Senin, 12 Juni 2017

Upgrading Jajaran Pengurus PAC IPNU IPPNU Sragi



Sragi-Sabtu 10 Juni 2017 Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan PAC IPNU IPPNU Sragi Kab. Pekalongan mengadakan kegiatan  dialog dan buka bersama alumni dan pengurus. Bertempat di TPQ Nurul Yakin Desa Sijeruk.

Kegiatan tersebut dihadiri dari jajaran pengurus PAC dan juga dari para alumni PAC, serta dari beberapa PR. se-Kecamatan Sragi. Acara tersebut diawali dengan sambutan dari ketua PAC IPNU Sragi. "Alkhamdulillah... Ramadhan kali hiasi momen buka bersama bareng para alumni, tujuan dari diundangnya para alumni yaitu tidak lain dan tidak bukan untuk memberikan motivasi kepada jajaran pengurus yang notabene masih baru, masih kurang berpengalaman." kata Rekan Aditama. "Terimakasih kami ucapkan kepada para alumni dan pengurus serta para anggota yang sudah bersama-sama mensukseskan kegiatan kali ini. Mari manfaatkan momennya, mari jangan lupakan prosesnya, dan mari bersama-sama lihat hasilnya." Imbuhnya.

Kemudian dilanjut dengan dialog alumni & pengurus, diawali dg dialog dari bapak Mukhtasib atau biasa disapa Kang Asep, selaku alumni periode ke 3 tahun 2012, "IPNU IPPNU itu mainnya jangan hanya di kuburan atau Balai Desa saja, IPNU IPPNU harus tampil atau unjuk gigi di dalam dunia pelajar atau sekolahan, membuat seminar atau acara dialog semacam ini juga bagus, sebagai organisasi pelajar juga tentunya harus memiliki mental seorang pelajar, misal disuruh MC, seorang yang bermental pelajar akan langsung bersedia siap." Kata Kang Asep.

"Pengurus harus menjaga komunikasi, jangan sampai komunikasi antar pengurus itu terputus. Hidup itu jangan di Zona nyaman saja, kalau hidup tanpa tantangan itu pasti membuat kita 'ngantuk'. Jangan takut kecewa di IPNU IPPNU ini, janganlah kalian ragu, yakin saja bahwa IPNU IPPNU ini milikmu." kata Ahmad Mujahid (Kang Jahed) selaku alumni pengurus PAC terakhir periode 2014 - 2016.

Acara Dialog dan Buka bersama Bareng Alumni ini merupakan sebagai upaya upgrading jajaran Pengurus PAC IPNU IPPNU Sragi, agar lebih saling memiliki satu sama lainnya. Sehingga nantinya setelah lebaran IPNU IPPNU Sragi akan tetap berkibar tinggi, lebih bisa mengibarkan sayap-sayapnya kesegala penjuru. Kegiatan tersebut ditutup dengan acara tarawih bersama di TPQ-Madin Nurul Yaqin Desa Sijeruk .

Aditama

Minggu, 11 Juni 2017

Pelajar Kab. Pekalongan Angkat Bicara Soal Lima Hari Sekolah


Menyikapi pemberitaan di media terkait rencana penerapan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tentang lima hari sekolah pada tahun ajaran 2017-2018, PC IPNU Kabupaten Pekalongan menggelar diskusi kecil. Diskusi itu dilaksanakan di sela-sela rangkaian kegiatan Roadshow Ramadhan IPNU Kabupaten Pekalongan yang diselenggarakan bersama kader IPNU Kabupaten Pekalongan bertempat di taman rumah dinas jabatan Bupati Pekalongan di Kajen.

Rekan Murtadho selaku Ketua PC IPNU Kabupaten Pekalongan menuturkan, sebagai organisasi yang mempunyai target group pelajar, sudah seharusnya kita ikut menyikapi rencana penerapan kebijakan lima hari sekolah oleh Menteri Muhajir tersebut. "Kita sebagai aktifis organisasi IPNU mempunyai posisi yang sangat strategis untuk menyikapi kebijakan yang akan berpengaruh kepada pelajar atau peserta didik yang notabenenya adalah anggota kita", tandasnya.

