Sabtu, 28 Januari 2017

KONDISI LINGKUNGAN SEKOLAH SMA N 01 KEDUNGWUNI

Kedungwuni - Pelajar Kota Santri

Kedungwuni, 27 Januari 2017. Dari penuturan narasumber kami siswi SMA N 01 Kedungwuni (Rosan dan Mardika) yang kami temui setelah pulang sekolah. Mereka  menuturkan bahwa kondisi lingkungan disekitar sekolah bisa berpengaruh terhadap kualitas proses belajar mengajar disekolah. Dari berbagai aspek diantaranya kebersihan, kenyamanan serta keamanan. Untuk menunjang hal itu, sekolah mempunyai peran yang sangat penting berkaitan dengan kebijakan atau aturan-aturan yang diberlakukan. Salah satunya dengan melatih siswa-siswi untuk membuang sampah pada tempatnya, rutin membersihkan kamar mandi, membersihka dedaunan yang berserakan. Dengan salah satu progamnya yaitu setiap hari Jumat pagi dilaksanakan kerja bakti oleh semua Siswa, Guru dan seluruh Staf. 

Kondisi lingkungan sekitar sekolahan yang merupakan alun-alun, terkadang juga bisa mengganggu kenyamanan dalam proses belajar mengajar dengan sering terdengarnya suara bising kendaraan bermotor yang setiap saat lalu lalang. Rosan dan Mardika pernah mengalami dimana Ia merasa terganggu akan hal tersebut saat berlangsungya ujian bahasa Inggris Listening.  

Mereka berharap kepada seluruh pelajar untuk senantiasa menjaga lingkungan sekolah agar bersih, sehat, nyaman, aman dan tentram. Selain itu, mereka berpesan kepada masyarakat agar lebih peka dan tau mengenai etika dalam berkendara dilingkungan umum. Bagi pemerintah, juga diharapkan peran sertanya dalam memberikan rambu-rambu disekitar sekolah, dan ikut serta mengamankan lingkungan alun-alun Gemek, Kedungwuni.

Refleksi Harlah NU Part 1 : "NU : Organisasi Besar Islam Nusantara"

 
Oleh : M. Rikza Chamami
Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Tidak terasa, usia Nahdlatul Ulama (NU) memasuki 91 tahun menurut hitungan kalender miladiyah. Usia yang bukan lagi remaja atau dewasa. NU sudah tua dan benar-benar tua. Oleh sebab itu, gerakannya sudah mengalami dinamika yang beragam.

Catatan 2017 menunjukkan bahwa prestasi NU sebagai organisasi kemasyarakatan sudah luar biasa. Ini dibuktikan dengan makin bertambahnya jumlah Pimpinan Cabang Istimewa di Timur Tengah, Afrika dan Eropa. Jejaring NU ke luar negeri juga sudah tertata secara rapi.

Dari catatan data organisasi NU yang sudah resmi berdiri: 34 Pengurus Wilayah (tingkat Provinsi), 27 Pimpinan Cabang Istimewa (berada di luar negeri), 500 lebih Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) dan 32.000 lebih Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan).

Gerakan Islam Nusantara turut mengantarkan kekhasan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan ciri moderat. Diakui bahwa NU yang dulunya dikatakan tradisional dan konservatif, hari ini sudah tidak begitu saja dikatakan demikian.

Nyatanya NU mau dan terbuka mengejar ketertinggalan dengan melakukan moderasi dan modernisasi kelembagaan sesuai dengan visi ahlussunnah wal jama'ah annahdliyyah. Generasi muda NU dengan arahan para ulama pesantren sudah mulai menunjukkan arah gerakan pendidikan inklusif.

Kebesaran NU sebagai organisasi Islam ini seiring dengan mandat pendiriannya, yakni NU sebagai garda depan organisasi dakwah dan pendidikan bagi umat Islam Indonesia. Maka mengusung tema Islam Nusantara dalam Muktamar NU 33 di Jombang menjadi sangat tepat.

Suana Indonesia sekarang sudah makin jelas sekali. Arus radikalisme dan wahabisme sudah mulai makin nyata menjadi gerakan taqiyyah (terselubung) dan mudzaharah (demonstrasi). Dua model gerakan itu sudah bisa dilihat dengan pola masing-masing.

Sejak NU berdiri lewat Komite Hijaz sudah jelas, bagaimana negosiasi para Kyai kepada Raja Saudi agar memberikan lima hal: kebebasan bermadzhab, mempertahankan situs bersejarah, membuat biaya haji terjangkau, menulis hukum yang berlaku di Hijaz dan menerima utusan ulama Indonesia dengan jawaban resmi Raja Saudi.

Lewat perjuangan itulah, ulama Nusantara kemudian mendirikan organisasi NU pada 31 Januari 1926. Arah tujuan NU menjadi semakin jelas hingga usianya ke-91 yaitu sebagai penerus perjuangan ulama ahlussunnah wal jama'ah.

Tugas berat yang dipikul NU hari ini adalah pada penguatan ideologi keagamaan dan kebangsaan. Dua program penguatan ideologi ini menjadi sangat penting dalam mempertahankan predikat NU sebagai organisasi terbesar Islam Nusantara ini.

Oleh sebab itu, 91 tahun usia NU mengantarkan bagaimana dibutuhkan langkah-langkah nyata dalam penguatan ideologi dimaksud agar kekhasan NU tidak hilang. Hal ini penting sekali, mengingat perkembangan pemikiran jam'iyyah dan jama'ah NU sudah mulai cepat akibat arus globalisasi.

Modal utama penguatan ideologi ini bertumpu pada kekuatan nasehat para Kyai di Syuriyah dan Musytasyar dengan mengawal dasar-dasar keNUan. Sedangkan Tanfidziyah melaksanakan perintah Kyai dan menyatu dengan jama'ah NU yang berada di kampung-kampung.

Kesan NU struktural dan kultural yang selama ini didengungkan tidak akan ada lagi sepanjang pengurus NU mau dan benar-benar rajin turun ke basis. NU bukan organisasi yang cukup dioperasikan dari meja kantor, tapi NU harus dekat dengan jama'ahnya.*)

Bersambung.

Jumat, 27 Januari 2017

Peran IPNU dalam mencegah kenakalan remaja



Kedungwuni - Pelajar Kota Santri   

Remaja, remaja merupakan generasi penerus bangsa, sehingga baik pemerintah atau orang tua harus membentengi generasi muda dengan mendidik dan menanam nilai dan norma yang diberikan sejak dini.

Kenakalan remaja menjadi hal yang perlu diwaspadai dan lebih diperhatikan, karena seiring perkembangannya seorang anak maka sudah sewajarnya seorang remaja melakukan sebuah kenakalan. selama hal itu masih dalam tingkat yang wajar maka tidaklah berpengaruh buruk.

Banyak faktor-faktor yang membuat remaja  memasuki dunia pergaulan yang rusak. Biasanya berawal dari berteman dengan teman yang membawa dampak buruk. Ada faktor yang berasal dari keluarga yaitu kurangnya perhatian dan pengawasan, Padahal dampak dari kenakalan remaja tidak hanya berdampak buruk pada keluarga,namun juga berdampak buruk terhadap lingkungan masyarakat disekitarnya. Salah satu contohnya yaitu tawuran, narkoba, pergaaulan bebas. “anak ibarat kaca bagi orang tua” Seperti yang dikemukakan oleh bapak wicak, salah satu pengunjung alun-alun gemek, Kedungwuni, Pekalongan.

Faktor terpenting yang membuat remaja terjerumus dalam kenakalan remaja adalah kurangnya pengetahuan dari diri anak tersebut. Dari sinilah IPNU sebagai organisasi pelajar remaja harus memberikan pembekalan akidah  yang kuat sebagai salah satu upaya membentengi kenakalan remaja.

Menimba Ilmu dan Kearifan dari Gus Mus dan Mbah Maimoen


Rembang - Pelajar Kota Santri
 
Kegiatan Anjangsana Islam Nusantara Pascasarjana STAINU Jakarta memberikan kesan tersendiri dalam diri KH Abdul Moqsith Ghazali, salah satu pimpinan rombongan. Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU ini mengesankan pertemuannya dengan Gus Mus di Leteh dan KH Maimoen Zubair di Sarang, kedua daerah tersebut berada di Rembang.

“Bersama sejumlah teman NU dari Program Pascasarjana STAINU Jakarta, 25 Januari 2017, saya sowan ke KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di Rembang Jawa Tengah,” ujar Kiai Moqsith.

Setelah menempuh perjalanan darat berjam-jam, Jakarta-Purwakarta-Cirebon-Pekalongan-Kendal, akhirnya sampai juga di Rembang. Tepat jam 12 malam, ketika rumah-rumah di sekitaran kediaman Gus Mus sudah sepi. Orang-orang sudah masuk ke peraduan.Tak ada lalu lalang kendaraan. Sunyi.

Lelah menempuh perjalanan jauh, kami segera bergegas menuju asrama santri Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang, pesantren asuhan beliau. Di situ kami semua istirahat. Suasananya mengingatkan Kiai Moqsith pada saat dulu ketika masih mondok di pesantren.

Baru tidur beberapa jam, adzan subuh sudah berkumandang. Bersama para santri, kami antre menggunakan kamar mandi. Lalu kami shalat subuh.

Habis shalat subuh, kami bergerak menuju maqbarah KH Bisri Mustofa, KH Cholil Bisri, KH Cholil Harun. Kami mengirimkan fatihah dan membaca tahlil untuk beliau-beliau, tak ketinggalan juga membaca fatihah untuk mendiang Nyai Fatma, istri Gus Mus, yang wafat beberapa bulan lalu. Allahummaghfir lahum warhamhum wa 'afihim wa'fu 'anhum.

Dari ziarah kubur, kami baru diterima Gus Mus di kediamannya yang "eksotik" itu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Tak berselang lama duduk, kami sudah terlibat obrolan dan diskusi intens. Sebagai partner diskusi, Gus Mus memang menyenangkan; rileks dan egaliter. Walau kami tetap tak bisa menyembunyikan keseganan kami terhadap Gus Mus, sosok kiai yang alim dan bersahaja.

Dari Gus Mus, kami menimba kearifan dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa dalam kehidupan. Beliau banyak menyampaikan pandangan soal kondisi Indonesia belakangan, mulai dari masalah ke-NU-an dan kepesantrenan hingga soal-soal politik kebangsaan. Seperti umum diketahui, tema-tema berat itu dikemukakan Gus Mus dengan kata-kata sederhana penuh hikmah.

Beliau juga banyak bercerita tentang guru-gurunya, seperti Kiai Mahrus Ali Lirboyo, Kiai Marzuki Lirboyo, Kiai Ali Maksum Krapyak, Syaikh Abdul Halim Mahmud Mesir. Melalui Gus Mus, kita tersambung ke masa lalu. Melipat waktu, seperti hidup satu generasi dengan guru-guru beliau itu.

Pembicaraan mengalir cukup jauh. Begitu melihat jam tangan, Kiai Moqsith kaget. Ternyata kami menyimak wejangan-wejangan beliau sudah hampir dua jam. Kami harus segera mohon diri.

Sebelum pamitan, kami meminta doa ke Gus Mus dan memohon ijazah amalan untuk keselamatan dunia akhirat. “Sehat selalu Kiai Ahmad Mustofa Bisri. Allah yubarik fikum,” doa Kiai Moqsith. Keluar dari kediaman Gus Mus, kami melanjutkan perjalanan ke KH Maimoen Zubair Sarang, Rembang.

Sowan Mbah Maimoen

Menempuh perjalanan satu jam, kami sampai di Sarang. Setelah menunggu beberapa menit di depan kediaman Mbah Moen, tepat pukul 14.25 WIB, wajah teduh penuh kharisma itu keluar dari rumahnya. 

