Pendidikan
atau dalam bahasa Arabnya disebut
Tarbiyah , merupakan hal yang berbeda dengan
pengajaran pengetahun .
Pengajaran
pengetahuan-Ta'lim lebih menekankan penguasaan intelektual semata
(Al-Faqih).
Sedangkan
pendidikan , memiliki daya cakup yang lebih luas dari itu .
Tidak
hanya penguasaan intelektual (Tafaqqohu fiddiin) , juga kematangan spiritual
ruhaniyah (iman dan taqwa) yang memiliki tujuan untuk mencapai tingkatan
tertinggi , Sa'adatuddarain (Bahagia dunia dan akhirat). Yang di dalam sila
pertama Pancasila berbunyi, Ketuhanan yang maha Esa.
Sejauh
kultur yang berkembang di masyarakat , khususnya negara Indonesia , komunitas
pondok pesantrenlah yang masih mempertahankan pola itu , diakui atau tidak . Namun , bukan hal yang mustahil
dikalangan komunitas lain ,misal intitusi sekolah,pemerintah atau lingkungan
masyarakat umum untuk menerapkan pola pendidikan yang semestinya .
Melihat betapa pentingnya pendidikan bagi masyarakat ,
tentu utamanya harus menjadi cambuk
semangat bagi para pelajar , khususnya pelajar muda Nahdlatul Ulama' -dalam hal
ini IPNU, untuk lebih giat mengexplore halhal yang bersifat pengetahuan dan
juga problem waqi'iyyah (kekinian) yang sedang terjadi , melalui pola
pendidikan yang berasaskan Pancasila dan UUD 45' , berkepribadian Indonesia ,
serta system tata aturan yang disandarkan kepada syariat Islam.
Sebab , pendidikan yang sukses (Pancasila-UUD45' yang
dipadukan dengan Syari'at Islam) , akan
membuahkan hasil berupa moralitas manusiawi yang lebih baik -dalam bahasa
santri disebut Akhlaqul Karimah , serta menumbuhkan etos kerja tinggi yang
dalam Al-Qur'an disebut sebagai Ibtiha' Fadhlillah ( Secara optimal mencari
anugrah Allah atau secara umum disebut sebagai amal shaleh ). Atau, sebagaimana tercantum dalam sila
ke-dua , kemanusiaan yang adil dan beradab. Sebagaimana risalah pertama yang
diturunkan kepada Rasululloh SAW , yaitu liutammima makaarimal akhlaq
(membenahi moralitas).
Rasululloh
mencontohkan pola pendidikan yang sempurna kepada masyarakat pada waktu itu . Karena , bagaimana mungkin citacita luhur -seperti
pengembangan kemajuan SDM dan SDA akan tercapai jika masyarakatnya tidak
memiliki moralitas dari hasil pendidikan yang diidamidamkan .
Oleh
sebab itu , ini merupakan pr besar bagi keberadaan pelajar -khususnya pelajar
muda NU , untuk menjadi inisiator, motivator, juga fasilitator dalam segala
bentuk penerapan pendidikan .
Pelajar
NU harus menjadi yang terdepan , tidak hanya dalam penguasaan intelektualitas
namun juga spiritualitas ruhaniyah yang matang .
Sehingga
peran pelajar sebagai komunitas terbesar dimasyarakat , tidak hanya dalam
penguasaan pengatahuan saja, tapi juga dalam pengelolaan dan partisipasi penuh
terhadap nasib masyarakat yang didasarkan pada kesadaran diri mengemban amanat
Allah SWT yang harus dipertanggung jawabkan dengan baik . Termaktub dalam sila
ketiga yang berbunyi persatuan Indonesia.
Kita
bisa lihat , betapa banyaknya kebrorokan moral di kalangan komunitas elit
misalnya, seperti korupsi . Jika sadar betul , sesungguhnya ini adalah cermin
dari pendidikan yang gagal . Sebab , meskipun mereka para koruptor itu memiliki
penguasaan intelektual yang luar biasa , tapi tidak diimbangi spiritualitas
ruhaniyah yang matang , mengakibatkan hilangnya rasa tanggung jawab penuh
terhadap masyarakat luas . Sehingga , mereka tak segan memakan dan mengambil
hak hak yang semestinya di rasakan dan diberikan kepada rakyat . Hal ini
menjadikan kemustahilan untuk mencapai sila ke empat , kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Terakhir ,dengan semangat belajar,berjuang,bertaqwa
melalui wadah organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama' di setiap daerahnya ,
kita harus mengupayakan pola pendidikan secara maksimal dan penuh tanggung
jawab serta kesungguhan hati yang terdalam , juga senantiasa melangitkan do'a
dan pengharapan baik , semoga Bangsa Indonesia benarbenar dapat terlepas dan
keluar dari belenggu kegelapan menuju nasib yang lebih cerah dan bermakna , Minadhdhulumaati
ilannuur . Sehingga , bangsa
Indonesia benarbenar dapat mencapai citacita sebagaimana tersebut dalam sila
kelima , yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Aamiin ...
.
.
Muhammad
Wamiq Hammadallah
(Wakil
ketua III PAC IPNU Buaran)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar