Akhir-akhir ini di masyarakat sering dijumpai orang meninggal. Memang
sebenarnya kehidupan dan kematian adalah dua hal yang pasti dialami manusia,
jika ada hal yang hidup, maka barangtentu dia bakal mati. Namun kematian
seseorang akan menjadi berarti ketika kita mau memahami dan memetik hikmah dari
kematian tersebut, bukan malah kita terus dirundung kesedihan atas terpisahnya
komunikasi dengan dirinya.
IPNU sebagai wadah organisasi pemuda dan pelajar selayaknya harus pandai
mensikapi segala problematika dan hegemonik masyarakat indonesia, terlebih lagi
indonesia yang kian hari semakin diwarnai oleh agama, kepercayaan, dan
ormas-ormas agama yang menambah catatan sikap intoleransi bagi indonesia.
Tetapi ipnu sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama pastinya harus memegang teguh
prinsip-prinsip dasar NU contohnya sikap ta’awun atau saling tolong menolong.
Dalam bersikap ta’awun seorang anggota IPNU ketika menghadapi fenomena
kematian seseorang haruslah tumbuh rasa untuk saling gotong-royong dan menolong
keluarga yang ditinggalkan (shohibul musibah). Cara nyata yang harus
dibiasakan oleh kader IPNU adalah kita berta’ziyah dan membacakan yasin tahlil
dihadapan mayit bersama-sama secara berjama’ah. Hal ini pula yang sering
dilakukan oleh salah satu PAC IPNU IPPNU Kecamatan kedungwuni ketika mendapati
anggota keluarga kader IPNU yang meninggal untuk kemudian dikordinasi
berta’ziyah bersama.
Memang hal ini terlihat sepela dan biasa saja. Namun sebenarnya jika kita
mau beristiqomah dalam melakukan hal tersebut bisa menjadi media syi’ar IPNU
kepada masyarakat bahwa seorang kader memegang teguh dalam menjaga tradisi dan
amalan yang telah diturunkan secara turun menurun oleh para wali songo. Selain
itu sebagai sarana menumbuhkan jiwa sosial kepada kader agar ikut merasakan
duka seseorang yang ditinggal anggota keluarga dan mengingat-ngingat akan
kehidupan yang fana ini dan akan mati berpindah ke alam akhirat yang kekal
abadi.
Oleh departemen
dakwah dan pengabdian masyarakat PAC Kedungwuni

Tidak ada komentar:
Posting Komentar