“Ketika bertemu saya tak bisa berkata apa-apa kecuali menciumi tangan beliau yang halus itu. Saya dan beberapa teman tak ada yang berani memulai pembicaraan, hingga kemudian Mbah Moen menanyakan nama-nama kami satu persatu,” jelas Kiai Moqsith.

Kalimat demi kalimat mulai meluncur dari beliau. Kami mencoba merespons sekadarnya. Pembicaraan terus berlangsung. Suasana mulai akrab, terlebih beliau menyelingi pembicaraan dengan humor-humor segar.

Beliau menasihati dan mengajari kami. Bicara banyak hal, menyentuh banyak aspek ilmu pengetahuan. Mulai dari soal keluarga hingga masalah negara. Beliau bicara fiqih, sejarah, tafsir sufi, dan sedikit soal politik. Dalam politik juga, menurut beliau, umat Islam perlu tahu; mana yang fardhu kifayah dan mana yang fardhu'ain.

Walau begitu, tekanan pembicaraan beliau sesungguhnya diarahkan pada soal akidah dan keimanan. "Dalam hidup ini betapa pentingnya kita bersandar pada qadha' dan qadar Allah,” dawuh beliau.

Tak terasa, di rumah Mbah Moen, kami sudah hampir dua jam. Kami harus segera pamit. Sebelum pamitan, kami mohon doa ke beliau. Perjalanan kemudian berlanjut ke Tuban, ziarah ke kuburan KH Abdullah Faqih di Langitan. 

“Semoga Mbah Moen sehat selalu. Athala Allah hayatah,” tutup Kiai Moqsith.

nu.or.id

"Satu Goresan Berjuta Perubahan"

Kedungwuni
            Pimpinan Cabang IPNU melalui Lembaga Jurnalistik dan Penerbitan mengadakan kegiatan SEKOLAH JURNALISTIK dari tanggal 26-27 Januari 2017 di Gedung PC NU Kab Pekalongan, Kegiatan tersebut di ikuti oleh perwakilan PAC IPNU se-Kab Pekalongan dan perwakilan SMA sederajat di Kab Pekalongan.
            Tujuan kegiatan ini adalah “membekali penerus bangsa di kalangan pelajar, khususnya di kabupaten Pekalongan dengan pengetahuan dan kemampuan di bidang Jurnalistik serata mendorong pelajar khususnya di kabupaten Pekalongan untuk berfikir kritis, kreatif dan mandiri” itulah yang dikatakan ketua panitia Rekan Aji Febrianto Lukmana.

            Dalam kegiatan SEKOLAH JURNALISTIK ini materi yang sampaikan antara lain:
1.     Dasar Jurnalistik
2.     Teknik Reportase dan Wawancara
3.     Manajemen Media
4.     Foto Jurnalistik
5.     Menulis Media Online
6.     Praktik
AfL

Kamis, 17 November 2016

Latfas I PC IPNU IPPNU Kab.Pekalongan : "Ciptakan Kader Cerdas dan Loyal"


Kesesi - Pelajar Kota Santri

Dalam rangka mempersiapkan bulan kaderisasi IPNU IPPNU (Desember mendatang), PC IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan menyelenggarakan kegiatan Latihan Fasilitator I. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kalimade Kec Kesesi mulai tanggal 17 hingga 20 Nopember mendatang. Hadir dalam kegiatan pembukaan pelatihan ini, jajaran Muspika Kecamatan Kesesi, jajaran MWC NU Kesesi dan beserta banom-banomnya.

Rekan Mujahid selaku ketua panitia mengatakan bahwa kegiatan Latihan Fasilitator I ini diikuti oleh 40 orang peserta yang berasal dari PAC se-Kabupaten Pekalongan. "Peserta yang hadir disini adalah peserta yang lolos seleksi screening yang telah kami adakan satu minggu sebelum kegiatan ini kami laksanakan", demikian imbuhnya. Kegiatan Latfas I PC IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan kali ini mengangkat tema  "Fasilitator Cerdas Ciptakan Kader Penuh Loyalitas", dengan harapan nantinya peserta dari hasil pelatihan ini benar-benar bisa dipersiapkan untuk mengisi berbagai kegiatan pengkaderan yang ada nantinya. 

