Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota
Semarang
Tidak terasa, usia Nahdlatul Ulama (NU) memasuki 91
tahun menurut hitungan kalender miladiyah. Usia yang bukan lagi remaja atau
dewasa. NU sudah tua dan benar-benar tua. Oleh sebab itu, gerakannya sudah
mengalami dinamika yang beragam.
Catatan 2017 menunjukkan bahwa prestasi NU sebagai
organisasi kemasyarakatan sudah luar biasa. Ini dibuktikan dengan makin
bertambahnya jumlah Pimpinan Cabang Istimewa di Timur Tengah, Afrika dan Eropa.
Jejaring NU ke luar negeri juga sudah tertata secara rapi.
Dari catatan data organisasi NU yang sudah resmi
berdiri: 34 Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi), 27 Pimpinan Cabang Istimewa
(berada di luar negeri), 500 lebih Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) dan
32.000 lebih Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan).
Gerakan Islam Nusantara turut mengantarkan kekhasan
NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan ciri moderat. Diakui
bahwa NU yang dulunya dikatakan tradisional dan konservatif, hari ini sudah
tidak begitu saja dikatakan demikian.
Nyatanya NU mau dan terbuka mengejar ketertinggalan
dengan melakukan moderasi dan modernisasi kelembagaan sesuai dengan visi
ahlussunnah wal jama'ah annahdliyyah. Generasi muda NU dengan arahan para ulama
pesantren sudah mulai menunjukkan arah gerakan pendidikan inklusif.
Kebesaran NU sebagai organisasi Islam ini seiring
dengan mandat pendiriannya, yakni NU sebagai garda depan organisasi dakwah dan
pendidikan bagi umat Islam Indonesia. Maka mengusung tema Islam Nusantara dalam
Muktamar NU 33 di Jombang menjadi sangat tepat.
Suana Indonesia sekarang sudah makin jelas sekali.
Arus radikalisme dan wahabisme sudah mulai makin nyata menjadi gerakan taqiyyah
(terselubung) dan mudzaharah (demonstrasi). Dua model gerakan itu sudah bisa
dilihat dengan pola masing-masing.
Sejak NU berdiri lewat Komite Hijaz sudah jelas,
bagaimana negosiasi para Kyai kepada Raja Saudi agar memberikan lima hal:
kebebasan bermadzhab, mempertahankan situs bersejarah, membuat biaya haji
terjangkau, menulis hukum yang berlaku di Hijaz dan menerima utusan ulama
Indonesia dengan jawaban resmi Raja Saudi.
Lewat perjuangan itulah, ulama Nusantara kemudian
mendirikan organisasi NU pada 31 Januari 1926. Arah tujuan NU menjadi semakin
jelas hingga usianya ke-91 yaitu sebagai penerus perjuangan ulama ahlussunnah wal
jama'ah.
Tugas berat yang dipikul NU hari ini adalah pada
penguatan ideologi keagamaan dan kebangsaan. Dua program penguatan ideologi ini
menjadi sangat penting dalam mempertahankan predikat NU sebagai organisasi
terbesar Islam Nusantara ini.
Oleh sebab itu, 91 tahun usia NU mengantarkan
bagaimana dibutuhkan langkah-langkah nyata dalam penguatan ideologi dimaksud
agar kekhasan NU tidak hilang. Hal ini penting sekali, mengingat perkembangan
pemikiran jam'iyyah dan jama'ah NU sudah mulai cepat akibat arus globalisasi.
Modal utama penguatan ideologi ini bertumpu pada
kekuatan nasehat para Kyai di Syuriyah dan Musytasyar dengan mengawal
dasar-dasar keNUan. Sedangkan Tanfidziyah melaksanakan perintah Kyai dan
menyatu dengan jama'ah NU yang berada di kampung-kampung.
Kesan NU struktural dan kultural yang selama ini
didengungkan tidak akan ada lagi sepanjang pengurus NU mau dan benar-benar
rajin turun ke basis. NU bukan organisasi yang cukup dioperasikan dari meja
kantor, tapi NU harus dekat dengan jama'ahnya.*)
Bersambung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar