Dari buku yang berjudul “Meraih Sukses dengan cara
Orang Yahudi, Jepang, dan China”, saya mendapat inspirasi untuk menulis artikel
ini. Buku ini menjelaskan tentang
bagaimana ketiga bangsa di atas meraih kemajuan dalam berbagai bidang. Namun di
sini saya hanya akan meringkas cara bangsa Jepang Mampu meraih kemajuan
sedemikian rupa. Nah 10 hal ini juga bisa di terapkan oleh kader IPNU-IPPNU
menjalankan Organisasi maupun Kehidupan.
Apa saja 10 hal tersebut ?
1.
Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa
orang-orang Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di jepang
adalah 2450 jam/tahun. Seorang pekerja jepang boleh dikatakan bisa melakukan
pekerjaan yang biasanya di selesaikan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah
sesuatu yang boleh dikatakan memalukan bagi pekerja jepang. Hal ini bisa
menjadi pedoman bagi kita kader IPNU-IPPNU agar senantiasa bekerja keras, agar
tujuan Organisasi bisa tercapai. Kerja keras di sini adalah menjadi kader yang
pantang menyerah dalam segala hal, ada masalah dikit jangan putus asa, kader
ipnu ippnu juga harus kerja keras dalam urusan Akhirat, senantiasa beribadah
kepada Allah untuk mendapatkan Pahala.
2.
Malu
Malu adalah budaya leluhur yang
telah turun temurun di lingkup masyarakat jepang. Harakiri (bunuh diri dengan
menancapkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yakni ketika
mereka kalah dalam pertempuran. Namun sejak era modern, wacana harakiri sedikit
mengalami perubahan. Para pejabat (menteri, politikus, dsb) yang terlibat dalam
masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya akan mengundurkan diri.
Karena merasa malu, orang jepang lebih senang memilih jalan memutar ketimbang
memotong jalur di tengah jalan. Mereka pun terhadap lingkungannya, jika
melangar peraturan atau norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. Budaya Malu
juga harus di terapkan oleh kader IPNU IPPNU, malu meninggalkan organisasi,
malu datang terlambat pada saat kegiatan atau Meeting, malu tidak ikut rapat tanpa
alasan yang jelas, Malu berbuat kejahatan. Dan sebagainya.
3.
Hemat
Orang jepang memiliki semangat
hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme yang berlebihan nampak
dalam berbagai hal, sebagai misal banyak orang jepang berbelanja di supermarket
pada sekitar jam 19.30. hal ini dikarenakan supermarket selalu memotong harga
sampai separuhnya pada waktu setengah jam sebelum tutup (jam 20.00). budaya
Hemat juga semestinya di terapkan oleh kader IPNU IPPNU, karena ada pepatah
HEMAT PANGKAL KAYA, kader IPNU IPPNU
harus hemat dalam segala hal, terutama dalam hal Keuangan, sebagai kader kita
harus pintar-pintar mengatur keuangan kita. Jangan sampai kita
menghambur-hamburkan Uang untuk keperluan yang sekiranya “Tidak Penting”. Ingat
ya Hemat bukan berarti Pelit. Hehe.
4.
Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di
sebuah perusahaan berjalan dan tertata rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di
Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.
Mereka harus biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun.
Loyalitas juga harus di jaga oleh kader, Loyalitas kita terhadap Organisasi
IPNU IPPNU, Loyalitas Kita terhadap NU. Jangan sampai kita berpindah haluan ke
Organisasi yang lain. Kesetiaan terhadap Organisasi IPNU IPPNU harus di
tanamkan dalam hati.
5.
Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu,
melainkan lebih sebagai peracik temuan orang dan kemudian dipasarkan dalam
bentuk yang diminati pasar.
Berinovasi juga harus dilakukan
kader IPNU IPPNU, sebagai contoh ketika mengadakan kegiatan, usahakan jangan
sama persis seperti sebelumnya, harus ada inovasi yang lebih menarik. Seorang
kader IPNU IPPNU juga haru memilik daya Inovasi yang tinggi untuk bisa bersaing
dengan kader yang lain, semisal dalam dunia bisnis harus ada Inovasi untuk menarik
minat pembeli. Inovasi juga bisa meliputi Kepribadian, sebagai contoh : dari
yang tadinya Minder, cobalah sedikit-sedikit berlatih untuk tidak minder.
Kemudian yang tadinya bodoh, rajin-rajinlah belajar supaya pintar. Jadi Inovasi
lah diri kita terlebih dahulu sebelum kita menginovasi karya orang lain.
6.
Pantang
menyerah
Sejarah membuktikan, jepang
termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang meneyerah. Puluhan tahun di
bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, jepang
menjadi sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi meiji, orang-orang
jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.kemiskinan sumber daya alam
juga tidak membuat jepang menyerah. Terbukti jepang tidak hanya menjadi
pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi, dan kayu. Sekalipun rentetan
bencana terjadi pada tahun 1945 yang dimulai dari bom atom di Hiroshima dan
nagasaki, kekalahan perang, hingga gempa bumi dahsyat di Tokyo, namun jepang
tidak pernah punah. Beberapa tahun kemudian, jepang sudah berhasil membangun
industri otomotif dan kereta cepat. Kader IPNU IPPNU harus pantang menyerah,
apapun cobaan yang terjadi pada kita, kita jangan pernah berputus asa.seberat
apa pun tugas kita, sebanyak apapun tugas yang harus kita kerjakan kita jangan
pantang menyerah. Sekalipun kita gagal, kita harus mencoba lagi,lagi dan lagi.
Karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
7.
Budaya baca
Jangan kaget kalau anda datang ke
jepang atau memasuki densha (kereta listrik). Karena sebagian besar
penumpangnya baik anak-anak sampai orang dewasa selalu mengisi waktunya dengan
membaca buku atau koran. Tidak peduli apakah berdiri atau duduk. Banyak penrbit
yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum SD
SMP,SMA dengan menarik hingga membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.
Budaya membaca juga harus selalu di
lakukan kader IPNU IPPNU, karena dengan membaca pengetahuan kita akan semakin
luas. Membaca akan membuat otak kita aktif, dengan membaca kita akan banyak
tahu tentang hal-hal yang sebelumnya kita tidak tahu. Dengan membaca akan
membuat kita tidak mudah di bodohi orang, dengan membaca kecerdasan kita akan
semakin tinggi, dengan begitu peluang menjadikan Organisasi lebih baik terbuka
lebar.
8.
Kerjasama
kelompok
Budaya di jepang tidak terlalu mengakomodasi
kerja yag terlalu bersifat individualistik. Klaim hasil pekerjaan ditujukan
untuk suatu kelompok.
Sebagai kader IPNU IPPNU alangkah
lebih baiknya jika kita selalu menerapkan kerjasama dalam urusan organisasi,
tidak baik jika kita dalam berorganisasi masih mementingkan diri sendiri,
egois, dan lain sebagainya. Karena itu penting bagi kita untuk slalu menjaga
kerjasama kelompok agar tercipta suasan organisasi yang tertib dan baik.
9.
Mandiri
Semenjak usia dini, anak-anak di
jepang dilatih untuk mandiri. Seorang anak TK sudah dilatih untuk membawa 3 tas
besar berisi pakaian ganti, bungkusan makanan, sepatu ganti, buku-buku, handuk,
sebotol air mineral yang menggantung di lehernya, berbeda dengan di Indonesia
yang kadang masih di bawakan sama orang tuanya.
Sikap mandiri perlu di miliki
segenap kader IPNU IPPNU Semua lapisan, mandiri dalam hal apa aja, sebagai
contoh : kita jangan suka menyuruh-nyuruh orang lain tanpa aturan, semisal kita
menyuruh orang tua kita untuk membelikan sesuatu. Padahal kita sendiri pun
masih bisa untuk membelinya. Budaya mandiri ini juga patut di lakukan dalam hal
berorganisasi, dimana kita jangan manja-manja ketika kita sama-sama disibukkan
dengan agenda. Jangan menyuruh orang lain untuk mengerjakan tugas, kerjakan lah
sesuai dengan tugasnya masing-masing.
10. Menjaga
tradisi
Perkembangan teknologi dan ekonomi,
tidak membuat bangsa jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan
yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih berlangsung hingga kini. Budaya
meminta maaf masih menjadi cerminan pribadi orang jepang. Dsb.
Kader IPNU IPPNU juga harus menjaga
tradisi, wabil khusus tradisi keagamaan NU, jangan sampai tradisi yang sejak
dulu ada hilang karena kita tidak mau dan tidak mampu menjaganya.
Tradisi-tradisi yang lain juga harus dijaga, seperti budaya silaturahim ke para
Ulama. Dan sebagainya.
KHAIRUL ANWAR

Tidak ada komentar:
Posting Komentar