Jumat, 27 Oktober 2017
Selasa, 24 Oktober 2017
Adakan Nobar untuk Peringati HSN
Wonopringgo, Minggu 22 Oktober 2017 , NU Ranting Pegaden, IPNU IPPNU Ranting Pegaden dan warga Desa Pegaden Tengan dari RT 02,03,04,05,06 mengadakan Kirap, Jajan Geratis dan nobar film G 30 S/PKI dalam rangka kemperingati Hari Santri Nasioanl 2017.
Acara dimulai ba'da Isya dan berlangsung meriah serta di sambut hangat olah warga sekitar Pegaden Tengah. Kirap dimeriahkan oleh dram band RT 03 dan RT 04, dimulai dengan berjalan dari Gang Apollo di lanjutkan mengitari desa Pegaden Tengah dan berakhir di lapangan bad minton. Setelah kirap selasai, acara dilanjutkan dengan makan gratis.
Ada yang unik dari salah satu warga Desa Pegaden Tengah yang menjajakkan jajanannya dengan memberi hadiah berupa dorpres. Untuk mengambil dorpres, warga harus menukarkan nomor yang tercantum dibalik jajanan dengan no yang diangggap keluar.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan nobar film G 30 S/ PKI pada pukul 08.30 malam.
Pada saat nobar, banyak warga Pegaden Tengah yang antusian untuk nonton film G 30 S/ PKI dari anak-anak, remaja laki-laki maupun perempuan serta bapak-bapak dan ibu-ibu.
arif ayusman
Minggu, 22 Oktober 2017
Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengirimkan surat kepada pengurus NU di tingkat wilayah, cabang, termasuk lembaga dan badan otonomnya di seluruh Indonesia tentang peringatan Hari Santri Nasional.
Surat tersebut dilampiri isi pidato Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. PBNU mengimbau surat ini dibacakan dalam apel Hari Santri yang digelar serentak di berbagai wilayah di Tanah Air pada 22 Oktober 2017.
Berikut isi utuh dari pidato bersebut:
Amanat Ketua Umum PBNU pada Peringatan Hari Santri
Tanggal 22 Oktober 2017
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين اللهم صل وسلم على سيدنا
ومولانا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين
أما بعد
Hari ini tahun ketiga Keluarga Besar Nahdlatul Ulama dan seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriyah merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.
Pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945. Di hadapan konsul-konsul Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura, bertempat di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama di Jl. Boeboetan VI/2 Soerabaja, Fatwa Resolusi Jihad NU digaungkan dengan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan:
“..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).”
Tanpa Resolusi Jihad NU dan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan ini, tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang kelak diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Kiprah santri teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika. Santri berdiri di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman. Pada 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Dârus Salâm. Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila. Tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa. Tahun 1953, kaum santri memberi gelar Presiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai Waliyyul Amri ad-Dlarûri bis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/TII sebagai bughat yang harus diperangi. Tahun 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideologi komunisme.
Tahun 1983/1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai konsensus nasional (mu’âhadah wathaniyyah). Selepas Reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuataan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945 bahwa NKRI adalah negara-bangsa—bukan negara agama,bukan negara suku—yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan.
Kenyataan ini perlu diungkapkan untuk menginsyafkan semua pihak, termasuk kaum santri sendiri, tentang saham mereka yang besar dalam berdiri dan tegaknya NKRI. Tanpa kiprah kaum santri, dengan sikap-sikap sosialnya yang moderat (tawassuth), toleran (tasâmuh), proporsional (tawâzun), lurus (i’tidâl), dan wajar (iqtishâd), NKRI belum tentu eksis sampai sekarang. Negeri-negeri Muslim di Timur Tengah dan Afrika sekarang remuk dan porak poranda karena ekstremisme dan ketiadaan komunitas penyangga aliran Islam wasathiyyah.
Momentum Hari Santri hari ini perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Spirit “nasionalisme bagian dari iman” (حب الوطن من الايمان) perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme. Islam dan ajarannya tidak bisa dilaksanakan tanpa tanah air. Mencintai agama mustahil tanpa berpijak di atas tanah air, karena itu Islam harus bersanding dengan paham kebangsaan. Hari Santri juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhaan, asketisme, dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi dan narkoba yang mengancam masa depan bangsa. Korupsi dan narkoba adalah turunan dari materialisme dan hedonisme, paham kebendaan yang mengagungkan uang dan kenikmatan semu. Singkatnya, santri harus siap mengemban amanah, yaitu amanah kalimatul haq. Berani mengatakan “iya” terhadap kebenaran walaupun semua orang mengatakan “tidak” dan sanggup menyatakan “tidak” pada kebatilan walaupun semua orang mengatakan “iya”. Itulah karakter dasar santri yang bumi, langit dan gunung tidak berani memikulnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzaab ayat 72.
Hari ini santri jugahidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudharat yang sama-sama besar. Internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks. Santri perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama (حفظ الدين والعقل), jiwa (حفظ النفس), nalar (حفظ العقل), harta (حفظ المال), keluarga (حفظ النسل), dan martabat(حفظ العرض) seseorang. Kaidah fikih: al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.
Selamat Hari Santri 2017. Santri kuat, NKRI hebat.
شكرا ودمتم في الخير والبركة والنجاح
والله الموفق إلى أقوم الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Jakarta, 22 Oktober 2017
Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum
Kamis, 19 Oktober 2017
Workshop Pemanfaatan IT Untuk Pesantren
Dalam rangka menyongsong Hari Santri 2017, Rabithah Ma'ahid Al Islamiyah Nahdlotul Ulama (RMI NU) Kabupaten Pekalongan, menyelenggarakan Workshop Pemanfaatan IT Untuk Pesantren, di Pondok Pesantren Putra Putri Baitul Muqoddas Kranji, pada hari selasa 17 Oktober 2017, kegiatan ini diikuti oleh perwakilan santri" Ponpes se Pekalongan.
Diadakannya kegiatan ini bertujuan untuk mensupport dan menampakkan kemampuan santri khususnya dalam bidang teknologi informasi (IT), Kegiatan ini diisi oleh tiga pemateri, Yang pertama bapak Kasiman selaku Kemenag kabupaten Pekalongan yang membawakan materi tentang Kebijakan pemerintah dalam pengelolaan ponpes melalui peranan IT, beliau berpesan agar anak" pondok tidak boleh merasa rendah diri degan lembaga pendidikan lain, justru dipondok yang didirikan dan diasuh oleh para kyai dan alim ulama justru memiliki nilai lebih karena disana para santri dididik untuk menjadi insan yg berilmu, berakhlaqul karimah, dan bersikap sopan santun dan juga para santri dituntut untuk bisa berbahasa asing khususnya bahasa arab dan inggris. Materi yang kedua tentang pemanfaatan IT untuk pesantren yang dipaparkan oleh Bapak Moh. Reza Maulana dan materi santri dan dunia medsos yang dibawakan oleh Bapak Anom Sejogati.
Harapan dari diadakannya kegiatan ini yaitu agar para santri bisa dan berani menulis serta menyampaikan pendapatnya khusunya di media sosial, karena pada kenyataannya saat ini aqidah Aswaja khususnya Nahdlotul Ulama sedang banyak di kritisi oleh banyak kalangan, dimana penyampaian kritikan tersebut disebarkan melalui media sosial, yang penyebarannya sangat pesat, maka harapanya para santri" NU bisa menguasai dunia IT, agar bisa menjawab tantangan" tersebut .
Kontributor : Nila / Pers. PAC IPPNU Kedungwuni
Kamis, 28 September 2017
Antusiasme Peserta Makesta Boejang Telon Ke – IV
Suatu keharusan bagi sebuah
organisasi untuk melakukan perekrutan / pengkaderan anggota baru, untuk
keberlangsungan organisasi itu sendiri, seperti halnya di organisasi masyarakat
Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) , NU menjaring kader dari
tingkat ranting/desa melalui badan otonomnya salah satunya Ikatan Pelajar
Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), dari
IPNU dan IPPNU lah pendidikan bersosial organisasi mulai di kenalkan kepada
muda mudi usia pelajar, mulai dari masa pengenalan melalui program Binaan
Sehari (Binari) yang selanjutnya adalah perekrutan dengan program Masa
Kesetiaan Anggota atau yang disebut Makesta dan pengkaderan tingkat lanjut
lainnya.
Kali ini tepat dengan tahun
baru Islam 1439 hijriyah. Gabungan empat Pimpinan Ranting IPNU IPPNU di
Kecamatan Kedungwuni yakni Ranting Ambokembang, Pekajangan, Tangkil Tengah,
Tangkil Kulon mengadakan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) yang Ke Empat kalinya
atau angkatan ke IV, yang dikenal dengan MAKESTA BOEJANG TELON dari kependekan
ke empat ranting tersebut, kegiatan dimulai dengan pembukaan pada hari rabu
(20/09) pukul 14.00 dan dibuka oleh Bapak Kepala Desa Ambokembang Bapak Jumhan
Talam sekaligus penyemat tanda peserta.
Dengan mengusung tema
“Mencetak Kader IPNU – IPPNU Yang berjiwa Aswaja” Kegiatan ini diikuti oleh 80
peserta termasuk jumlah yang mengagumkan untuk pengkaderan ditingkat ranting,
peserta yang selama tiga hari dua malam berada di MI Walisongo 01 Ambokembang
akan mendapat pengetahuan tentang ke-Aswaja-an, ke-NU-an, Ke-IPNU IPPNU-an,
Ke-CBP KPP-an, Administrasi dan Kepemimpinan dengan pemateri yang berkompeten
dalam bidangnya.
“Menggelar MAKESTA itu perlu
sekali karena sebagai jembatan awal para kader” terang ketua IPPNU Ranting
Ambokembang Rekanita Rina Fatima “Diharapkan setelah mengikuti MAKESTA, kader
bisa berkonstribusi kepada IPNU IPPNU khususnya diranah ranting dan bisa
mengajarkan kepada adik-adiknya serta kepada rekan/rekanita yang belum
makesta.”imbuhnya.
Acara pembaiatan berlangsung
pada pukul 03.00 WIB hari Jum’at dan kegiatan berakhir pukul 08.00 WIB dihari
itu juga setelah rapat tindak lanjut.
L.Pers PAC IPNU IPPNU
Kedungwuni
Rabu, 27 September 2017
Tiga Ranting Siapkan Kader Yang Berintergritas
Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Dadirejo Timur, Dadirejo Barat, dan KarangJompo Kecamatan Tirto Mengadakan Makesta Gabungan. Kegiatan ini berlangsung sejak hari kamis Pagi (21/9) sampai hari sabtu (23/9) bertempat di TK Muslimat NU Dadirejo. Dan dihadiri Oleh tamu undangan baik dari Banom NU ataupun Ranting IPNU IPPNU desa Tetangga. Dan dibuka secara langsung Oleh perwakilan Pimpinan Anak Cabang Tirto.
Jumlah Peserta sebanyak 58 dari 3 Ranting. Ke 58
peserta telah resmi di Baiat Oleh Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten
Pekalongan pada pukul 03.00 Wib. Peserta IPNU di baiat oleh Rekan M.S Mubin dan
Peserta IPPNU dibaiat Oleh Rekanita Wasilatul Fadlillah. Kegiatan ini mengambil
tema “Membentuk Pelajar NU yang berintegritas,Berakhlak Mulia serta Berjiwa
Kebangsaan yang berlandaskan ASWAJA”.
Dengan di adakannya Makesta ini di harapkan mampu
memotivasi Para Kader Muda untuk Menegakkan ajaran islam Aswaja, seperti yang
telah di utarakan oleh Chalimatus Sa’diyah (Ketua Panitia) “Bahwa makesta ini
diselenggarakan bukan hanya untuk formalitas saja atau penggugur program kerja,
akan tetapi kegiatan makesta ini memiliki tujuan yang jelas yaitu sesuai yang
tercantum dalam tema Kegiatan ini”.
“Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk
memotivasi kader-kader muda untuk menegakkan ajaran islam ala Ahlussunah
Waljamaah dibawah naungan Organisasi IPNU-IPPNU” Sambung Rekanita Chalimatus
Sa’diyah. Makesta Gabungan 3 Ranting ini
merupakan makesta terakhir dari 8 kelompok yang di selenggarakan di Kecamatan
Tirto.
Kegiatan ini ada 7 Materi yang di sampaikan kepada
para Peserta, salah satunya yaitu materi Bela Negara oleh Koramil Tirto. Salah
satu agenda pada Makesta ini adalah dengan adanya Ziarah Ke Makam ulama di desa
Dadirejo yaitu mbah Karim yang di laksanakan pada Kamis Sore. Rangkaian
kegiatan Makesta di Tutup dengan RTL dan Pembagian hadiah untuk para peserta
Terbaik.
Selasa, 26 September 2017
Tahun Baru Anggota Baru
Selain ditingkat
ranting perekrutan anggota juga perlu dilakukan dalam lingkungan sekolah atau
tingkat Pimpinan Komisariat (PK), khususnya pada sekolah didalam naungan
Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU, untuk menjaring kader kader yang siap untuk
berorganisasi dalam masyarakat melalui Makesta.
Kali ini Pimpinan Anak
Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri
Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kedungwuni mengggelar Makesta Raya Khusus
untuk Pimpinan Komisariat (PK) Tingkat SMP/MTs Se-Kecamatan Kedungwuni,
bertempat di MASS Proto kegiatan dimulai pada hari Rabu (20/09) pukul 16.00
WIB, dihadiri oleh PC IPNU, PC IPPNU , PAC Muslimat , PAC Fatayat dan Pengurus
NU setempat yang sekaligus membuka serta penyematan tanda peserta oleh Ibu
Bintan Mewakili PAC Muslimat Kec. Kedungwuni sebagai tanda kegiatan Makesta
Raya dimulai.
Tema pelajar NU, cinta
NU mngilhami bahwa selayaknya anak yg belajar dibawah sekolah naungan LP maarif
NU untuk ditumbuhkan rasa cinta NU dimulai dengan mengikut Makesta. Kegiatan
Makesta Raya PK se-kecamatan Kedungwuni juga dibagian dari memeriahkan acara
harlah LP Ma’arif tanggal 16 September yang ke - 88, Sembari memperingati
harlah LP Ma’arif NU dan tahun baru islam 1439 H, tidak lupa disempatkan juga
doa akhir dan awal tahun.
"Sebagai salah
satu organisasi kepemudaan dan keterpelajaran sudah selayaknya IPNU IPPNU
merangkul pelajar yang benar benar belajar dibangku sekolah , dengan harapan
melalui Makesta Raya ini menyulutkan percikan api semangat IPNU IPPNU para
peserta Makesta Raya yang dapat dibawa pulang kesekolah mereka masing-masing,
sehingga atmosfir Ke-IPNU IPPNU-an dapat ditularkan kepada Rekan Rekanita
mereka disekolah” terang ketua PAC IPPNU Kecamatan Kedungwuni Anik Maghfiroh.
Prosesi Pembaiatan
berlangsung pada Jum’at pagi setelah sholat subuh dan dilanjutkan rapat tindak
lanjut sebelum upacara pembubaran pukul 09.00 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)
Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik
Petungkriyono - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...
-
BUARAN - Bersamaan dengan Haflah Akhirussanah Jam'iyyah Al-Khikam Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, Pimpinan ...
-
Karangdadap - Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Desa Jrebengkembang Kecamatan Karangdadap Kabupaten Pekalongan menggelar Rapat Anggota (RA...
-
Petungkriyono - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...