Dalam kesempatan yang sama rekan Murtadho menyampaikan bahwa peserta kegiatan Latihan Fasilitator I diharapkan dapat mengikuti kegiatan secara maksimal dan mampu mendalami materi-materi yang akan disampaikan oleh para narasumber dari PW IPNU IPPNU Jawa Tengah. "Setelah selesai mengikuti pelatihan ini diharapkan para peserta dapat menjadi fasilitator yang siap untuk mengawal kaderisasi IPNU IPPNU, baik Kaderisasi Formal, Non-Formal, maupun In-Formal" demikian penuturannya.

Dalam kesempatan lain, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pekalongan menyampaikan bahwa saat ini kita sudah berada pada tingkat ke tiga dari evolusi sosiologi kemasyarakatan (Agraris, Indrustrialis, dan Globalisasi). "Sekarang kita berada pada era Globalisasi, kita dituntut untuk dapat bersaing secara global. Oleh karena itu, saya berharap kader-kader IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan mampu untuk itu. Salah satu kuncinya adalah mampu berkomunikasi dengan baik. Komunikasi adalah kunci menguasai dunia. Kegiatan Latfas I ini semoga berhasil mewujudkan Fasilitator IPNU IPPNU yang mampu berkomunikasi dengan baik dalam rangka kaderisasi dan mengembangkan potensi serta kapasitas anggota dan kader IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan", tandas Wakil Ketua PC NU Kabupaten Pekalongan Drs. H. Imronudin Usman, MSi.
(Ab)


Selasa, 01 November 2016

Hasil Lomba Lintas Alam DKC CBP KPP IPNU IPPNU Kab.Pekalongan


Kedungwuni - Pelajar Kota Santri 

Kegiatan Lintas Alam yang diadakan oleh DKC CBP KPP IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan pada hari Minggu (30/10/2016) menjadi kenangan tersendiri bagi beberapa DKAC yang ada di kabupaten Pekalongan. Pasalnya dalam kegiatan lintas alam tersebut dipilih regu DKAC CBP KPP terbaik dengan berdasarkan atas penilaian dari tim panitia. 

Pada kegiatan tersebut DKAC CBP Buaran dan DKAC KPP Kedungwuni I berhasil menjadi regu DKAC terbaik. Berdasarkan penuturan Komandan CBP IPNU Kab.Pekalongan Rekan Yasfiudin bahwa dalam kegiatan lintas alam ini kami sediakan pos-pos yang kami bagi pada rute sepanjang 17 km. Adapun aspek penilaian yang menjadi dasar panitia dalam menentukan regu terbaik adalah : kesesuaian pakaian seragam, pengetahuan materi (ipnu,ippnu,cbp,kpp), wawasan kebangsaan, teori fun outing, PBB, serta kecepatan waktu. "Saya berharap melalui kompetensi ini akan menambah semangat anggota dalam meningkatkan kualitasnya" demikian imbuhnya.

Berikut hasil lengkap lomba lintas alam dalam rangka hari lahir Corps Brigade Pembangunan :
- DKAC CBP Terbaik 1 : DKAC CBP Buaran
- DKAC CBP Terbaik 2 : DKAC CBP Tirto II
- DKAC CBP Terbaik 3 : DKAC CBP Kedungwuni II 

- DKAC KPP Terbaik 1 : DKAC KPP Kedungwuni I
- DKAC KPP Terbaik 2 : DKAC KPP Karanganyar
- DKAC KPP Terbaik 3 : DKAC KPP Buaran

Selamat pada regu yang berhasil meraih juara, Jayalah CBP KPP IPNU IPPNU Kabupaten Pekalongan. /(Ab)

Terpilih Ketua IPNU, Faisal Siap Bawa PAC Petungkriyono Lebih Baik

  Petungkriyono    - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecam...