan dimaksudkan organisasi itu menjadi unggul segala-galanja, tapi bagaimana organisasi itu bisa memberikan sumbangan kepada masjarakat dalam segala bidangja, bidang materiil dan lebih2 spirituil. Tudjuan organisasi masih jauh; apa jang nampak di depan mata kita ini hanja sekelumit jang tidak banjak artinja.

Untuk tercapainya izzul islam wal muslimin dan masjarakat adil dan makmur jang diridhoi Allah tidak akan djatuh begitu sadja dari langit. Masih diperlukan karya2 jang luar biasa. Tugas2 masih membentang di hadapan kita. Dan bukan orang lain jang akan mengerdjakannja, melainkan kita sendiri, angkatan muda jang penuh spirit, energy dan ide2 jang dinamis ini.

Tolchah terus berupaya memotivasi dan menggerakkan kader organisasi agar dapat berkarya, yang berarti berkhidmat dalam masyarakat. Tolchah juga dengan tegas menginginkan kader IPNU “membumi” dan tidak tercerabut dari masyarakat. Kader IPNU harus terjun dan berkecimpung melakukan kerja-kerja nyata dalam masyarakat. Dalam hal ini Tolchah menegaskan:

Sifat jang karakteristiek ada pada IPNU ini pada hakekatnja untuk tidak mendjadikan IPNU ini merasa golongan elite, merasa mempunjai harga diri jang besar  dan penuh dengan ketjongkakan oleh karena dirinja termasuk golongan terpeladjar. Tidak, sifat dan pengetahuan serta djiwa ke-kyahi-an dan ke-santeri-an harus tetap ada. Kita djangan membuat diri kita terpisah dari masjarakat. Dan harus kembali kepada masjarakat serta berketjimpung di dalamnja. Untuk itu, sekalipun nampak perbedaan jang djauh ketjakapan otak kita dari masjarakat, adalah tidak bidjaksana kalau kita menganggap kita ini golongan bangsawan fikir. Tidak, kita berpengetahuan adalah untuk mendjadikannja pedoman bagi kita, dan atas dasar itu kita memimpin masjarakat kelak. Dan, oleh karenanja kita harus tidak sadja dekat dan tidak mendjauhi masjarakat, tetap sekali lagi, terdjun berketjimpung ke dalam dan di dalam masjarakat.

Pendirian ini tampaknya dipegang kuat dan terus dikampanyekan oleh Tolchah. Dalam pidato resminya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU pada Muktamar IV di Yogyakarta, ia kembali menegaskan:

Tjita2 daripada Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama’ jalah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite didalam masjarakat. Tidak. Kita menginginkan masjarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masyarakat. Oknum jang berbuat karena ilmunya. Dan berilmu tapi jang mau berbuat dan beraal. Sungguh akan merupakan malapetaka jang amat besar djika negara dipimpin oleh orang-orang jang tidak berilmu. Kita tidak menjandarkan semata-mata kepada kariere, lebih2 kariere dengan kekosongan ilmu dan bekal dalam kepala.

Penegasan Tolchah tersebut dirasa sangat penting bagi peneguhan komitmen organisasi sebagai bagian dari masyarakat sipil yang lahir dan berkembang dari basis sosial tradisional. Pernyataan tersebut seperti menjadi “platform” bahwa IPNU lahir untuk masyarakat, bukan untuk organisasi itu sendiri, terlebih untuk kepentingan para elitnya. Bagi Tolchah, pendirian tersebut juga tertanam dalam-dalam dan menjadi “karakter” pribadi pada perjalanan selanjutnya.

Tolchah Mansoer mengakhiri kiprahnya sebagai Ketua Umum PP IPNU pada 1961, melalui Muktamar IV IPNU di Yogyakarta. Kepemimpinan IPNU selanjutnya dipegang oleh Ismail Makky sebagai Ketua Umum dan Moensif Nachrawi sebagai Sekretaris Umum. Meskipun sudah demisioner, Tolchah masih memberikan perhatian yang besar terhadap perjalanan IPNU pada masa-masa selanjutnya. Ide-ide Tolchah terus dikembangkan dalam kepemimpinan IPNU berikutnya. Meski sudah tidak menjadi Ketua Umum IPNU, di era Ismail Makky misalnya, ia masih suka mengisi pertemuan-pertemuan IPNU sebagai salah seorang pendiri.

Perhatian Tolchah terhadap IPNU bahkan masih terus dicurahkan sampai masa-masa berikutnya. Asnawi Latif, ketika menjabat Ketua Umum IPNU, mengaku masih banyak dibimbing oleh Tolchah Mansoer. Suatu saat ketika IPNU mendapat “jatah kursi” untuk mewakili NU duduk di DPRGR, sebagai penasehat Tolchah mengingatkan Asnawi Latif agar tidak terseret dalam politik praktis. Bahkan, menurut pengakuan Asnawi Latif, Tolchah Mansoer sempat memarahinya karena ia dianggap terlalu larut dalam politik. Barangkali ini juga bisa dibaca sebagai usaha Tolchah agar IPNU tidak dipolitisir.

Perhatian dan keakraban Tolchah dengan IPNU dan para  junior-juniornya tampak dari surat-menyurat antara Tolchah Mansoer dan bebrapa juniornya, seperti Fahmi Djakfar Saifuddin, Mahbub Djunaedi, dan Asnawi Latif. Dalam sebuah surat yang ditulis pada 12 Mei 1975, Tolchah membanggakan teman dan yuniornya yang aktif di Jakarta. Tolchah mengungkapkan:

Ada rupanya masih terpelihara baik semangat idealisme.
Itu saya lihat dalam rapat, sikap, dan cara penyelenggaraan pertemuan. Dan saya berdo’a, mudah-mudahan itu terpelihara terus.
Ya mudah-mudahan.
Mengapa saya berkata begitu, sebab Jakarta, tetapi juga daerah lain, bis amembuat orang berubah. Ada-ada saja sebab yang membuat perubahan. Kalau perubahan itu baik tidak mengapa, tetapi kebanyakannya jelek. Dan tidak luput pula saya sendiri. Karena itu saya mengharap do’a adik2 di Jakarta. Atau mari kita saling berdo’a semoga kita tetap seperti adanya sekarang ini memang semangat. Artinya sekalipun kelak mendapat apa-apa.

Demikianlah, Tolchah bertindak sebagai senior yang memiliki perhatian besar terhadap para penerusnya. Ia selalu menyakinkan penerusnya tentang pentingnya menjaga mandat organisasi. Di samping masih sering berkirim surat dan menyempatkan datang ke Jakarta, sebagai wujud perhatian dan kepeduliannya terhadap organisasi yang dulu dirintisnya itu, Tolchah selalu datang pada setiap Kongres IPNU. Ia terus memotivasi para kader untuk mengembangkan budaya intelektual dalam organisasi dan kehidupan masyarakat.

Tolchah memang prototype organisatoris intelektual yang sukses dalam dunia akademik dan organisasi. Kelebihan Tolchah dalam penguasaan keilmuan umum dan agama telah menjadikannya bak “generasi ideal” sebagaimana yang dicita-citakan IPNU sejak berdirinya. Bagi para penerusnya , Tolchah merupakan inspirator bagi munculnya para intelektual di lingkungan NU. Ia telah banyak menginspirasi para penerusnya di IPNU dan PMII untuk mengikuti jalur akademis Tolchah yang memilih studi di bidang keilmuan umum. Jiwa IPNU ini melekat pada diri Tolchah hingga masa tuanya,yaitu menjadi intelektual sekaligus agamawan. Dunia politik yang pernah dijalaninya tidak sedikitpun mengubah karakter dan komitmen keilmuan dan keagamaannya; sebaliknya, karakter itu menjiwainya dalam aktivitas politik.

M. Hidayatullah

Kamis, 25 Mei 2017

RAKERWIL: "Ngalap Berkah Wali"


Pelajar Nahdlatul Ulama Jateng  menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah 1 (Rakerwil) di Kabupaten Kudus. Kegiatan yang  diselenggarakan pada 24 - 25 Mei 2017 ini melibatkan 400 kader militan IPNU IPPNU yang berasal dari 36 cabang kabupaten dan kota se Jawa tengah.

SMA dan SMP NU Al - Ma'ruf terpilih menjadi tempat pelaksana rakerwil yang insyaallah akan dihadiri oleh beberapa tokoh NU Jateng, seperti KH. Ubaidillah Shodaqoh (Rois Syuriah NU Jateng) Drs. H Abu Hapsin Umar, MA, P.hD ( Ketua Tanfidziyah NU Jateng) dan para kyai Mashur Kudus KH. Ulil Albab Arwani (Rois Syuriah PCNU Kudus), KH. Ma'shum AK(Syuriah PC NU Kudus, Drs. H Abdul Hadi M. Pd (Ketua Tanfidziyah PC NU Kudus).

Selain merencanakan program kerja tiga tahun kedepan, Rakerwil yang diselenggarakan di Kudus juga diharapakan menjadi langkah awal yang berkah untuk pengawalan pelajar Jateng. Karena itu sebelum opening ceremony dilaksanakan, Panitia menjadwalkan Konvoi Tawassul (sowan wali) di komplek makam menara. " Konvoi tawassul (Sowan wali) ini dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar pelajar NU Jateng dalam menjaga tradisi NU, selain itu sebagai santri, IPNU IPPNU senantiasa Ngalap berkah para wali  seperti  Syeh Ja'far Shodiq ( Sunan Kudus) dan KHR. Asnawi (Pendiri NU)", Kata Abu Hasan Selaku kordinator acara.

Kecemasan IPNU dan IPPNU Jateng terhadap perkembangan pelajar dewasa ini, mulai dari pergaulan, pendidikan hingga rasa Nasionalisme menjadi salah satu latar belakang penyelenggaraan Rakerwil di Kudus. Rekan Ferial Farkhan Selaku Ketua PW IPNU Jateng mengatakan " Rakerwil 1 yang diselenggarakan di Kudus ini harapannya bisa menelurkan program kerja yang  menjadi wadah kreatifitas sebagai bentuk  pengawalan pelajar di Jateng, dan juga PC IPNU IPPNU Kudus yang selama ini dianggap mapan secara orgabisasi dan kaderisasi bisa menjadi motivasi untuk cabang cabang lain dalam ber IPNU IPPNU nya "

M.A

Rabu, 24 Mei 2017

NU BISA GEMPUR MEDSOS DENGAN KONTEN POSITIF


Chief Digital Service Office XL Axiata Joseph Lumban Gaol mengakui, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki basis massa yang begitu besar, termasuk dalam ranah pengguna teknologi digital. Oleh karena itu, ia berharap NU bisa berperan aktif dalam mencerdasakan kehidupan bangsa terutama dalam dunia digital.
 
“Bagaimana NU berperan aktif mencerdaskan masyarakat,” kata Joseph saat memberikan sambutan dalam acara Peluncuran Nusantara Command Center dan Peluncuran Smart Card Nusantara di Lantai 8 Gedung PBNU, Senin (22/5) sore.
 
Ia menilai, setiap perkembangan teknologi pasti akan menimbulkan dampak, baik konten-konten yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Menurutnya, untuk mengalahkan konten-konten negatif, maka perlu diperbanyak konten yang positif.
 
“Melalui Command Center, NU bisa menggempur media sosial kita dengan konten-konten positif,” jelasnya.
 
Selain itu, NU juga bisa mengetahui siapa dan seberapa banyak orang yang memproduksi dan menyebarkan konten-konten negatif. Kalau itu bisa diketahui, maka NU bisa mempersiapkan berapa jumlah konten positif yang harus disiapkan.
 
“NU bisa melihat seberapa banyak dan besar orang-orang yang menyerang konten negatif,” urainya.
 
Ia mengaku optimis, konten-konten negatif akan terpinggirkan dan kalah apabila konten-konten yang positif lebih banyak. “Satu-satunya cara untuk melawan konten negatif adalah dengan menggempurnya dengan konten-konten positif,” cetusnya.
 
Kartu Perdana Nusantara
Selain itu, Joseph juga menjelaskan, XL dan PBNU mengeluarkan kartu perdana yang diberi nama Kartu Nusantara. Baginya, kartu itu bisa menjadi alat untuk membuat komunikasi antara pengurus NU dari tingkat pusat hingga ranting bisa efektif, efisien, dan murah.
 
“Semua anggota NU yang menggunakan sim card Nusantara bisa berkomunikasi secara close user group. Mereka tidak dikenakan kuota dan biaya dalam komunikasi model close user group,” ungkapnya. 
 
Menurut dia, kartu perdana itu bukan hanya sekedar kartu perdana karena itu juga terintegrasi dengan perbankan. Maka dari itu, dengan integrasi tersebut ekonomi yang bersifat kerakyatan bisa dikembangkan. 
 
“Nomor sim card merupakan nomor rekening,” katanya.
 
“Ini adalah upaya untuk membangun ekonomi digital dan ini adalah jantung dari ekonomi digital,” lanjutnya. 
 
Dia menjelaskan, bagi Nahdliyin yang sudah memiliki kartu XL bisa langsung dimigrasikan ke Kartu Nusantara. “ Tidak perlu beli kartu baru,” ucapnya.

Jumat, 19 Mei 2017

Peringati HARDIKNAS , PAC IPNU - IPPNU Kedungwuni Gelar Lomba Mading


Kedungwuni, lomba mading dengan peserta Pimpinan Komisariat IPNU – IPPNU tingkat SMP/MTs se-Kecamatan Kedungwuni ini berlangsung di gedung MWC NU Kecamatan Kedungwuni, Jum’at (12/05/17).
Acara ini adalah salah satu ProKer Departemen Pengembangan Organisasi yang berkerja sama dengan Lembaga Pers dan Jurnalistik, PAC IPNU – IPPNU Kec. Kedungwuni priode 2017 – 2019.
Dalam rangka memperingati HARDIKNAS, lomba mading kali ini mengangkat tema “Hari Pendidikan Nasional” untuk konten yang akan dimuat kedalam mading setiap peserta.
Acara ini berlangsung dari jam setengah satu siang, diawali dengan upacara pembukaan dengan sambutan ketua panitia dan ketua PAC IPNU Kec. Kedungwuni, selanjutnya lomba dimulai pukul setengah tiga, istirahat dan sholat ashar jam setengah empat dan berakhir pukul setengah lima sore, kemudian dilanjutkan penilaian dewan juri dan pengumuman pemenang.


Lomba dengan dewan juri Ibu Siti Kholifah, S.P.d untuk bidang sastra dan Sdr. Umar untuk bidang seni ini, dimenangkan oleh Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs Walisongo Kedungwuni sebagai juara 1, juara 2 diraih oleh Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU SMP 3 Kedungwuni dan Juara 3 didapat Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU SMPNU Pajomblangan.

MINH

Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...