Menurut Murtadho, bahwa penerapan aturan lima hari sekolah akan lebih banyak membawa dampak negaitif bagi pelajar. Karna aturan tersebut dinilainya akan memberatkan dan merepotkan bagi pelajar, selain itu pasti juga akan berdampak pada permasalahan lain yang sangat komplek.

Sementara itu, menyikapi aturan lima hari sekolah yang akan berpengaruh pada bertambahnya jam belajar di sekolah sampai sore hari, beberapa anggota IPNU yang mengikuti diskusi tersebut menyatakan kekhawatiran dan kecemasannya. Pasalnya selain kewajiban belajar di sekolah, sebagian besar anggota IPNU di Kabupaten Pekalongan juga mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu agama di madrasah pada sore hari (red. TPQ/MDA). Belum lagi masalah membagi waktu untuk bermain dan belajar berorganisasi di IPNU. "Kami tidak bisa membayangkan apabila kami harus berada di sekolah sampai sore hari, sangat keberatan untuk membagi waktu dengan kewajiban yang lainnya", tutur Rekan Sudir salah satu kader IPNU.

Di akhir pertemuan, rekan Anam selaku Ketua Bidang Kajian Keislaman sekaligus penanggung jawab kegiatan tersebut berjanji akan terus mendiskusikan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Muhajir Efendy tentang rencana penerapan lima hari sekolah tersebut dengan mencari dan mempersiapkan berbagai sumber yang mendukung. "Agar lebih bermanfaat, Roadshow Ramadhan PC IPNU Kabupaten Pekalongan di empat penjuru Kota Santri ini, selain bertujuan untuk silaturrakhim dan konsolidasi antar tingkat pengurus IPNU, juga kita manfaatkan untuk sarana diskusi dan belajar bagi kader-kader IPNU Kabupaten Pekalongan", tuturnya ketika dikonfirmasi koordinator tim jurnalistik IPNU Kota Santri Aji Lukmana.

Sabtu, 10 Juni 2017

KORELASI ANTARA MANUSIA DAN PENDIDIKAN



Bagi sebagian orang menuntut ilmu di pendidikan formal (baca ; SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi) adalah suatu kewajiban, namun tidak demikian dengan orang-orang yang kondisi ekonominya rendah, mereka tidak bisa menikmati pendidikan formal. Mereka lebih memilih berpendidikan non formal & informal, seperti mengaji di TPQ, bimbingan belajar, otodidak, maupun Belajar di Rumah. Lalu apa sih yang di sebut dengan Pendidikan ? seberapa penting kah pendidikan bagi kehidupan manusia ?
            Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.   Secara bahasa pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah di antar oleh seorang pelayan. Pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan paedagogos. Dalam bahasa Romawi pendidikan di istilahkan sebagai educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam.   
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia, Manusia tanpa Pendidikan  bisa di ibaratkan seperti Sayur tanpa garam (Hambar). Manusia yang berpendidikan akan menemukan jati dirinya. Lalu apakah semua manusia wajib berpendidikan ?. menurut saya, semua manusia wajib untuk berpendidikan, entah itu pendidikan formal maupun non formal. Karena pada dasarnya Manusia itu membutuhkan Pendidikan dalam hidupnya, pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran.
Ternyata manusia sejak lahir sudah mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Seperti ketika seorang ibu memberikan ASI (Air Susu Ibu), menyuapi makan, memakaikan baju dan sebagainya. Hal itu merupakan sebuah proses Pendidikan yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Contoh lain ketika seorang ibu sedang makan, memakai dan melepas baju, menyapu, seketika itu juga sang anak melihatnya secara langsung lalu menirukannya. Maka sang anak ini secara tidak langsung sudah mendapatkan pendidikan dari ibunya.
Bagi bayi, pendidikan tahap awal adalah spiritualitas, selanjutnya baru intelektual-rasional, paedagogis maupun andragogis. Bagi orang dewasa dan tua, pendidikan tahap pertama haruslah dialog intelektual, strategi rayuan empirik, baru kemudian mendayagunakan gelombang spiritual. Teori evolusi mengatakan bahwa alam ini, termasuk manusia yang berada di dalamnya berkembang secara evolusionis (berubah atau berkembang secara perlahan) dari makhluk yang sangat sederhana yang berkembang sedemikian rupa menjadi makhluk yang lebih kompleks. Dengan demikian manusia sejak lahir sampai usia tua mengalami pertumbuhan, baik dari segi fisik, mental, maupun sikap. Pertumbuhan Hidup manusia di dunia ini juga di pengaruhi oleh keadaan di sekitarnya.
Berbicara tentang Kehidupan tak bisa di lepaskan dari peran Tuhan, Tuhan lah yang menentukan arah dan tujuan kehidupan di Dunia ini. Tuhan lah yang akan menghidupkan dan mematikan manusia. Usia, sakit, kemiskinan, kekayaan, kesuksesan manusia adalah pemberian dari tuhan. Namun kita sebagai manusia tak serta merta mengandalkan tuhan untuk mencapai keinginan. Manusia lah yang seharusnya berusaha agar keinginan tersebut tercapai. Salah satu usaha yang perlu dilakukan Manusia untuk mencapai suatu keinginan tersebut yaitu dengan belajar. Belajar apa saja, entah itu belajar ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu olahraga, ilmu kesehatan.dan lain sebagainya.
Manusia butuh proses untuk mencapai cita-citanya, manusia harus berpendidikan untuk mencapai cita-citanya.  peran pendidikan dalam hal ini sebagai salah satu tujuan bangsa dan merupakan sektor paling penting dalam pembangunan nasional harus di fungsikan semaksimal mungkin. Karena pendidikan merupakan alat utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan UUD 45 Pasal 31 ayat (3). Adapun peran pendidikan bagi kehidupan manusia memang tidak bisa di lihat dari satu sudut pandang saja, namun harus kita lihat dari semua sudut pandang. Karena pendidikan ini sifatnya luas, tidak di artikan sebagai pendidikan yang ada di bangku sekolahan saja.
Manusia harus yakin terhadap hidupnya sendiri, harus yakin terhadap cita-cita yang di impikannya. Karena keyakinan adalah pilar penyangga utama keberanian dan keberhasilan, inilah unsur penting dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang. Keyakinan yang paling utama adalah keyakinan terhadap aturan agama untuk kehidupan manusia. Kesuksesan tidak diraih secara instan, namun perlu proses panjang untuk mencapai cita-cita tersebut. Manusia yang berpendidikan akan mengetahui jalan hidupnya. Karena hidup manusia ditentukan oleh suatu pendidikan.
Sejak lahir memang manusia sudah mendapatkan pendidikan, tetapi dalam konteks ini pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan informal, yaitu pendidikan yang diberikan oleh Orangtua dan Masyarakat, yang mengutamakan nilai etika, moral, dan norma. Namun, apakah dengan pendidikan informal saja manusia bisa meraih kesuksesan.? Tentunya tidak, berbeda halnya dengan pendidikan formal yang diajarkan di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Pendidikan dalam konteks ini bersifat resmi, ijazah yang diperoleh memiliki arti yang bisa digunakan untuk melanjutkan studinya ataupun mencari pekerjaan.
Masyarakat pada umumnya menganggap manusia yang terdidik adalah manusia yang  berpendidikan di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi, bagi mereka yang tidak sekolah akan di pandang sebelah mata oleh masyarakat. Tak bisa di mungkiri bahwa peran pendidikan (khususnya pendidikan formal) dalam kehidupan manusia penting sekali. Apalagi di zaman modern seperti ini. Menurut Saya, manusia yang tidak berpendidikan formal tak akan bisa menghirup udara segar. Karena pendidikan formal merupakan nyawa bagi manusia untuk bertahan hidup dalam kerasnya persaingan di dunia ini.
Manusia yang tidak mau berpendidikan menurut saya ia tidak peduli dengan masa depannya sendiri. Tidak peduli terhadap masa depan merupakan tanda yang sangat negatif untuk masa depan. Ini berarti kita tidak peduli masa depan seperti apa yang akan kita miliki. Kita membiarkan proses masa depan berlangsung secara alamiah. Sayangnya proses alamiah cenderung menghasilkan kualitas yang semakin menurun. Itulah sebabnya, tidak peduli terhadap masa depan merupakan tanda yang sangat negatif karena cenderung menghasilkan masa depan yang kualitasnya lebih buruk daripada kondisi masa kini.
Tak ada pendidikan maka tak akan ada arah dan tujuan hidup, karena di dalam pendidikan ada pengetahuan. Tanpa pengetahuan manusia akan menjadi bodoh, manusia yang bodoh akan terlempar dari persaingan di bidang apapun. Bodoh disini diartikan sebagai manusia yang tidak mau berusaha dalam mencari pengetahuan. “Dalam menerangkan usaha manusia untuk mencapai pengetahuan, John Locke mengemukakan pengertian sensation dan reflection. Sensation merupakan gejala jiwa yang mempunyai hubungan dengan dunia luar, tetapi belum sempurna meraih dan mengerti dengan sesungguhnya apa yang dihayati. reflection adalah pengenalan intuitif  yang dapat memberikan kesan pengetahuan yang lebih baik kepada manusia daripada sensation. Tiap pengetahuan terwujud dari hasil kerja sama antara sensation dan reflection tersebut”.
Setinggi apapun tingkat pendidikan Manusia dan seluas apapun ilmu yang dimilikinya,niscaya tak akan berarti jika hanya untuk dirinya sendiri. Namun, manusia harus mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Maka ilmu itu nantinya akan bermanfaat bagi orang lain. Sehingga pendidikan yang kita tempuh ada manfaatnya. Sebagai manusia kita memang harus bersifat kritis, pragmatis dan memiliki kepedulian sosial. Manusia harus saling membantu, mengimplementasikan ilmunya untuk kemajuan bangsa dan Agama.
Pendidikan diharapkan membentuk manusia sosial yang dapat bergaul dengan sesama manusia sekalipun berbeda agama, suku bangsa, pendirian dan sebagainya. Manusia hasil pendidikan harus dapat menyesuaikan diri dalam situasi sosial yang berbeda-beda. pendidikan dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri. Hal tersebut bisa diketahui dengan memahami fungsi dari pendidikan dan tujuan pendidikan. Pertumbuhan ekonomi dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan dari pelaksanaan pendidikan. Jika ukurannya adalah Pertumbuhan ekonomi, maka manusia yang tidak menempuh pendidikan tak akan merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi tersebut.
Jika tingkat pendidikan formal yang menjadi tolok ukur, maka anak yang hanya lulusan SD tak akan bisa menikmati apa yang dinikmati oleh lulusan S3. Begitupun sebaliknya. Tingkat pendidikan tertinggi adalah S3, dimana hal ini tingkat kesuksesan seseorang lebih besar di banding dengan mereka yang hanya menempuh jenjang pendidikan S1 misalnya. Manusia yang hanya mengecap pendidikan hanya sampai tingkat SMP/Sederajat dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya dikarenakan kondisi ekonominya rendah, maka manusia ini tergolong kurang beruntung hidupnya. Hanya mengandalkan Ijazah SD/MI bahkan ijazah SMP/Sederajat sekalipun sangat susah untuk mencari pekerjaan yang layak, apalagi kalau tidak punya keahlian khusus. sehingga kalau tidak mendapat pekerjaan manusia akan menganggur, yang nantinya hidup manusia menjadi sengsara karena tidak berpenghasilan. Manusia yang berilmu memang diatas segala-galanya, karena ia akan mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Kesimpulannya  adalah Hidup manusia tergantung dari pendidikan  yang ia peroleh. Intinya semua pendidikan itu bagus. baik formal, nonformal, & informal. Jenis pendidikan apapun mengajarkan kebaikan, tergantung dari kita menyikapi dan melaksanakannya. Mau hidup susah, senang, bahagia, kaya, miskin itu pilihan. Tinggal dari kitanya sebagai manusia mau berusaha atau tidak, karena Allah sudah membukakan pintu kesuksesan yang selebar-lebarnya bagi manusia yang mau berusaha mencapai kesuksesan tersebut. Namun jika kita malas berusaha,mencari ilmu, melakukan suatu kebaikan, berangkat sekolah, maka yang terjadi adalah kita tak akan hidup di dunia ini dengan penuh kenyamanan dan ketentraman. Karena pada intinya Manusia tak bisa hidup tanpa Pendidikan.

Oleh Khairul Anwar (Tirto)



Jumat, 09 Juni 2017

Tarkhim dan Konsolidasi PCNU Kabupaten Pekalongan beserta Banomnya


Sragi- Kamis 08 Juni 2017 PCNU Kabupaten Pekalongan mengadakan Tarkhim dan Konsolidasi dengan warga Nahdlatul Ulama di Kecamatan Sragi. Acara ini bertempat di Masjid Nurul Yaqin  Desa Purwodadi Kecamatan Sragi yang di hadiri oleh Rais Syuriah, Ketua Tanfidziyah, LP Ma’arif NU, KBIH Annahdiyah, Lakpesdam NU, PC Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU, juga hadir pengurus MWC NU Kecamatan Sragi Beserta Badan Otonomnya.

Dalam sambutannya Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Sragi Mengatakan “sugeng rawuh dan selamat datang di Kecamatan Sragi, semoga dengan adanya Tarkhim dan Konsolidasi dari PCNU Kabupaten Pekalongan beserta Badan Otonom dan Lembaga bisa menambah semangat dari pengurus MWC NU Sragi dan Banomnya dan semoga bisa lebih membumikan Nahdlatul Ulama’ di kecamatan Sragi.

“kami mengucapkan terimaksih sebesar-besarnya kepada MWC NU Sragi dan warga Desa Purwodadi secara khususnya” kata Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan KH Muslikh Khudlori, beliau juga menambahkan “ Kegiatan ini bertujuan memotret secara langsung kegiatan di MWC NU kecamatan  Sragi beserta Badan Otonomnya”. Bapak KH Muslikh Khudlori berharap  agar warga NU di kecamatan Sragi meningkatkan kegiatan Nahdlatul Ulama di Bulan Ramadhan ini supaya bisa Ketaqwaan kepada Allah SWT.

Ketua LP Ma’arif Kabupaten Pekalongan DR Mukhlisin mengatakan “ Di mohonkan agar Ranting-ranting Nahdlatul Ulama’ di kecamatan Sragi mendirikan lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama’, diutamakan Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama karena di Sragi masih hanya ada dua yaitu di Desa Tegallontar dan Kalijambe”. Kegiatan ini ditutup oleh do’a yang di pimpin oleh Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan KH Muhamadun Jundi.


Aji Lukmana

Kamis, 08 Juni 2017

Ketua IPNU Kab. Pekalongan himbau kadernya meramaikan Mushola selama Ramadhan


Untuk mensyiarkan islam yang moderat pada masyarakat dibulan suci Ramadan tahun ini. Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Pekalongan memberikan ultimatum tegas, bagi kader-kadernya yang ada di tingkatan anak cabang atau PAC, dan ditingkatan ranting dan komisariat untuk tidak menyia-nyiakan Bulan Suci Ramadan.  Menurut Ketua IPNU Kota Santri, Rekan Murtadlo menjelaskan, "memasuki bulan suci Ramadan ditahun 1438 H / 2017 ini, selaku pimpinan cabang menghimbau agar IPNU dan IPPNU Se-Kabupaten Pekalongan untuk mensyiarkan Islam dengan meramaikan kegiatan dimasyarakat"

Lebih lanjut, Murtadlo menambahkan bahwasanya keberkahan Bulan Suci Ramadhan merupakan bulan pelipat gandaan nilai ibadah bagi masyarakat, oleh karena itu pihaknya memberikan 4 (empat) perintah agar dilaksanakan dimasing-masing kepengurusan anak cabang maupun ranting. "Himbauan kami yang pertama adalah menjalankan dan meningkatkan ibadah wajib dan sunnah dengan baik sesuai syariat Islam Aswaja. Kemudian yang kedua kami mohon kegiatan kajian keislaman seperti pasaran maupun pengajian untuk yang sudah ada, dan yang belum untuk segera dilaksanakan. Kemudian yang ketiga kami mohon untuk turut meramaikan kegiatan Musholla maupun Masjid dengan tadarus atau kegiatan yang sudah direncanakan. dan terakhir kami mohon untuk mempererat silaturahmi diantara kader IPNU dan IPPNU yang ada." Tuturnya.

Murtadlo memandang saat ini anak anak muda terutama pelajar, sedang dihadapkan dengan fitnah dan perpecahan yang sangat viral di media sosial bahkan rentan dengan timbulnya konflik dan perpecahan. Sehingga rasa persatuan dan persaudaraan perlu ditingkatkan dikalangan muda, untuk mengetahui dan menyadari dengan betul makna perbedaan dalam kehidupan. "Pererat ukhuwah diantara sesama kader IPNU dan IPPNU dan juga dengan masyarakat secara umum." Tegasnya

Bahkan menurut Murtadlo, persatuan mapun persatuan itu memiliki makna yang luas, tidak hanya satu keluarga atau kampun dan terbatas oleh agama, melainkan bersifat general dan komprehensif. "Ada tiga Ukhuwah yang harus kita perjuangkan, yaitu Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan sesama anak bangsa) dan Ukhuwah Basyariah (persaudaraan sesama manusia) sebagai cermin ajaran Islam Nusantara." Pungkasnya

Minggu, 04 Juni 2017

PCNU KABUPATEN PEKALONGAN LAUNCHING UPZIS-LAZISNU



Launching UPZIS-LAZISNU bertempat di pendopo rumah dinas  Bupati Pekalongan. Yang dihadiri antara lain oleh Asisten Pemerintahan Sekda Drs. Ali Riza, M.Si, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan KH. Muhammadun Raden Jundi, Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Pekalongan KH. Muslikh Khudori, M.Si, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan Drs. H. Kasiman Mahmud Desky, M.Ag, Pengurus Badan Otonom NU seperti LP Maarif NU, Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU-IPPNU dan seluruh perwakilan pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se Kabupaten Pekalongan.
Ketua PCNU KH. Muslikh Khudori mengatakan hadirnya LAZISNU di Kabupaten pekalongan adalah keniscayaan. Sebagai bentuk pemberdayaan untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan kekayaan para aghniya NU melalui LAZISNU ini.
“Kami selaku Ketua PCNU berharap agar LAZISNU dapat dikelola dengan baik, profesional, akuntabel dan amanah agar dipercaya oleh masyarakat dan agar LAZISNU mampu melebarkan kinerjanya,” tuturnya.
PCNU juga sangat mengharapkan hadirnya LAZISNU bisa mengentaskan kemiskinan, mengurangi kebodohan di bidang pendidikan. Dalam ranah kesehatan, kerja yang dilakukan pemerintah harus didukung pula dengan hadirnya LAZISNU ini

Dalam sambutan Bupati, kehadiran LAZISNU menjadi jawaban penting bagi ormas Nahdlatul Ulama untuk lebih konkret lagi dalam rangka bersama dengan Pemerintah untuk melengkapi dan mendorong supaya dapat melaksanakan mandat masyarakat.
“Saya minta tolong LAZISNU jangan seperti Bank, jangan menyimpan uang, jangan ada saldo. Jadi begitu ada dana langsung disalurkan kepada yang berhak. Kita harus sudah memiliki data siapa saja yang akan kita sasar. Kalau hal ini bisa berjalan, ini akan menjadi best practice yaitu bisa menjadi contoh pengelolaan LAZIS yang modern,” ujarnya.
"Kabupaten Pekalongan dengan jumlah penduduk (data terbaru) sekitar 896 ribu memiliki jumlah penduduk miskin yang cukup besar. Kalau dibandingkan dengan data Jawa Tengah, kita sudah masuk dalam zona kuning dan sebentar lagi masuk pada zona hijau. Angka kemiskinan 2018, di Kabupaten Pekalongan ditarget 8-9 persen Karena kontribusi Pemerintah di seluruh tingkatan faktanya hanya 10 hingga 20 persen, makanya sisa yang 80 persen harus kita gali dari partisipasi masyarakat, dari para aghnia,” menurut Bupati.

Pada malam launching tersebut, LAZISNU langsung memperoleh masukan dana sumbangan sebesar Rp 21 juta, yaitu berupa infaq dari para aughnia yang hadir sebesar Rp 6 juta dan Rp 15 juta merupakan zakat dari bendahara PCNU Kabupaten Pekalongan.

AL

Kamis, 01 Juni 2017

Menciptakan Yang Baru Yang Lebih Baik


Jarang sekali saya berlama-lama di rumah; dan hari ini adalah satu dari sekian jarang hari yang saya putuskan untuk berlama-lama; bersantai dirumah. Kamar saya belum berubah jauh sejak saya tinggalkan. Beberapa foto gusdur mendominasi ruangan, lebih banyak dari foto saya sendiri.

Gus Dur ini memang idola banyak orang; begitupun saya. Sayangnya, yang lebih banyak diceritakan oleh teman-teman kita adalah soal banyolan atau nyelenehnya; atau soal betapa majunya pemikirannya, ketimbang langkah-langkah maju itu sendiri; atau katakan hal-hal kongkret yang berhasil Gus Dur lakukan. Alhasil, ada dua keluaran penggemar gusdur, yakni nyeleneh tidak bertanggung jawab tanpa berkarya. Atau jika tidak seperti itu, iya berkarya hanya atas pijakan lelucon; maka hasilnya pun hanya jadi gelak tawa tanpa ada manfaat atau kemajuan kongkret. Namun tentu berbeda, bagi yang sudah akil baligh dan betul-betul mampu meresapi perjuangan Gus Dur.

Berkelana jauh ke belakang, NU yang kita cintai ini sungguh-sungguh tidak kekurangan obor. Bisa jadi kitanya saja yang malas mempelajari rekam jejak cemerlang pemikiran pembaharu semodel Ayahanda Gus Dur, beliau KH Wahid Hasyim. Tokoh termuda dari 62 anggota BPUPKI, pun juga tokoh termuda dari 9 orang yang menandatangani Piagam Djakarta. Sumbangan ide dan tenaganya menjadi bagian penting dalam perkembangan negara ini. Beliau juga salah satu inisiator berdirinya IAIN. Bahkan ada ujar-ujar, “Jika KH Wahid diberi umur panjang, tentu sejarah Indonesia akan berbeda”. Ini tidak lain adalah bentuk penghargaan dan pengakuan mengenai sumbangsih ide dan pikiran yang tidak hanya sangat maju waktu itu, tapi juga kongkret.
Atau mungkin, kita; iya tentu disitu termasuk juga saya; terlalu nyaman dengan kebesaran NU. Lalu sekedar terjebak dengan jargon al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah”. Sebuah jargon penghubung antara tradisi dan modernitas. Bahwa kedua-duanya tidak perlu bertentangan. Memang betul dan saya sepakat. Tapi bukan disitu titik fokusnya. Rasa-rasanya kurang galak kita sebagai anak muda, jika hanya puas mengambil atau menyesuaikan. Baik itu mempertahankan yang lama, atau mengambil yang baru yang lebih baik; kedua-duanya adalah satu bentuk kerja menyesuaikan diri terhadap apa yang sudah ada. Bisa jadi, ini menjadi jawaban mengapa kita lebih suka melakukan sesuatu yang berulang-ulang dalam segala hal; mulai dari pengkaderan, kemasyarakatan, sosial, politik dan segala hal di kehidupan. Mungkin ini yang menyebabkan kita tidakpernah menjadi yang pertama di segala hal. Dalam memutuskan perlawanan dengan HTI kita bukan yang pertama, kakak kita ANSOR jauh lebih awal. Dalam urusan pendidikan, masivme ROHIS di sekolah tidak mampu kita tandingi, sehingga ‘perlu bantuan pemerintah’ untuk mengurangi dampak negatifnya. Dan banyak urusan lain. Kita masih lebih suka mengambil dan meniru; menjadi nomer sekian dalam segala urusan.
Siapa tidak kenal Napoleon Bonaparte, bagi banyak orang ia adalah seorang jenius dan juga dewa perang. Tapi Friederich Ludwig, pangeran Hohenlohe-Ingelfingen, yang merupakan seorang Jenderal Prusia tidak beranggapan demikian. Ia berasal dari bangsawan Jerman dengan catatan militer yang melegenda. Karir Hohenlohe dimulai sejak muda dan bekerja langsung di bawah Federick Yang Agung (1712-1786), orang yang menjadikan Prusia adikuasa.
Bagi Hohenlohe sukses dalam perang tergantung pada pengorganisasian, disiplin dan strategi oleh pikiran-pikiran militer yang terlatih. Pasukan Prusia dilatih dengan metode seperti ini hingga sanggup bergerak dengan ketepatan sebuah mesin. Bagi mereka perang adalah soal matematika. Bagi Hohenlohe Napoleon tak lebih dari sekedar orang yang beruntung dalam kemanangan-kemenangannya. Dalam benaknya pasukan Napoleon yang tidak teratur itu pasti akan mudah dihancurkannya.
Agustus 1806, Hohenlohe dan para jenderal Pursia akhirnya mendapatkan kesempatan setelah horny perangnya dengan Napoleon ditahan begitu lama. Raja Friedrich Wilhelm III yang muak dengan pelanggaran janji-janji Napoleon, memutuskan perang dalam waktu enam minggu.
Dalam peperangan yang sudah diidam-udamkan itu, Hohenlohe akhirnya dikalahkan oleh Napoleon. Tentu ini diluar dugannya, karena pasukan Prusia telah dibekali dengan pengetahuan perang dari Frederick Yang Agung yang mereka yakini tidak tertandingi. Pasukan Napoleon bergerak cepat secara acak hanya menggunakan ransel di punggung mereka sementara pasuka Prusia memilih menggunakan cara lama, mengangkut perbekalan menggunakan kereta yang lamban.
Pun begitu dengan kemewahan genderang perang dan formasi pasukan yang rapi akhirnya dengan mudah dicerai berai oleh pasukan Napoleon yang lebih cerdik dengan bersembunyi di atas atap rumah. Berkali-kali terdengar tabuhan genderang untuk membentuk ulang formasi, tapi berkali-kali pula mereka dikacaukan oleh tembakan dari arah tersembunyi. Hohenlohe belum pernah melihat pasukan seperti itu. Pada akhirnya ia harus mengakui bahwa kemenangan dalam perang dan hal apapun tidak didapatkan dengan bubuk ajaib. Akan sama dan selalu menang dengan ramuan yang sudah ada. Memenangkan perang bukan perkara magic tapi merupakan sebuah inovasi.

“Ketika pada tahun 1806, para Jenderal Prusia… Jatuh ke dalam bencana karena menggunakan siasat tempur Frederick Yang Agung, hal itu bukanlah sekadar kasus gaya yang ketinggalan jaman, melainkan kemiskinan imajinasi yang paling ekstrem akibat rutinitas” – Carl von Clausewitz, ON WAR (1780-1831)

Mungkin tanpa kita sadaripun kita sedang menuju ke arah yang sama seperti Hohenlohe.

“Yang membatasi individu atau bangsa adalah ketidakmampuan melakukan konfrontasi terhadap kenyataan, memandang segala apa adanya. Dengan bertambahnnya usia, kita menjadi lebih berakar di masa lalu. Dikendalikan oleh kebiasaan . Sesuatu yang pernah efektif bagi kita menjadi doktrin, cangkang yang melindungi kita dari realita — Kreativitas digantikan oleh pengulangan –“
Robert Greene, The 33 Strategies Of War.

Pengkaderan seperti Makesta yang kita lakukan hari ini tentu pernah jaya di masanya. Usaha-usaha kita yang selama ini cenderung berulang tentu juga akan memiliki masa rasionalitas. Para ulama pendahulu kita adalah orang yang sangat radikal dan menjadi pembaharu. Kita tidak boleh hanya mengambil, baik dari masa lalu maupun dari masa sekarang. NU bukan semata jembatan penghubung tradisi dan modernitas. Kini NU telah menjadi kiblat Islam Rahmatan lil Alamin di Dunia. Masa depannya ditangan kita. Selama kita tidur dan hanya melakukan rutinitas itu — yang parahnya tidak kita cari tahu kedalamannya — tentu hanya menunggu waktu, suatu hari di masa depan organisasi yang kita cintai ini tidak lagi diterima zaman. Tanda bahayanya sudah jelas: kita tidak pernah menjadi yang pertama di bidang apapun.
Sekian. Semangat!!!!

ipnujateng.or.id

Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...